Puisi Kurnia Effendi

0
82

Aku Sudah Jarang Terpejam
Kecuali pada Sedikit Malam

Kuamati anatomi jam: detik
yang rapuh di tangkai waktu
Tempat mimpi tentangmu itu
tersangkut. Hanya tentangmu

Selalu kubiarkan tanganmu
memijatku. Meluruskan sepasang
belikat, supaya masing-masing
tepat untuk bertumpu payudaramu

Seprai itu tak akan kusut sepanjang
aku bertahan di bawah lampu meja
Menata larik metafora dan mengatur
sejumlah alinea, seperti kutekuni
getar pusarmu – getarbulu matamu

Bagai menyeret abad, kulintasi
gurun yang membentang. Kontur
yang lembut, antara bukit dan
lembah gambut, tebing dan ceruk

Aku semakin jarang terpejam, kecuali
pada sedikit malam. Saat kau bilang
: Hanya sebagai mimpi akan datang

Jakarta, 2018

 

Gouda – Bergen op Zoom

1/
Sudah kita lewati Stadhuis Gouda. Sudah
Tanganmu – seperti pekan lalu – terletak
di pahaku, hampir tanpa pretensi

Huruf-huruf bercahaya hanya lewat
Melenyapkan makna, agar mataku tak gagal
menatap marka jalan

Penyiar radio sesekali membanyol
Apa yang tak lucu kemudian kita bahas
Suaramu mirip kuas, telingaku jadi kanvas

Pada warna merah yang menyala pendar
kuhentikan oto. Mulut kita sempat
saling lekat, untuk bertukar permen

2/
Akan kulewati jalur panjang menuju
Bergen op Zoom. Akan. Setelah kuantar kau
ke serambi rumah yang terang oleh bulan

Tak jarang kita biarkan rindu ini berkarat
Demi menjelma dendam dan punya alasan
melampiaskan. Dengan lebih dari ciuman

Sebentar lagi kesepian melumuri perasaan
Meski sebagian lampu beranjak padam, selalu
sanggup kubayangkan rinci tubuhmu

Mengapa seminggu berisi tujuh hari?
Mengapa? Akan lebih baik atau buruk
jika penciptaan waktu diulang kembali?

Jakarta, 2018

 

Jazz

Misalnya sesayup aroma white musk
melintas pada pukul 2. Membuatku teringat
warna biru samar urat di lehermu

Masih kusimpan kancing bajumu – lupa
kauminta saat kupadamkan lampu
Seperti novel yang dibuka dengan kalimat
tanya: “Apakah selalu kaukenang mataku yang
terpejam, mulutku yang terbuka?”

Konten Terkait:  Puisi Bagus Likurnianto

Perlahan jazz menjauh, menyeberangi
desis gerimis sore

Misalnya lagi, samar kemiri bakar
di antara bayangan pepohon karet yang
condong. Sungguh aku suka rinci perhatianmu
terhadap anyaman jerami dan jumlah rusukku

Semua masih di tempatnya: gincu dan
tisu basah. Seharusnya kau tahu, setelah
pertengkaran itu, ada yang saling merindu

Aku ingin jazz kembali, perlahan, meski
basah kuyup

Jakarta, 2018

 

Namamu

Kaktus terluka
Ditorehnama kita
: Liang kenangan

Sihir dan mantra
Kusebut dalam igau
Benamlah, dalam!

Triwikramamu
Menjadikanku garwa
Julukan mesra

Jika bermula
Genta dari jantungmu
Kekal berahi

Sepotong nama
Saat musim beralih
Luput disebut

Rekahan padma
Mungkin di celah paha
Ujung kembara

Satu per satu
Kenangan yang digerus
Tinggal namamu

Jakarta, 2018

 

Teringat Braga

Tujuh ratus meter ke selatan
jejak kita menimbun tahun
Bila masih terdengar musik kecapi
dari pojok itu:tentu jiwa kita yang
setia menyimpan.

Bahkan derai hujan tak
mampu menghanyutkan

Apa yang berubah setelah
hati kita terbelah? Ada juru rias
wajah yang membuat kota ini
tak kunjung tua

Atau sejak dulu telah renta
Dan kita memujanya
dengan ciuman dan stanza
: Puisi itu makin sepia

Bahkan ribut bunyi klakson
Tak berani menghapusnya

Melangkah kembali, seolah
kugenggam tanganmu: semata
sedang menahan harapan agar tak
punah. Atau jadi sampah sejarah

Jakarta, 2018

 

Kurnia Effendi dilahirkan di Tegal, Jawa Tengah, 20 Oktober 1960. Mengumumkan puisi di media massa sejak 1978. Telah memiliki 5 kumpulan puisi: Kartunama Putih (1997), Mendaras Cahaya (2012), Senarai Persinggahan (2016), Hujan Kopi dan Ciuman (2017), Percakapan Interior (2018), dan Mencari Raden Saleh (2019) yang merupakan himpunan puisi selama residensi di Negeri Belanda pada 2017.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here