Para penyair dari berbagai kota, dan dari Malaysia, sedang melakukan ziarah, sebut saja mereka sedang melakukan ziarah sastra, dan perjalanan ziarah itu berakhir di Sastra Bulan Purnama edisi 93, Sabtu, 26 Juni 2019 di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Para penyair membacakan puisi karyanya yang terkumpul dalam antologi puisi ‘Cincin Api’, dan sekaligus diluncurkan di Sastra Bulan Purnama. Penyair dari Sumatera Barat, Syarifuddin Arifin membacakan puisi karyanya dengan ekspresif. Terasa sekali bahwa dia sudah memiliki pengalaman panggung, dan tentu saja sudah sering membaca puisi di pangung-panggung sastra.

Dheni Kurnia, dari Riau membacakan puisi yang ada dalam buku puisi tunggal karyanya yang berjudul ‘Bunita’. Buku ini mendapat penghargaan Hari Puisi Indonesia 2018. Mengenakan kaos warna merah dan kepalanya ditutupi topi, Dheni membaca dengan sungguh-sungguh, kadang suaranya keras, seolah sedang mengeksprsikan kalimat dalam puisinya.

“Buku puisi saya ini, saya cetak 1.500 eks dan sudah habis, hanya tinggal 1 buku puisi yang saya bawa, dan ini satu-satunya buku puisi yang saya miliki, dan akan saya serahkan ke Mas Ons Untoro. Karena buku saya ini akan dicetak lagi,” kata Dheni Kurnia.

Ummi Risa, foto Indra

Seorang sastrawan dari Malaysia Yassinsaleh namanya, tampil mengalunkan lagu puisi karyanya, tetapi tidak diambil dari buku antologi puisi ‘Cincin Api’, karena dia tidak ikut menulis dalam antolog puisi.

“Karena saya mau jujur, sebab tidak memiliki pengalaman dalam erupsi Merapi, maka saya memilih tidak ikut antologi puisi Cincin Api. Saya tidak mau menulis puisi sekaligus berbohong,” kata Yassinsalleh.

Selain pembacaan puisi, dihadirkan juga pertunjukan pantomim, dari seorang pantomimer dari Sumatera Barat, Rhamanda Yudha Pratomo, yang akrab dipanggil Yuda. Pantomin yang dia mainkan menyajikan kisah mengenai kerusakan lingkungan. Yuda, melalui gerak-gerak yang dia tampilkan, mencoba menyajikan detail apa yang dia maksud sebagai kerusakan lingkungan, dan melalui pertunjukannya dia merasa memiliki kepedulian terhadap kerusakan lingkungan itu.

Tidak ketinggalan, dua lagu puisi mengalun di Sastra Bulan Purnama, seperti kebiasaan SBP, kependekan dari Sastra Bulan Purnama, selalu ada pertunjukan musikalisasi puisi atau lagu puisi. Kali ini, lagu puisi dialunkan oleh Daladi Ahmad, seorang penyair dari Magelang, yang sehari-harinya bekerja sebagai guru SMP. Dia sudah berulangkali tampil mengalunkan lagu puisi di Sastra Bulan Purnama.

Yudha. foto Indra

Penampil yang lain, pembaca puisi sambil diiringi musik tardisional, yang dimainkan oleh Otok Bima Sidharta mengiringi pembaca puisi Choen Supriyatmi, yang membacakan dua puisi, satu puisi karya Iman Budhi Santosa dan satu puisi karya Bambang Widiatmoko.

Perempuan penyair dari Jawa Barat, yang puisinya ada dalam buku ‘Cincin Api’ Ummi Risa namanya, ikut tampil membacakan puisi karyanya. Dua puisi Ummi Risa yang ada dalam buku “Cincin Api’ berjudul ‘Percakapan Erupsi dan Merapi’ serta ‘Gending Layun Gunung Wutoh’.

Puisi ‘Cincin Api’ dimaksudkan untuk merespon gunug api yang ada di Indonesia, bukan hanya erupsi Merapi yang ada di Yogyakarta, tetapi gunung api yang bisa dijumpai di daerah-daerah lain di Indonesia.

“Meskipun banyak puisi yang merespon erupsi Merapi di Yogyakarta, tetapi sesungguhnya yang dimaksudkan setiap penyair bisa menggali segala segi gunung api yang ada di daerah masing-masing penyair,” ujar Iman Budhi Santosa, seorang penyair dan sekaligus bertindak sebagai kurator dari buku ‘Cincin Api’. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here