Di antara berbagai pameran seni rupa ‘Delapan Puluh Nan Ampuh’ yang merayakan ulang tahun ke-80 tokoh seni rupa Oei Hong Djien (OHD), pameran oleh komunitas Malam Jumat Kliwon (MJK) tergolong yang paling fokus dan lugas merespon dan menafsirkan OHD. Sehingga dengan mudah ditangkap bahwa pameran bertajuk ‘Tribute to OHD: 80++’ ini memang secara keseluruhan tentang OHD.

Bahkan nyaris semua lukisan berukuran 80 cm x100 cm, di mana angka 80 menjadi penanda usia OHD. Terdapat pula kanvas yang secara spontan dilukis bersama oleh OHD, Nasirun dan para anggota MJK dengan lengkungan angka 8 yang dijungkirkan seperti kacamata yang memuat lingkaran di dalamnya. Ukurannya 80×143 cm.

Pengantar galeri menjelaskan, ukuran 143 dan 80 dipilih karena masing-masing berjumlah 8, satu-satunya angka bernilai tinggi yang tidak memiliki ujung dan tidak terputus. Ibaratnya koneksi berkesinambungan, kolaborasi dan elaborasi menjadi hal yang diutamakan.

Andy Wahono, ‘Ganesh (Regenerasi)’, 80x100cm, acrilik, tinta dan bollpoin di atas kanvas, 2019 – Foto Barata

Tajuk pameran ‘80++’ (delapan puluh plus plus), menurut pihak MJK, dipilih bukan hanya merujuk pada ucapan selamat ulang tahun, tetapi menjadi pengingat kembali bagi dunia seni, khususnya bagi OHD atas kiprah dan perjalanannya selama delapan puluh tahun.

Pameran di Kandang MJK ini diikuti oleh 20 anggota MJK, ditambah Nasirun sebagai tamu undangan. Meski setiap seniman memiliki kekhasannya sendiri namun beberapa di antaranya mempunyai kemiripan sudut pandang dalam merespon OHD. Ada yang melihatnya sebagai kapasitas dan jejak pentingnya dalam dunia seni rupa, ada pula yang menyoroti usianya yang lanjut, serta harapan akan adanya penerus OHD atau generasi baru seperti OHD.

Nasirun melukis abstrak figuratif yang ekspresif. ‘Monumen OHD’. Joni Antara memvisualkan anak kecil yang terbang membawa sebatang lilin yang menyala dengan latar bertuliskan HBD OHD dan ucapan selamat dan doa. Joni menjelaskan, ulang tahun mengingatkan tentang dimulainya kehidupan. Menurut Joni, sosok anak menggambarkan dimulainya awal kehidupan yang baru. Joni mengharapkan hadirnya generasi-generasi yang baru, yang bermunculan seperti sosok OHD, karena dunia seni rupa membutuhkan orang seperti OHD. Alumni ISI Yogyakarta ini menambahkan, lukisannya merupakan wujud dari solidaritas antara seniman dan pecinta seni (kolektor).

I Kadek Suardana (Kacor), ‘One More Light’, 80x100cm, acrylic on canvas, 2019 – Foto Barata

Senada dengan Joni, Andy Wahono menampilkan Dewa Ganesha yang memegang suryakanta sedang mengamati gajah yang lebih kecil ukurannya. Gajah kecil yang berdiri di telapak tangan Ganesha ini terkesan sebagai tokoh penting, berjas putih dan memegang tongkat. Andy menjelaskan tentang munculnya figur yang dianggap sebagai pembimbing dan rujukan, bahkan diposisikan sebagai juri dan hakim. “Kita akan menghormatinya, menghargainya, bahkan mungkin memujanya,” katanya.

Nasirun, ‘Monumen OHD’, 80x100cm, oil on canvas, 2019 – Foto Barata

Lebih lanjut Andy mempersoalkan regenerasi. Ia mempertanyakan, apakah akan ada pengganti yang setaraf dengan OHD, khususnya dalam hal ilmu, wawasan, kemuliaan, kemurahan hati, dan persahabatan.

Apresiasi terhadap OHD juga disampaikan Ngakan Putu Agus Arta Wijaya lewat lukisannya yang berjudul ‘GOAT’, singkatan dari Great Of All Times. Dengan minimalis, Ngakan menampilkan seekor kambing yang mempunyai dua kepala di sisi yang berlawanan, yang berdiri di puncak gunung.

