Empat perupa perempuan yang masing-masing memiliki kekhasan karya berpameran bersama di RuangDalam Art House. Mereka adalah Bunga Yuridespita, Desy Gitary, Laksmi Sitoresmi, dan
Theresia Agustina Sitompul. Para perupa yang terus konsisten mencipta karya seni rupa.

Kekonsistenan mereka pula yang menjadi salah satu alasan RuangDalam, Yogyakarta, mengundang mereka untuk berpameran terkait perayaan 80 tahun tokoh seni rupa Oei Hong Djien (OHD). Menurut kurator Bayu W, “laku” yang mereka jalankan adalah wujud konsistensi sebagai seniman yang memproyeksikan pemikiran-pemikiran dan nilai-nilai melalui karya seni rupa. “Keempat seniman ini telah menentukan ‘arahnya’”, ujar Bayu.

Di sisi lain, Bayu menambahkan bahwa OHD adalah salah satu arah ‘mata angin’ kolektor Indonesia yang konsisten mengapresiasi dan mengoleksi karya-karya seni rupa seniman Indonesia. Baik ‘laku’ OHD maupun keempat perupa tersebut, menurut Bayu, semuanya berdasarkan kecintaan dan ketekunan. Karena itu, jelas Bayu, yang ingin dihadirkan pameran ini adalah “spirit keberadaan” OHD. Sebagai spirit dalam pameran ini tidak terdapat bentuk visual wajah atau figur OHD, jadi melampaui hal-hal yang bersifat fisik. Yang diharapkan muncul, kata Bayu, adalah ‘rasa hormat’, bukan pengkultusan atau sikap ‘menjilat’.

Desy Gitary, ‘Beautifully Bored’, 150x120cm, acrylic & pencil on canvas, 2019 – Foto Barata

Nuansa kehidupan terasa dalam sebagian karya-karya perupa ini. Theresia Agustina Sitompul menampilkan karya-karya grafisnya. Empat panel karyanya ‘Menabur Benih’, yang tebuat dari linocut on hidrophile gauze cotton, menampilkan seorang perempuan yang menyebar dan menanam benih sehingga kemudian tumbuh sebatang pohon. Karyanya yang lain berupa lima panel tiga dimensi yang bertajuk ‘Jejak dalam Rumah’, dengan bahan kuningan, gipsum, semen, dan kaca.

Laksmi Sitoresmi menampilkan dua karya berjudul sama. ‘My Soul and Mine’, namun dengan dimensi dan bahan yang berbeda. Yang pertama adalah karya tiga dimensi yang terbuat dari aluminium casting dan polyurethane painted, berupa lima sosok manusia berleher panjang yang berwarna putih dengan elemen kepala yang berbeda-beda. Mulai dari sebutir telur di atas kepala yang mengesankan penting dan rawannya apa yang disangga, telinga lebar seperti Mickey Mouse, burung beo yang bertengger di kawat melengkung di atas kepala, sampai buah apel di atas kepala yang mengingatkan pada pertaruhan sasaran panah berisiko ala William Tell. Karya-karya Laksmi lazimnya dikenal memiliki perspektif perempuan yang kuat. Demikian pula karya ini.

Konten Terkait:  Museum Garuda, Tempat Burung Garuda Singgah
Laksmi Shitaresmi, ‘My Soul and Mine’, pencil, charcoal, drawing pen, acrylic on canvas, 115x50cm, 2019 – Foto Barata

Karya Laksmi lainnya berupa lukisan dua dimensi dengan bahan pensil, arang, drawing pen, dan cat akrilik di atas kanvas. Ia menampilkan sosok imajinatif yang memancarkan ekspresi sendu, yang terkesan memiliki banyak kemampuan dan banyak tugas namun tidak leluasa bergerak karena diikat dan diawasi.

Desy Gitary, yang dikenal dengan goresan drawing-nya yang kuat, kali ini menampilkan lukisan cat akrilik, meski tetap memakai pensil. Gaya drawingnya yang ekspresif masih ditemukan dalam sapuan-sapuan cat yang ekspresif. Sebagiannya mengarah pada abstrak figuratif. Ketiga lukisannya berjudul ‘Sacred Lips’, ‘Beautifully Bored’, dan ‘Let me fix you with a dance’. Yang terakhir ini, selain cat akrilik dan pensil, Desy juga memakai cat semprot.

Theresia Agustina Sitompul, ‘Menabur Benih’, linocut on hidrophile gauze cotton, 90x60cm (4 panel), 2018 – Foto Barata

Bunga Yuridespita bermain dengan gaya geometris. Menurut Bunga, karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini merupakan citraan foto garis jalanan yang diambil dari sudut pandang burung (fotografi aerial), yang direduksi menyisakan komposisi harmonis di atas kanvas.

Komposisi ini, menurutnya, diperoleh dengan metode kolase yang terdorong dari perenungan eksistensialis personal seputar hubungan antar manusia dengan ruang, menanggapi dan mengolah apa yang luput dari keseharian manusia dalam menanggapi ruang, serta mengenai tubuh dan ruang yang berada dalam dialog, yang menyisakan memori yang membentuk identitas tiap individu. Tiga karyanya dibuat dengan cat akrilik di atas kanvas, masing-masing berjudul ‘Childhood Amnesia #2’, ‘Childhood Amnesia #3’, dan ‘Tahkkitome’. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here