Kartosoewirjo Mimpi Negara Islam

0
42

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo lahir di Cepu, Jawa Tengah, 7 Januari 1907. Ayahnya adalah mantri candu bernama Kartosoewirjo. Keluarga Kartosoewirjo tergolong priyayi feodal abangan bukan pemeluk Islam taat. Masa kecil SM Kartosoewirjo tidak akrab dengan pendidikan agama Islam. Sekolahnya juga di sekolah Belanda.

Di masa remaja SM Kartosoewirjo mulai tertarik pada dunia pergerakan dengan pemikiran kebangsaan tetapi cenderung ‘kiri’. Ia banyak membaca buku sosialisme yang diperoleh dari pamannya Mas Marco Kartodikromo. Pengetahuan agama Islam praktis diperoleh secara otodidak, melalui literatur berbahasa Belanda dan persentuhan dengan sejumlah kiai. Antara lain Notodihardjo (aktivis Partai Sarekat Islam dan Muhammadiyah di Bojonegoro) dan Haji Oemar Said Tjokroaminoto (tokoh pergerakan dan agama Islam, tinggal di Surabaya). Tjokroaminoto adalah gurunya dalam bidang keagamaan dan pergerakan.

Pada tahun 1929, karena dianggap sudah ‘lulus’ dalam belajar masalah politik dan agama, SM Kartosoewirjo dikirim ke Malangbong, Garut, Jawa Barat. Di Malangbong inilah ia semakin memperdalam masalah keislaman. Sekaligus berkiprah dalam bidang keagamaan, politik maupun pendidikan. Ia bahkan sempat mendirikan Institut Suffah, pesantren yang mengajarkan agama, politik dan kemiliteran.

SM Kartosoewirjo mengemukakan gagasan tentang negara Islam pada Agustus 1945. Saat itu ia menjadi Sekretaris Partai Masyumi Jawa Barat. Meskipun gagasan ini ditolak, tetapi mendapat dukungan banyak ulama di Jawa Barat.

Perlawanan SM Kartosoewirjo secara lebih terbuka bermula ketika Indonesia menandatangi perjanjian Renville, 17 Januari 1948. Salah satu butir perjanjian tersebut adalah penetapan garis Van Mook. Konsekuensinya semua tentara Indonesia harus keluar dari wilayah Jawa Barat yang menjadi daerah kekuasaan Belanda. Kartosoewirjo kecewa. Ia bersama pasukan Sabilillah dan Hizbullah yang mendukungnya menolak hijrah ke Jawa Tengah seperti Divisi Siliwangi.

SM Kartosoewirjo memanfaatkan ‘kekosongan’ kekuasaan di Jawa Barat ini untuk melaksanakan cita-citanya. Puncaknya, pada tanggal 7 Agustus 1949, di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, ia mendeklarasikan Negara Islam Indonesia (NII) atau Darul Islam (DI). Tentaranya disebut Tentara Islam Indonesia (TII). Sehingga gerakan ini lebih dikenal dengan DI/TII. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk menghentikan, tetapi gagal. Termasuk upaya melalui Muhammad Natsir, yang sama-sama orang Masyumi dan pernah bertemu beberapa kali di masa lalu.

Karena upaya damai gagal, akhirnya pasukan atau tentara Indonesia bertindak. Beberapa kali terjadi baku tembak. Baku tembak sebenarnya sudah pernah terjadi sebelum Kartosoewirjo mendeklarasikan NII. Pertama kali terjadi pada 25 Januari 1949 di Kampung Antralina, Ciawi, Tasikmalaya. Masing-masing pihak mengklaim diserang duluan. Sejak saat itu bara permusuhan terjadi.

Dilihat dari rentang waktunya ‘gerakan’ ini cukup lama baru dapat dilumpuhkan (12 tahun). Ada beberapa faktor penyebab, di antaranya tentara Negara Islam Indonesia memang liat dan ulet (walaupun persenjataan ‘ala kadarnya’, logistik terbatas) dengan loyalitas tinggi, serta ada beberapa desa atau wilayah yang ‘mendukung’ DI/TII. Sedangkan fokus tentara Indonesia juga terbelah (menghadapi musuh dari dalam dan luar). Melalui operasi pagar betis yang melibatkan berbagai pihak termasuk rakyat sipil, akhirnya SM Kartosoewirjo tertangkap pada 4 Juni 1962. Ia mendapat putusan hukuman mati setelah melalui pengadilan.

SM Kartosoewirjo memang telah tiada. Tetapi tidak mustahil masih ada pihak-pihak tertentu yang berkeinginan meneruskan cita-citanya, yaitu terbentuknya negara Islam. Entah dengan jalan damai maupun kekerasan. Hal ini tentu saja tidak bisa dibiarkan dan negara mempunyai kewajiban untuk mencegahnya.

Judul : Kartosoewirjo. Mimpi Negara Islam
Penyunting : Nugroho Dewanto, Redaksi KPG
Penerbit : KPG + Tempo Publishing, 2016, Jakarta
Bahasa : Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here