Banyak tempat/lokasi/dusun/desa memiliki latar belekang sejarah yang berkait erat dengan ketokohan seseorang. Demikian juga halnya dengan Dusun Wirosutan yang secara administratif berada di Desa/Kalurahan Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, DIY. Dusun ini dapat dijangkau melalui Pojok Beteng Kulon ke arah selatan (arah Pantai Samas) hingga menemukan Lapangan Srigading. Arahkan perjalanan ke timur Lapangan Srigading. Sisi timur Lapangan Srigading terdapat Dusun Srabahan, Dusun Wirosutan berada di sisi timur Dusun Srabahan.

Keberadaan Dusun Wirosutan tidak bisa lepas dari peran atau keberadaan tokoh yang bernama Tumenggung Wirokusumo. Ia adalah tokoh yang berasal dari Majapahit. Dalam buku catatan trah Tumenggung Wirasuto diperkirakan bahwa Tumenggung Wirosuto hidup pada kisaran abad ke-14-15 Masehi.

Dalam pengembaraannya ke arah barat ia sampai di suatu lokasi, dan kemudian membuka pemukiman. Tempat ini dinamakan Dusun Wirosutan karena setelah sampai di tempat ini Tumenggung Wirokusumo mengganti namanya menjadi Tumenggung Wirosuto.

Batu bata kuno peninggalan Tumenggung Wirosuto dalam perbandingannya dengan pena-Foto-A.Sartono

Salah satu peninggalan dari Tumenggung Wirosuto yang masih dapat disaksikan di dusun ini adalah pagar yang terbuat dariu susunan batu bata sepanjang kurang lebih 100 meter dengan ketebalan sekitar 1 meter dan tingginya sekitar 3,5 meter. Batu bata sebagai material utama untuk menyusun pagar ini, panjang 40 cm, tebal 8 cm, dan lebar 23 cm.

Pagar dari batu bata ini dulu mengelilingi pekarangan rumah milik Tumenggung Wirosuto. Kini luas pekarangan peninggalan Tumenggung Wirosuto sekitar 10.000 meter persegi. Diduga pada masa lalu tanah milik Tumenggung Wirosuto jauh lebih luas daripada sekarang.

Selain peninggalan berupa pagar dari batu bata di sisi barat dari pekarangan dan rumah warisan Tumenggung Wirosuto juga tedapat Makam Tumenggung Wirosuto. Makam ini berada dalam satu area dengan pemakaman umum di dusun tersebut. Selain Tumenggung Wirosuto di area makam itu juga terdapat nisan dari tokoh-tokoh lainnya, seperti Kyai Sutowiryo, Kyai Sutoberbowo, Kyai Sutomenggolo, Kyai Sutowijoyo/Kyai Mangundrono (demang), Kyai Nitiwijoyo/Kyai Tomoduriyo (demang), dan Kyai Tomorejo (Bekel).

Nisan Tumenggung Wirosuto-tengah-dan makam tokoh lain di Wirosutan, Srigading, Sanden, Bantul-Foto-A.Sartono

Semasa hidupnya Tumenggung Wirosuto pernah dipanggil ke Keraton Mataram dan kemudian ditanya oleh raja,”Apa benar pagar rumahmu tinggi?” Tumenggung Wirosuto menjawab,”Benar, Gusti.”

Sisa pagar batu bata kuno sisi barat peninggalan Tumenggung Wirosuto-Foto-A.Sartono

Raja Mataram memerintahkan agar pagar tersebut dibuat rendah supaya tidak menyerupai benteng keraton. Tumenggung Wirosuto menyuruh kuda tunggangannya supaya pulang lebih dulu dan merendahkan ketinggian pagar. Kuda tersebut pulang sendiri dan naik ke atas pagar kemudian menginjak-injak pagar tersebut sehingga pagar menjadi rendah. Diperkirakan semula pagar tembok (batu bata) tersebut memiliki ketinggian sekitar 6 meter. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here