Mauliya Nandra Arif Fani

0
87

Dalam Sebuah Ciuman

Kala rindu membuat luka,
Maka sepasang diri kita
Mempercayai padang ilalang
Menjadi teman di setiap mesra
Disaksikan seluruh laut
Sampai pedalaman Antartika
Hingga saat senja menghilang
Dan seluruh langit menjadi gelap
Kita lupa jalan mana yang harus ditempuh

Mekarlah hati kita
Saat truk merah mendekat pada kegelisahan
Yang akhirnya memberi ketenangan menuju rumah
Seperti kencana sang cinderella
Yang membawanya pulang
Tepat di tengah malam
Sehingga ibu dan saudarinya
Menjadi bodoh akan warna-warni
Dalam hidupnya yang pelangi

Maka kita di tengah gelapnya gerbong truk
Berdesakan dengan serumpun jerami
Mempersilahkan sepasang bibir ini saling mengecup
Kening yang mengerut menambah sendu rasa di kalbu
Jalan yang berbatu telah gagal merayu
Rumput di tepi jalan tertunduk malu
Sedang kau dan aku terlarut dalam cumbu

Banjarnegara, 11 Januari 2019

Di Sepotong Giethoorn

Aku melihat sepasang hati
Tergeletak di perahu yang melaju
Dayung mengayun,
Air muka turun berduyun
Menyusur pipiku blood moon
Lorong jembatan, jembatan tua
Tempat penghubung pulau-pulau rasa
Yang menyemayamkan
Pada dalamnya palung di dada
Angin membawanya ke bibir sungai
Tepat depan gubuk kayu
Coklat manis seperti wajahmu
Yang terikat oleh sumbu pelita
Terpasang bulan pada damainya
Jalanan Giethoorn
Bertabur daun yang gugur
Serta keemasan bunga yang jatuh
Di curamnya leher hatiku

Cinta, sinarnya kupantik tiap detik
Agar terang seluruh dunia kita
Sampai pada keabadian nanti

Banjarnegara, 30 Desember 2018

 

Menjelang Malam

Setiap kali aku membaca ayat,
Kuulang waktu yang pernah menapak
Di petang hari saat maghrib terjaga
Maka sinar jalanan mulai pendar
Terpantik dari sumbunya
Menerangi jejak yang tersadar
Dari nodanya
Yang kalau semakin malam,
Jejak itu bertambah dalam
Sampai tanah menjerit,
Mengernyit sebab lebam
Oleh telapak yang ingin suci
Dalam hatinya, terasai
Sejumlah kaki yang berseri
Juga wajah yang melafalkan melati
Bak kembang mengapung
Di lautan raya
Hingga seluruh ratu penguasa
Terpental dari kursinya
Oleh wangi benang sari

Tetapi kaki muda,
Semakin malam semakin ke atas
Tanahnya menjadi rata kembali
Juga angin dan hujan
Turut menghapus
Menjadi debu kering
Sekering pasir putih
Pada laut rayanya
Sehingga penguasa
Terlena oleh bermain
Istana-istana dari pasir
Menjelang malam menjadi hening
Dan kucing tidak ada yang meong
Pun burung wilahok
Menghadapkan sayapnya ke atas
Maka harusnya para wajah
Bersuci atas bintang-bintang
Dan air yang memancur dari bawah
Kenanglah jiwa yang luka,
Kini harimu tidaklah lama

Purwokerto, 3 Maret 2019

 

Kenangan di Pekarangan

Kepada kawan, masihkah ingat
Dengan jamur yang tumbuh di kebun-kebun
Disapa angin, disambut mentari pagi
Juga karena ia ingin melihat sang hujan
Lalu kita berebut
Akan daunnya yang lebar,
Menutupi panjang batangnya
Ialah bernama “wuk” dan “wulan”
Yang menjadi pengharum dapur
Kala bercampur dengan minyak dan kencur

Untuk kawan, masihkah ingat
Saat pagi menjadi bersemangat
Berlari bermain ke kebun
Sebelum sekolah
Hendak mendapat belasan tangkainya
Sebelum ayam yang berkeliaran itu
Mematuk seluruh akarnya
Menghabiskan segala daya hingga ke mautnya
Sebelum angin telah membusukkannya
Juga belatung yang menghisap seluruh ampasnya

Langit memanglah pagi
Menjadi sebuah kata “konon”
Pada pertemuan kini
Adakah yang nampak dari batangnya?
Racun yang katanya menyuburkan pohon itu
Telah dewasa mematikan seluruh benihnya
Kapan lagi menikmati sopnya?
Di setiap jamuan makan malam
Sedang kuahnya kini tinggal biji cabai
Yang tersisa di kesuburan lembah albasia

Purwokerto, 22 Februari 2019

 

Cerita Sang Pohon Kopi

Di antara dahan-dahan pohon kopi
Selalu berbuah cerita-cerita manis
Dari sekawan yang selalu lupa dengan tangis
Mereka seperti riuh ombak
Pada samudra raya lintas benua
Tampak indahnya saat sinar emas
Pendar dari ufuknya

Cubitan di pipi mungil,
Terbalas senyum oleh gigi gingsul
Lalu tarikan pada poni
Yang melengkung di atas alis
Menjadi cerita putih tak berdalih
Berkubang mengakar
Di pulau melati yang mekar

Sampai kini akarnya tetap menguat
Pun ukiran tertanda pada batangnya
Segala gelak tawa
Saat dicengkeramai oleh cakrawala
Dari embun hingga ke senja

Langit berhias lembayung
Saat mengulang catatannya
Gubuk dan kebun
Jadilah penampung hari
Bersama ribuan cicit burung parkit

Kini waktu bukan apa-apa lagi
Bukan juga suara deras hujan
Yang membasahi lari-lari kecil
Lalu berteduh di pohon kopi
Hingga bertambah lebat daun-daunnya

Purwokerto, 19 Februari 2019

Mauliya Nandra Arif Fani, lahir di Banjarnegara, 25 Juni 1999. Beralamat di Desa Kecepit, RT 02, RW 01, Punggelan, Banjarnegara, Jawa Tengah. Sekarang sedang menempuh pendidikan S1 di IAIN Purwokerto jurusan Pendidikan Agama Islam dan belajar menjadi santri di Pesantren Mahasiswa Muhammadiyah Zam Zam, Purwokerto. Saat ini, ia tercatat sebagai anggota di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto dan tercatat sebagai anggota Forum Lingkar Pena Banjarnegara. Beberapa karyanya telah dimuat di www.simalaba.net dan koran Kabar Madura.No. HP: 085726377842 Alamat email: [email protected] facebook: Mauliya Nandra AriffaniAlamat instagram: @mauliyanandra

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here