Begitu pula Sabar Jambul mengagumi kapasitas OHD sebagai kolektor lukisan. Menurutnya, meski usia OHD sudah lanjut, namun mempunyai kelelebihan mata yang istimewa, yang tajam dan jeli menatap lukisan. Goresan tegas Sabar menggambarkan separuh wajah OHD dengan sorot mata tajam di balik kaca matanya. Wajah OHD yang biasanya ditampilkan para perupa sedang tertawa, kali ini berekspresi serius.

Sejumlah perupa lain menampilkan simbol-simbol hewan yang melambangkan semangat, kekuatan, keberanian, dan keberuntungan. Nur Milisani dengan gaya oriental mengekspresikan suasana alam yang riang, damai dan harmonis lewat burung dan bunga, warna merah dan kuning, serta semburat cahaya matahari. Dia berharap OHD tetap bersemangat, tetap mekar dan tidak berhenti berbunga hingga harumnya terus terasa.

Nur Milisani, ’80 Birds’, 80x100cm, acrylic on canvas, 2019 – Foto Barata

IG Alnadhy Jiyestat memilih naga dan harimau untuk menggambarkan OHD. Menurutnya, naga adalah lambang manusia besar yang mendapatkan benih kebajikan demi kesejahteraan dan kebahagiaan. Sedangkan harimau merupakan lambang kebesaran, kehormatan dan ketegasan.

I Kadek Fajar Bagaskara menampilkan bordir berwarna merah dan kuning. Figurnya adalah maneki neko, patung kucing yang dipercaya mendatangkan keberuntungan dalam budaya Cina dan Jepang. Ia memadukannya dengan tahun baru Imlek, dimana dominasi merah mendoakan cinta dan kebahagiaan, sedangkan dominasi kuning mendoakan keberuntungan. Lewat karyanya, Fajar berdoa agar OHD selalu diberikan kesehatan, kemakmuran, keberuntungan, kebijaksanaan, dan usia panjang.

I Kadek Suardana (Kacor) memvisualkan sosok OHD yang tetawa. Fisiknya bertatah ornamen ukir dalam warna lembut kelabu. Dua belas simbol zodiak bertengger akrab di tubuhnya, seolah tahun-tahun yang dilaluinya bersahabat dengannya, meski OHD yang lahir tahun 1939 berzodiak kelinci. Di tengah lukisan sebatang lilin merah menyala, memancarkan harapan dan terang.

Bukan saja representasi ikon budaya Tionghoa yang ditampilkan. Jessaya Jerry Padang mengekspresikan 80 tahun OHD lewat ikon budaya Tana Toraja. Lukisannya yang bertajuk ’80 and Life’ memunculkan angka delapan dengan sentuhan etnik. Latarnya mengesankan suasana riang meski dalam gelap siluet, orang bermain musik, menari dan berdansa berpasangan. Ditambah planet-planet yang mengesankan kesemestaan.

Sabar Jambul. ‘Sharp Eyes the Collector’, 80x100cm, acrylic & oil on canvas, 2019 – Foto Barata

Menurut Jerry, ada 8 ilmu yang diberikan Puang Anggemaritik atau Puang Matus, yaitu Tuhan kepada delapan orang pada masanya untuk mempertahankan hidup mereka. Mereka lalu menurunkannya kepada anak cucu Tomanurun. Pertalian pengetahuan dan spiritual inilah, kata Jerry, yang membuat manusia tetap bertahan hidup.

Muchammad Wira Purnama (Wira Datuk) menyoroti soal kesehatan manula. Karyanya ‘Obat dan Racun’, lukisan abstrak yang ditempelkan bungkus kemasan obat, mengingatkan bahwa pada usia 80 tahun bahkan sebelumnya manusia sering terserang penyakit. “Di usia tersebut biasanya manusia dekat dengan obat-obatan untuk menghilangkan racun atau penyakit di dalam tubuhnya,” ujar Wira.

Pameran yang berlangsung hingga minggu pertama Juni ini berhasil mengangkat persepsi umum tentang OHD lewat seni rupa, bidang yang ditekuni dan dicintainya.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here