Prawirotaman, Kisah Hilangya Kampung Batik di Yogyakarta

0
40

Keberadaan Kota Yogyakarta terkait dengan Keraton Yogyakarta yang diawali dengan Perjanjian Giyanti. Wajah Kota Yogyakarta terbentuk dan diwarnai oleh banyak hal. Pembangunan yang dilakukan penguasa keraton, pengaruh dari luar seperti Belanda, Jepang, Inggris, Cina, Arab dan lain-lain.

Pembangunan dan pengaruh yang dilakukan penguasa keraton, salah satu jejaknya adalah pada nama-nama kampung yang dipakai. Salah satunya adalah Kampung Prawirotaman, yang berjarak sekitar 5 km dari pusat Kota Yogyakarta atau 2 km dari kawasan Keraton Yogyakarta. Memiliki luas sekitar 17 hektare, secara administrasi termasuk wilayah Kelurahan Brontokusuman Kecamatan Mergangsan.

Kampung Prawirotaman mempunyai gambaran sebuah kampung yang dikepung hotel, maupun bangunan/fasilitas lain yang menunjang. Hal ini tentu saja tidak lepas dari sejarah perjalanan kampung tersebut.

Sekitar abad ke-19 terdapat kawasan hunian di sebuah perkampungan yang dihuni oleh prajurit keraton yang bernama Prawirotomo. Mereka ikut berperang melawan Belanda. Hal ini mendapat perhatian tersendiri dari sultan, sehingga diberi tempat/tanah di bagian selatan keraton. Tempat ini kemudian disebut Prawirotaman, dari kata Prawirotomo. Merupakan tempat tinggal pajurit Wirotomo dan keluarganya.Dari kata Prawirotomo muncul nama atau tokoh seperti Suroprawiro, Werdayaprawiro, Mangunprawiro, Mertopawiro, Gondoprawiro.

Di samping sebagai abdi dalem prajurit Prawirotomo, mereka (bersama keluarganya) juga mengembangkan seni batik. Awalnya hanya dipakai sendiri, lambat laun berkembang menjadi usaha ekonomi. Para prajurit ini menjadi juragan batik yang dteruskan anak cucunya.

Usaha batik ini mengalami masa kejayaan sekitar tahun 1950 – 1960-an. Prawirotaman pun mendapat sebutan kampung batik. Setelah itu meredup bahkan ‘mati’. Penyebabnya antara lain dicabutnya subsidi mori dari pemerintah, membanjirnya batik printing, dan perubahan cara berpakaian masyarakat.

Untuk mempertahankan ekonomi, masyarakat Prawirotaman banting stir, membuat bisnis kos-kosan atau pondokan, menjadi pedagang telur dan terakhir menekuni bisnis penginapan atau hotel. Perubahan ekonomi ini telah menghilangkan banyak modal dan penanda budaya kampung. Rumah-rumah batik khas rumah Jawa hilang berganti bangunan modern, tradisi seperti saling berkumpul, gotong royong, perkumpulan kesenian telah banyak berkurang bahkan hilang. Dan ciri khas sebagai kampung batik yang dulu merupakan trade mark pun hilang.

Pada masa perjuangan melawan Belanda (tahun 1948-an) banyak warga kampung yang ikut berjuang dengan membentuk laskar yang dikenal dengan nama “Hantu Maut”. Untuk mengenang perjuangan tersebut dibuat monumen pasukan Hantu Maut.

Judul : Dinamika Kampung Kota. Prawirotaman dalam Perspektif Sejarah dan Budaya
Penulis : Sumintarsih, Ambar Adrianto
Penerbit : BPNB, 2014, Yogyakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : x + 148

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here