Peringatan Hari Purbakala ke-106 yang jatuh pada tanggal 14 Juni diisi dengan berbagai acara. Salah satunya adalah Diskusi Ilmiah Arkeologi (DIA) yang merupakan kegiatan kerja sama antara Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Museum (PCBM) dengan Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI).

Diskusi ilmiah yang mengangkat tema Jalinan Kebhinekaan Cagar Budaya sebagai Identitas Bangsa dilaksanakan hari Rabu, 26 Juni 2019 di Hotel Rich, Jl Magelang Km 6 Yogyakarta. Diskusi dihadiri 200-an ahli arkeologi dari berbagai tempat di Indonesia. Acara ini secara resmi dibuka oleh Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY, Dra Zaimmul Azzah MHum mewakili Direktur PCBM.

Diskusi ini menghadirkan narasumber yang pakar di bidangnya, yakni Prof Dr Hari Truman Simanjuntak dengan materi berjudul Sumbangsih Arkeologi untuk Pendidikan Dasar dan Menengah, Dr Junus Satrio Atmojo dengan materi Pemanfaatan IT untuk Dokumentasi dan Publikasi Cagar Budaya, Dr Sumbo Tinarbuko dengan materi Sampah Visual di Kawasan Cagar Budaya, Drs Sugeng Riyanto dengan materi Rumah Peradaban untuk Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Generasi Muda, Brahmantara ST dengan materi Dokumentasi Cagar Budaya pada Era Digital, Sektiadi MA dengan materi Museum Virtual untuk Generasi Milenial, dan Yoses Tanzaq SS dengan materi Pelestarian Cagar Budaya Berbasis Kebencanaan, Kasus Candi Prambanan dan Sekitarnya.

Para narasumber dan moderator dalam Diskusi Ilmiah Arkeologi di Hotel Rich Jogja-Foto-A.Sartono

Di samping itu di tengah-tengah acara Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Nasional, Drs Surya Helmi juga menyampaikan paparan mengenai kasus pengerusakan situs cagar budaya megalitik di Bondowoso, Jawa Timur. Dengan demikian para arkeolog diminta untuk bersikap.

Wahyu Indrasana selaku Ketua IAAI Komda DIY-Jawa Tengah dalam sambutannya menyampaikan bahwa IAAI dibentuk dengan tujuan untuk menghimpun tenaga ahli arkeologi Indonesia untuk membantu perkembangan ilmu dan pengetahuan arkeologi serta mengabdikan profesi arkeologi bagi kepentingan nasional. Dengan tujuan tersebut, IAAI mengabdikan diri pada ilmu dan pengetahuan arkeologi dengan pemikiran, pendekatan, dan cara-cara ilmiah serta penuh tanggungjawab kepada nusa dan bangsa.

Menurut Wahyu Indrasana tantangan terhadap cagar budaya semakin meningkat setiap tahunnya. Bahkan berpotensi menimbulkan dampak negatif pada kelestarian cagar budaya. Penyebab menurunnya nilai penting cagar budaya antara lain adalah pengembangan dan pemanfaatan yang tidak terkendali. Oleh karena itu Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) menyumbangkan pemikiran untuk pelestarian cagar budaya Indonesia. Beberapa makalah yang dibahas dalam diskusi ini diharapkan dapat menjadi bahan untuk pembahasan yang lebih luas pada Pertemuan Ilmiah Arkeologi dan Kongres IAAI pada tahun 2020 yang rencananya akan diselenggarakan di Yogyakarta.

Para peserta Diskusi Ilmiah Arkeologi di Hotel Rich Jogja berfoto bersama-Foto-A.Sartono

Perlu diketahui bahwa dari hasil registrasi cagar budaya yang terhimpun dalam Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya hingga tanggal 10 Juni 2019 adalah Objek yang Diduga Cagar Budaya (ODCB) terdaftar sebanyak 90.076 objek. Jumlah yang terverifikasi sebanyak 45.035, jumlah yang terekomendasikan sebanyak 1.518, dan jumlah yang ditetapkan adalah 1.455 objek.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here