Masa lalu yang dikatakan sebagai sudah lewat, sudah lampau, barangkali tidak sepenuhnya hilang, dalam memori. Tak pelak manusia sering tanpa disadari tetap tidak pernah lupa begitu saja akan masa lalunya. Bahkan pada suatu ketika ingin mengingatnya kembali. Membangkit-bangkit lagi.

Oleh karena itu pula apa yang disebut sebagai reuni sering mendapatkan tanggapan yang antusias. Apa yang lalu dan telah menjadi kenangan sering menjadi catatan yang tanpa disadari menjadi romantis.

“To Remember”, itulah tajuk yang diangkat oleh dua perupa, Kusbudiyanto dan Haryo SAS dalam pameran mereka di Bentara Budaya Yogyakarta pada 22-30 Juni 2019. Tajuk ini seperyti mengajak apresian untuk menengok catatan-catatan pengalaman kedua perupa baik di masa kecil, remaja, dewasa yang telah dilaluinya. Mengingat kembali suka duka perjalanan hidup mereka.

Praise 2, 90×70 Cm, 2019, acrylic on canvas, karya Haro SAS-Foto-A.Sartono

Karya mereka merupakan representasi situasi dan kondisi masyarakat di mana mereka tinggal. Sementara itu lukisan dan drawing Haryo SAS merupakan hasil dari kontemplasi terhadap pengalaman batin dalam menghayati pergumulan rohani yang dipadukan dengan metafora pengalaman hidup sehari-hari. Demikian salah satu ulasan dari Regina Bimadona selaku penulis pengantar atas pameran ini.

Doa 2, 46×39 cm, 2018, pencils on paper, karya Haryo SAS-Foto-A.Sartono

Kusbudiyanto telah malang melintang di dunia handicraft sejak 13 tahun yang lalu. Karya-karya handicraft-nya banyak yang dipasarkan lewat media online. Tahun 2014 ia menemukan kesempatan untuk kembali pada passion-nya yang tidak bisa tersalurkan sejak masa kanak-kanak dan kemudian bisa fokus untuk mengembangkan bakatnya menjadi pelukis. Oleh karena ia bekerja paruh waktu, maka Kusbudiyanto mempunyai waktu yang cukup untuk menuangkan ide dan kreativitasnya. Sejak saat itu ia melukis menjadi pilihan baginya untuk menuangkan ide-ide yang selalu muncul di kepalanya dan ia benar-benar menikmatinya.

Melalui karya-karyanya itu kedua seniman tersebut dapat diketahui sejauh mana kekayaan dan keluarbiasaan Tuhan dengan cipta karyanya itu menginspirasi karya mereka. Itu semua bukti kekaguman dan kepekaan mereka menangkap kebesaran Tuhan melalui karyanya yang oleh mereka dituangkan dalam karya rupanya. Dari sana pula dapatlah diketahui bahwa Tuhan tidak hanya membuat semua itu ada, tetapi juga melengkapinya dengan berbagai fungsi dan peran untuk saling bertalian satu sama lain. Bahkan saling tergantung dengan sifat dan fungsinya masing-masing. Semua itu tercermin dalam karya-karya mereka.

Suasana pameran To Remember di BBY-Foto-A.Sartono

Karya-karya Haryo SAS tampak lebih kuat pada corak drawing. Garis dan arsirannya detail sesuatu kontur dan gelap terang yang diinginkan objek. Kusubudiyanto kuat pada corak dekoratif dengan detail-detail “isian” dan permainan warna yang rapi. Ketika keduanya “menuju” corak yang agak berbeda, karya yang berbeda itu seperti relatif sulit dikenali sebagai karya Haryo SAS maupun Kusbudiyanto.
(*)

*Featured Image: Jogja’s Identity, 150×90 cm, 2017, acrylic on canvas, karya Kusbudiyanto – Foto: A.Sartono

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here