Kawasan Sangiran memiliki beberapa klaster museum, salah satunya adalah klaster Bukuran. Museum Sangiran Klaster Bukuran, tidak kalah jika dibandingkan dengan Museum Sangiran di klaster lainnya. Tempatnya juga sangat representatif, baik gedung, koleksi, maupun fasilitasnya.

Museum klaster Bukuran terletak di sebelah timur Klaster Krikilan, sekitar 3,5 km. Jalan menuju ke Klaster Bukuran naik turun cukup tajam, dengan jalan yang cukup bagus. Tiba di Museum Sangiran Klaster Bukuran, pengunjung harus membeli tiket terlebih dahulu. Harga tiket masuk Rp 8.000 per pengunjung. Kemudian yang membawa sepeda motor atau mobil langsung diarahkan ke tempat parkir yang cukup luas.

Fosil gajah purba yang dipamerkan di Museum Sangiran Bukuran-foto-suwandi

Pengunjung langsung bisa masuk ke Museum Bukuran dengan menaiki tangga. Tiba di atas, langsung disambut saptam untuk menulis buku tamu. Disediakan juga brosur museum, lengkap, tinggal memilih. Brosur setiap klaster di Museum Sangiran sudah disediakan. Setelah itu berjalan melewati teras dan selasar yang cukup bersih dan nyaman, setengah melingkar. Setelah itu, masuklah ke ruang pamer.

Di ruang pamer pertama, pengunjung disuguhi koleksi dunia hayati yang digambarkan lewat pohon dan cabang-cabangnya. Film animasi menggambarkan kehidupan masa lampau dalam layar sentuh bertebaran juga di ruangan ini. Koleksi lain, fosil-fosil gajah purba dan biota laut yang dipamerkan di setiap sudut ruangan. Pemikiran ilmuwan-ilmuwan bidang arkeologi dan lainnya juga disajikan dalam layar sentuh. Di dinding-dinding dipajang gambar-gambar bercahaya yang menggambarkan ekosistem makhluk hidup dan adaptasi manusia.

Patung manusia purba yang ikut dipamerkan di Museum Sangiran Bukuran-foto-suwandi
Pohon hayati salah satu koleksi di Museum Sangiran Bukuran-foto-suwandi

Di ruangan selanjutnya, pengunjung disuguhi empat patung manusia purba seukuran manusia sekarang. Patung-patung dibuat semirip mungkin dengan manusia purba kala itu, jadi juga tanpa busana. Di belakangnya, dipamerkan berbagai peralatan prasejarah, seperti kapak perimbas, pahat genggam, kapak penetak, bola batu, dan lainnya. Peralatan prasejarah itu dipamerkan di setiap vitrin dengan sorotan cahaya yang terang.

Sebelum memasuki ruangan lain, di selasar menuju ke arah ruangan itu, di dinding digambarkan evolusi hewan, mulai dari hewan kecil di laut, kemudian mengalami mutasi, ada yang bisa terbang, hewan di darat, dan tetap di air. Pengunjung di ruangan selanjutnya disuguhi 4 buah film animasi yang menggambarkan terbentuknya planet bumi, kelahiran organisme pertama, kerajaan dunia satwa, dan kemunculan cikal-bakal manusia. Biasanya pengunjung senang melihat film animasi ini. Setiap film durasinya hanya sekitar 5 menit.

Pengunjung melihat koleksi Museum Sangiran Bukuran saat liburan lebaran 2019-foto-suwandi

Ruangan selanjutnya, menampilkan perjalanan hidup manusia purba dari masa ke masa. Penjelasan setiap manusia purba sangat detail, termasuk dijelaskan volume masing-masing otak dari setiap manusia purba itu, penemu, dan tempat penemuan. Salah satunya adalah manusia homo sapiens Wajakensis, manusia yang bisa bertahan hingga saat ini.

Di ruangan lain dijelaskan bahwa manusia homo sapiens mula-mula berkembang di Afrika. Sejak 150.000 tahun lalu menyebar ke Asia, Afrika, dan Eropa. Sementara spesies homo erectus, yang telah punah, telah muncul di Jawa sejak 1,8 juta tahun silam. Fosil homo erectus yang ditemukan di Sangiran berasal dari 1,5 juta tahun lalu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here