Cahaya Novan kembali berpameran tunggal yang ke-6 kalinya. Kekuatan warna Novan terasa dalam banyak lukisannya. Pada pameran tunggalnya tahun 2017 warna-warna candy yang memikat terasa mencolok pada sejumlah manekin yang dipoles dengan rapi dan cantik. Sedangkan pada 2019 ini goresan dan warnanya lebih bebas dan lepas.

Lukisan-lukisan Novan kebanyakan abstrak dalam kanvas yang kecil. Beberapa di antaranya jelas figurnya namun dengan gaya naif kekanakan. Sebagian lukisannya dibubuhi tulisan verbal yang merujuk pada alam. Pada pameran bertajuk ’30 Hari Mencari Alam’ di Miracle Prints, Yogyakarta, ini, alam memang menjadi sorotan Novan.

Karya-karya Cahaya Novan (1) – Foto Barata

Perupa Arif Hanung yang pernah berpameran bersama Novan menulis di pengantar pameran bahwa Novan yang tinggal di bantaran Sungai Kalibayem sejak tahun 2003-an banyak menyaksikan fenomena alam di lingkungannya. Ketika musim penghujan tiba, Hanung mencontohkan, volume air sungai meluap sehingga membuat beberapa rumah tetangganya kebanjiran.

Pun ketika Novan melihat berita tentang bencana alam, terkadang didorong kepekaannya, ia spontan menggoreskan perasaannya ke dalam karya, baik itu kertas ataupun kanvas. Menurut Hanung, hal ini dilakukan Novan sebagai bentuk penolakannya secara horizontal terhadap pola perilaku manusia yang menyebabkan bencana. Bahkan secara vertikal Novan mengadukan keberatan tersebut kepada Sang Pencipta.

Dengan tema ’30 Hari Mencari Alam’, lanjut Hanung, Novan meminjam istilah “sebulan penuh berpuasa”, yang jumlahnya pun 30 hari. Novan berusaha mendokumentasikan proses ritualnya tersebut, gagasan atas fenomena-fenomena yang ia temukan, khususnya akhir-akhir ini. Karenanya, kata Hanung, dalam pameran ini Novan membicarakan tentang hujan, air, tanah, udara, pepohonan, bebatuan dan unsur alam lainnya, serta hubungan pola perilaku manusia dengan alam, dan bagaimana efeknya terhadap alam.

Karya-karya Cahaya Novan (4) – Foto Barata

Memang benar yang dikatakan Hanung, saat menikmati lukisan-lukisan Novan, tertangkap ungkapan utamanya tentang Tuhan dan alam. Tulisan verbal Tuhan ditoreh di beberapa kanvasnya, termasuk dengan huruf awal ‘t’ kecil. Malah huruf ‘t’ kecil itu muncul sendirian di sejumlah lukisannya, seperti ingin menunjukkan keberadaannya yang penting. Selain warna dan gambar, tulisan menjadi bagian pokok dari lukisan Novan. Di satu lukisan tanpa gambar, Novan menulis ‘tuhan plastik’ dengan warna biru berlatar warna coklat (tanah) dimana tulisan ‘tuhan’ dicoret garis merah.

Dalam beberapa lukisannya Novan menampilkan warna-warni terang dan lembut yang menarik, namun ditimpali garis-garis putih atau hitam yang sengkarut, yang mengubahnya dari sekadar indah jadi bermasalah. Gangguan garis yang melingkar ruwet ini menegaskan perspektif Novan. Dalam ironi semacam ini tertangkap kritik sosial Novan. Sebuah lukisannya secara verbal malah menampilkan garis sengkarut yang menimpali tulisan ‘Tuhan’ secara repetitif.

Verbalitas tulisan agaknya menjadi salah satu cara Novan menyampaikan pesan. Tulisan-tulisannya menonjokan elemen-elemen alam dan permasalahannya. Simaklah semua tulisannya: Tuhan, tuhan, gunung, laut, sungai, bunga, rumput, daun, tanah, batu, sawah, hutan, hujan, angin, awan, air, lestari, reboisasi, banjir, tandus, keruh, asap, pembakaran, polusi, plastik, luka, dan excavator. Dengan figur-figur naif, tulisan-tulisan ini mengingatkan pada gaya gambar anak-anak. Namun tentu saja berbeda dengan anak-anak, tulisan-tulisan itu bukan untuk memperjelas gambar tapi untuk mengingatkan tentang permasalahan lingkungan.

Karya-karya Cahaya Novan (3) – Foto Barata

Novan juga bermain dengan warna hitam dan putih. Dengan pembatasan dua warna ini, karyanya menjadi terasa lengang. Misal, hanya coretan dua garis lengkung dan bulatan. Kelengangan juga diciptakan Novan dengan gaya minimalis lewat warna latar putih yang dominan serta tulisan kecil dan 1-2 warna lembut.

Namun karya hitam putih lainnya terasa menyesakkan, dengan gumpalan putih berlatar hitam yang memenuhi kanvas bercampur garis spiral kusut hitam. Tanpa warna lain, lukisan ini menjadi lebih terasa sangar.

Secara keseluruhan lukisan-lukisan Novan yang dipamerkan ini menawarkan pengungkapan ekspresi yang berbeda dengan kebanyakan karya yang ditemukan pada pameran tunggal seni rupa. Apresiasi juga patut ditujukan kepada Miracle Prints yang memungkinkan karya-karya semacam ini dinikmati publik. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here