Sebanyak sepuluh perupa muda, di antaranya ada yang masih kuliah, berkreasi dengan gayanya masing-masing di Greenhost, Yogyakarta. Tajuk ‘Inside Out’ menjadi landasan yang memberikan kebebasan sepenuhnya bagi mereka untuk menuangkan pikiran dan perasaan secara visual. Sebuah karya seni rupa pada galibnya adalah hasil kreasi dari dalam diri yang ingin diungkapkan dan diekspresikan. Karenanya, proses inside out merupakan keniscayaan dalam berkarya, bukan sebatas keterampilan teknis.

Pengantar pameran yang ditulis Yngvie A Nadiyya menjelaskan bahwa inside merupakan faktor dari dalam yang berhubungan dengan pengalaman estetik, memori, persepsi panjang, inspirasi ketidaksadaran yang tidak dapat diprediksi, dan mungkin juga ada korelasinya dengan ilham. Sedangkan out adalah faktor eksternal yang berhubungan dengan lingkungan sosial dan budaya dari masing-masing seniman.

Kedua hal tersebut merupakan simpul yang terhubung satu sama lain, dan memiliki peran penting dalam proses penciptaan karya. Menurut Nadiyya, dalam pameran ini para perupa sedang melakukan pertunjukannya untuk menaklukkan pemikirannya yang sedang berkecamuk.

Florentina Arum, ‘Engtangled in the Hope of Freedom’, watercolor on paper (cutting), 2019 – Foto Barata

Menyimak karya-karya yang dipamerkan, upaya untuk mengeluarkan apa yang di dalam diri memang terasa. Tidak semua karya diwujudkan dalam ekspresi yang bergejolak, sebagiannya malah tampil cantik dan rapi.

Florentina Arum dan Sandat Wangi masing-masing menampilkan tiga panel karya yang manis, rapi dan soft meski melengkingkan gejolak perasaan dan pikiran mereka atas ketidakadilan gender. Dengan warna lembut cat air di kertas, yang dipotong menjadi karya tiga dimensi, posisi perempuan ditampilkan Arum dengan terbalik maupun terperangkap di tengah elemen tanaman yang cantik.

Karya Sandat Wangi berpola lingkaran yang berbahan akrilik, kertas dan fabrics juga menampilkan karya yang cantik. Sandat melihat bagaimana perempuan sering dijadikan objek tanpa disadari. Kecantikan, keindahan, kesempurnaan dan kriteria perempuan yang didambakan seakan memberi judgement bagi kaum perempuan, bahkan merupakan budaya dan standar masyarakat atas perempuan. Akibatnya banyak perempuan yang berusaha menjadikan dirinya sesuai dengan fantasi visual, serta terkungkung pada ketidaksempurnaan dan kekurangannya.

Mutiara Riswari, ‘Being Woman’, acrylic & ink on canvas, 120x100cm, 2019 – Foto Barata

Karya berperspektif gender lainnya ‘Being Woman’ dengan akrilik dan tinta dari Mutiara Riswari diekspresikan berbeda. Dengan gaya kontemporer, ia menampilkan perempuan yang kuat. Menurutnya, pada saat ini zaman sudah berubah, perempuan semakin memiliki hak atas dirinya sendiri untuk berkembang. Baginya, kekuatan perempuan bukan hanya ada di fisik, melainkan di dalam energi serta pemikirannya.

Sebagian karya mengekspresikan gejolak batin dengan kuat. Salah satu karya yang menonjol adalah ‘Adhesions’ karya Reza F Abiyyu yang menggunakan bahan clay, color oxide dan resin di atas kanvas. Reza menjelaskannya cukup rinci. Ia memakai tanah liat yang telah disapu dengan tangan dan gerak badan untuk mentransfer apa yang dirasakannya agar menyatu di atas kanvas.

Ia memberi warna sedemikian rupa dan menyiramnya dengan resin sehingga memunculkan efek retak pada tanah liat tersebut, seperti tanah yang kering namun basah, terlindungi namun rusak. Pelekatan dua material yang berbeda dan anomali ini, menurutnya, menggambarkan proses dan hasil dari sebab dan akibat yang muncul karena hubungan antara manusia, alam dan Tuhan.

Reza F Abiyyu, ‘Adhesions’, clay, color oxide & resin on canvas, 100x100cm, 2019 – Foto Barata

Pelekatan ketiga hubungan tersebut, bagi Reza, menimbulkan sebab akibat yang seharusnya tidak terjadi, namun seakan dibiarkan dan memang pasti terjadi. Pada akhirnya sebab akibat ini menimbulkan kegelisahan mendalam, perasaan yang irasional tentang sebab akibat yang dihasilkan dari hubungan ketiganya dan siapa/apa yang paling berkehendak dan menghendaki. Karya ini mencoba menyampaikan kegelisahan dan perasaan irasional tersebut.

Karya ekspresif lainnya adalah lukisan Suyudana Sudewa, yang masih bersetia menjadikan wajah sebagai subject matter yang dilukis dengan abstrak ekspresif. Lukisan berjudul ‘Vid’ ini memadukan cat akrilik, cat minyak, dan arang yang menguatkan tampilan gejolak rasa Suyu. Lewat lukisan ini, Suyu mengingatkan agar kita senantiasa melihat ke dalam diri, sehingga menyadari pikiran kita, dan tahu mana yang harus diekspresikan.

Suyudana Sudewa, ‘Vid’, acrylic, charcoal & oil on canvas, 80x120cm, 2019 – Foto Barata

Perupa lain yang ikut berpameran adalah I Putu Yudhi Aditya, Ruthy Lilipaly, I Made Surya Subratha, I Wayan Dwima Adinatha, dan Bernandi Desanda.

Tajuk ‘Inside Out’ meski mungkin terkesan klise namun justru merupakan dasar penting bagi perupa dan publik. Sebuah karya bukan sebatas hasil akhir namun bagaimana prosesnya sangatlah penting. Dengan tajuk ini, perupa menyadari bagaimana perasaannya dan apa yang menjadi konsepnya, yang kemudian diwujudkan dalam karya, disertai penjelasan terhadap publik. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here