Dunia seni rupa di Yogyakarta tidak pernah mandek. Bukan saja sebatas terus berjalan namun semakin beragam. Banyak perupa yang mengembangkan kemungkinan teknik dan visualnya, terutama para perupa muda. Persoalan kebaruan memang selalu muncul dalam dunia seni, termasuk seni rupa. Tanpa mengklaim soal orisinalitas, yang jelas upaya-upaya untuk menciptakan karya yang khas memang merupakan tantangan kreatif yang serius.

Upaya tersebut tampak pada pameran bertajuk ‘New Wave’ di galeri Langgeng Art Foundation yang menampilkan karya-karya 19 perupa muda. Setidaknya mereka menempuhnya dengan cara tutur yang tidak konvensional meski bukan berarti yang pertama. Sebagian besar malah sudah mencapai kekhasan sehingga saat karyanya dilihat langsung dikenali siapa perupanya, misalnya, bisa dilihat kekhasan karya Tito Tryamei, I Putu Adi Suanjaya ‘Kencut’, Iqro Ahmad Ibrahim, untuk menyebut beberapa nama.

Yang menarik, dalam semangat kebaruan dan tidak konvensional ini, sebagian perupa tetap mempertahankan kesinambungan sejarah namun dengan sentuhan baru. Mereka mengacu pada karya perupa terkemuka sebelumnya, yang kemudian direka ulang dengan gaya mereka. Langkah yang menunjukkan pengakuan bahwa semuanya berkesinambungan, baru bukan berarti terputus dengan yang lama. Misalnya, Iqro mengacu pada karya Piet Mondrian, Zulfian Amrullah mengacu pada karya Gregorius Sidharta Soegijo, dan Ridwan Lutfi mengacu pada karya Rustamadji.

Anton Afghanial, ‘Golden Journey’, acrylic on canvas, 100x80cm, 2019 – Foto Barata

Jejak-jejak tersebut dipertegas dengan konteks pameran ini, yakni ‘Tribute to OHD – 80 Nan Ampuh’. OHD adalah singkatan populer nama Oei Hong Djien, kolektor dan pecinta seni rupa terkemuka yang lama berkecimpung dalam jagad seni rupa dan dekat dengan banyak perupa di Yogya.

Hermawan Agustian Khurosan, ‘Merasakan Sinestesia’, mixed media, 100x80cm, 2019 – Foto Barata

Karya Iqro ‘Stay Laughing for Long Live #2’ menempatkan wajah OHD sebagai subject matter, dan menghadirkan karakter ciptaan yang bernama “aku”. Menurut Iqro, karya yang menggunakan mix media (cat akrilik, stiker plastik, lembar akrilik transparan, dan pencahayaan/lighting) ini mengadopsi karya Piet Mondrian sebagai latar belakang. Dengan memanfaatkan pencahayaan dan menggunakan transparant acrylic sheet, muncullah sensasi optik berupa bayangan, gerak dan perubahan wujud (visual) dan penangkapan spektrum cahaya yang terpapar pada permukaan karya.

Zulfian membuat karya tiga dimensi yang terbuat dari kayu jati dan multiplek. Karya berjudul ‘Tak di Dalam Tak di Luar No. 1’, menurut Zulfian, bentuknya terinspirasi karya Gregorius Sidharta yang berjudul ‘Tangisan Dewi Betari’, yang melawan konvensi seni patung barat maupun lokal karena bentuknya pipih, sehingga dianggap bukan patung.

Secara konsep, kata Zulfian, karya ini mereprentasikan persoalan posisi atau kedudukan. “Karena kedudukan bisa membuat kita menguasai dan dikuasai, melekatkan identitas, menghakimi benar dan salah, bahkan memuja yang maha kuasa atau mengabaikannya.” ujarnya.

Ridwan mereka bentuk ulang karya Rustamaji yang berjudul ‘Pohon Pisang’, yang dikemas sebagai prangkat elektronik tiga dimensi yang terkesan canggih, modern dan elegan dengan judul ‘Membungkus Memori’.

Ridwan Lutfi, ‘Membungkus Memori’, mixed media, 80x100cm, 2019 – Foto Barata

Anton Afganial menghadirkan visual-visual yang imajinatif dari deformasi bentuk-bentuk yang ada di sekitar. Menurut Anton, karyanya merupakan gabungan dari hasil kontemplasi hubungan dan ketumpangtindihan antara atmosfer keprihatinan dan eksistensi manusia. Baginya, identitas merupakan konsep paling pokok dalam berkarya, karena kita sering dihadapkan dengan masalah isu agama, suku dan eksistensi manusia sebagai makhluk universal.

Satu karya yang terkesan konvensional adalah ‘In Yellow’ karya Fadhlil Abdi, potret wajah seorang anak perempuan. Dengan model yang sama dan lukisan berbeda, potret diri bocah perempuan ini ditampilkan dalam sejumlah pameran, namun tetap terasa ada yang berbeda. Lukisannya tidak sekadar “hidup” tetapi juga menunjukkan ekspresi yang kuat. Dalam tajuk ‘New Wave’, lukisan konvensional dengan intensitas penggarapan yang dalam tetaplah bisa menonjol.

Iqro Akhmad Ibrahim, ‘Stay Laughing for Long Live #2’ mixed media, 80x100cm, 2019 – Foto Barata,

Fadhil mengaku benar-benar terinspirasi konsep seni ‘jiwa ketok’ Sudjojono. Ia lebih tertarik menampilkan sesuatu yang intuitif atau sesuatu yang tak terlihat yang hanya bisa dirasakan. Karenanya dalam melukis, Fadhlil berusaha memasukkan jiwanya dan jiwa si model beserta getaran emosi yang ditangkapnya ketika pertama kali melihat.

Memang pada awal dan akhirnya, di tengah pencarian kreatif, termasuk kebaruan dan kekhasan bertutur secara visual, betapapun canggih teknik yang digunakan, rasa dan intuisi tetap yang utama.

Peserta pameran lainnya adalah Devaldo Manulang, Doni Maulistya, Dyah Retno Fitriani, Feros Siregar, Hari Gita, Hermawan Khurosan, Iqrar Dinata, I Made Dabi Arnasa, I Wayan Sudarsana, I Putu Adi Suanjaya ‘Kencut’, M. Irfan ‘Ipan’, Ridwan Lutfi, Tito Tryamei, Wisnuaji Putu, Rangga Jalu Pamungkas. Pameran yang berakhir pada 30 Mei ini dikuratori oleh Citra Pertiwi. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here