Tuk Bima Lukar atau mata air “Bima melepas busana” secara administratif berada di Dusun Kalilembu, Kelurahan Kejajar, Kabupaten Wonosobi, Jawa Tengah. Tuk Bima Lukar secara fisik berada di tepian Jalan Raya Dieng di wilayah itu.

Tuk atau mata air ini sekarang telah diamankan dengan dinding tembok berbentuk persegi (kotak tanpa atap). Mata air di kompleks Tuk Bima Lukar dikelola dengan cara yaitu sumber air utama (di atas) diamankan dengan dinding tempok yang merupakan susunan batu kali berplester dengan ukuran 1,5 m x 1, 5 m dengan ketinggian dinding sekitar 2,5 m.

Mata air dari sumber ini mengalir ke bawah dan ditampung dalam kolam berdinding tembok dengan ukuran lebar sekitar 2 meter dan panjang sekitar 3 meter. Air dalam tampungan kolam ini kemudian disalurkan keluar membentuk pancuran oleh dua buah jaladwara (talang air yang terbuat dai batu andesit) dengan ukuran panjang sekitar 1,5 meter, dan diameter rata-rata sekitar 20-25 cm. Corong atau kepala jaladwara ini berbentuk seperti kepala makara (binatang mitologis Hindu yang perpaduan dua binatang, bagian belakang digambarkan sebagai hewan air, dan ekor menyerupai ekor ikan atau naga).

Air dari Tuk Bima Lukar disaturkan dalam dua jaladwara-Foto-A.Sartono

Tuk Bima Lukar inilah yang menjadi asal-muasal dari Sungai Serayu yang membentang sepanjang 181 kilometer dan melintasi lima kabupaten, yakni Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap yang bermuara di Samudera Hindia. Tuk Bima Lukar berada di kaki Gunung Perahu. Nama Sungai Serayu sering dikaitkan dengan keberadaan Sungai Serayu di dalam wiracarita Ramayana. Dalam wiracarita ini Sungai Serayu digambarkan mengalir dekat Ayodya, kota tempat kelahiran Rama Regawa.

Keberadaan Tuk Bima Lukar berkait erat dengan legenda tentang terjadinya Sungai Serayu. Dalam legenda disebutkan bahwa pada suatu ketika keluarga Pandawa berlomba membuat sungai. Keluarga Kurawa membuat Sungai Klawing dan keluarga Pandawa membuat Sungai Serayu.

Konten Terkait:  Pasukan Polisi Istimewa dalam Perjuangan Kemerdekaan di Jawa Timur
Curahan air dari Tuk Bima Lukar melalui dua jaladwara-Fot0-A.Sartono

Dalam perlombaan ini pada saat tertentu Pandawa yang dimotori oleh Bima melakukan istirahat sejenak. Namun ketika beristirahat mereka dikejutkan oleh sorak-sorai keluarga Kurawa yang menyatakan bahwa sungai buatan mereka hampir selesai. Bima terkejut. Oleh karena Bima takut kalah dalam perlombaan ini ia kemudan membuka (lukar) pakaiannya dan kemudian ia melanjutkan pembuatan sungai dengan menggunakan kelaminnya yang ereksi. Dalam sekejap Sungai Serayu pun jadi dan keluarga Pandawa memenangkan sayembara itu.

Versi lain menyebutkan bahwa dalam melaksanakan perlombaan itu Bima terlebih dulu melakukan tapa brata dengan lukar busana (telanjang). Lalu ia melaksanakan wangsit yang diterimanya agar membuat sungai dengan menggunakan alat kelaminnya. Air seni dari Bima inilah yang menurut versi ini kemudian membentuk menjadi sungai, Sungai Serayu.

Kompleks Tuk Bima Lukar dilihat dari Atas-Foto-A.Sartono

Tuk Bima Lukar dulu merupakan petirtaan untuk keperluan ritual masyarakat Hindu di Dieng. Oleh karena itu pula Tuk Bima Lukar di kawasan Dieng ini sampai sekarang merupakan objek yang masih disakralkan, di samping juga digunakan untuk keperluan profan.
(*)

Sumber: ksmtour.com; id.wikipedia.org; panginyongan.blogspot.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here