Sejak dimulai gelar slawatan pada jam satu malam suasana malam midodareni di rumah calon pengantin putri yang bernama Niken Tambagraras justru semakin menarik dan menghibur. Para warga Padukuhan Wanamarta tidak jadi berangkat tidur. Mereka bergegas menuju pendapa padukuhan. Bahkan yang sudah tidur pun terbangun mendengar suara terbangan.

Melihat antusiasme warga padukuhan serta para santri yang ikut duduk bersolawat semakin banyak, Jayeng Raga memerintahkan Jalalodin dan Nuripin untuk mengambil terbang macan garong andalannya, serta tiga terbang yang lain, lima angklung dan satu kendang. Tentu saja suasana tambah semarak dan gayeng. Selingan joged-jogedan, yang dinamakan emprakan, semakin menjadi daya tarik penonton.

Melewati jam dua dini hari beberapa penonton mulai meninggalkan pendapa. Jayeng Raga meminta pertimbangan Kulawirya pamannya untuk melanjutkan acara dengan gending-gending dan tari-tarian, mumpung masih ada waktu sebelum jam tiga pagi. Kulawirya pun menyetujui. Maka diperintahkan untuk menambah instrumen lagi yaitu gender, gambang, rebab, suling dan kendang. Sedangkan sebagai pengganti gong memakai terbang besar si macang garong.

Setelah membawakan gending lompong keli dan petung wulung, ronggeng pun tampil dengan jogedannya. Mendengar gending yang rampak dan joged yang sigrak, penontonpun datang kembali, tua muda besar kecil berjejalan di pendapa. Mendadak mereka bersorak gembira saat Jayeng Raga tampil di atas pentas dengan membawakan tarian beksa Panji Anom Madura.

Salah satu Pecinta macapat dari Rendeng Bantul foto Totok Barata

Kekaguman para penonton kepada ketampanan serta keluwesan gerak Jayeng Raga ditembangkan pada acara macapatan malam Rabu Pon, 11 Juni 2019 di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta, seperti bait berikut ini:

Serat Centhini
Pupuh 356, Pada 299

Langkung bungah-bungah kang ningali
samya eram-eraming kedanan
sakèhe kang nonton kabèh
micarèng jroning kalbu
dhuh bêndaraningong wong sigit
lae-lae saengga
mêmundhuta mring sun
ngong-rewangi raya-raya
numbuk bêntus datan etang kinarikit
tyasingwang tan sumêlang

Penonton semakin gembira
mereka kagum dan tergila-gila
sebagian besar yang melihat
berkata dalam hati
dhuh tuanku yang tampan
betapa beruntungnya jika aku diinginkannya.
jalan terjal berliku akan aku daki
walau hanya dicicipi aku tidak khawatir.

Tampilnya Jayeng Raga yang adalah putra kedua Ki Bayi Panurta, atau adik calon pengantin putri bagaikan magnet yang menyedot perhatian warga Padukuhan Wanamarta, terutama bagi kaum wanitanya. Sampai-sampai mereka rela memasrahkan diri jika diinginkan ‘sang pangeran’ sebagai selir untuk dicicipi.

Pengrawit Laras Ketawang Gamping Sleman foto Totok Barata

Bait-bait macapat dengan tembang dhandhanggula pada bagian akhir serat Centhini jilid 5, satu-satu telah ditembangkan oleh para pecinta macapat.

Dengan dimeriahkan karawitan Laras Ketawang Ambar Ketawang Sleman dan dipandu oleh Herjaka, macapatan tahap 174 Tembi Rumah Budaya diakhiri pada pukul 22.30.

Sugeng kondur pandemen macapat. Semoga selamat sampai di rumah dan selalu sehat walafiat, sehingga dapat berjumpa kembali pada acara macapat selapan hari lagi di Tembi Rumah Budaya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here