Ansambel Tangis, Sunyi dan Takdir

Akulah jagat yang paling sunyi
teriakanku tak menggema
semua hanya dinding-dinding lentur
yang mengikuti kontur suara

aku yang selalu sembunyikan tangis
di bawah bantal yang lusuh
agar jagat dunia nyata tak dengar dan terbiasa saja
orang-orang takkan tahu luluh lantaknya jiwa tak pernah gaduh

diamku masif,
di seberang sana pernah ada tangis panjang
mungkin sampai sekarang dan sampai tuntas
manakala terlintas selembar takdir melayang

semua terlanjur beritikad, bersenyap diri
owh tubuh nyataku digerogoti rindu
kian rapuh, terkikis menjadi bulir-bulir biji saga
kemilau merah, benamkan kembali ketanah

dan akupun tumbuh menjadi tunas-tunas
yang tersemai sehamparan samudera
di tengahnya ada peraduan
dan tersimpan bayi peradaban baru

kau timang darah dagingmu
sebagaimana kau menangisi kehilanganku
mari kita menuntaskan malam
esoknya kauperkenalkan sosok yang masih dalam gendonganmu,

dari darah yang sama

Sanggar Hati, 28102018

 

Komitmen

berlarian di latar senja
di pantai, dengan ombak yang mendebur
membuncah dan pecah merayapi pasir putih
sebentar lagi malam

kembali telusuriYogya,
kota yang tak asing
yang tak pernah usang
selalu menggeliat

melewati perempatan
menuju hotel
merawat cinta
tenggelam, hanya untuk memenuhi tangis

yang pernah menjadi prasasti tanpa bentuk
adalah transendens dari hati yang meletup-letup

Bumiayu, 11082018

 

Menakar Pagi

Aku sedang menuai jarak yang sudah tercerabut sana-sini
Pada waktu yang tercecer berserakan di sepanjang jalan
Sambil menahan gigil aku merangkai kenangan
Gemeletuk gigi saat badan tersentuh air di pancuran bambu
Entah dengan air sebening ini tiba di muara
Akankah masih sebening mata gadis-gadis kecil yang polos

O, cinta yang tumbuh di serumpun ilalang
Bersama bunga-bunga liar
Pada tebing-tebing terjal berdinding batu cadas
Akan kukikis semua jelaga di koridor waktu
Pada setiap mural yang tergores di bebatuan

Kopeng-Magelang, 19062018

 

Secangkir Malam Yang Absurd

Kuseduh malam dengan air cucuran teritis gerimis
di cangkir usangku yang penuh retak sana-sini
lalu kutabur bintang-bintang dan kunang-kunang
Munculah kabut dari awan yang mengembun di bibir cangkir

Kuteguk dan kucecap pada mulut yang hambar
pada tubuh yang lunglai dan gontai
Yang saat rebah dan terbaring tanpa mimpi
mulailah igauan liar melewati dimensi siang malam

Saat itu tubuh mulai melepuh
terkapar penuh jelaga
dalam nyeri menghisap sari-sari
semakin kalut da nmenyusut

Kuteguk malam sekali lagi
dahaga yang menggila
alam semesta larut dan tinggal ampas
aku kehilangan pijakan dan melayang bebas

Bumiayu, 30112018

 

Doa Yang Lelah

Kuhimpun doa-doa, seperti Hajar mengumpulkan air terberkahi
doa yang kuazamkan di setiap hembusan nafas
doa yang kulabuhkan pada rasa lelah
doa-doa.. dari yang terlirih yang kubisikkan

Doa, langit tak berbatas

Sanggar Hati, 19012019

 

Mahbub Junaedi, lahir di Brebes, 23 November, Alamat, Jl Raya Grengseng no 10, RT 03, RW 10 Taraban, Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah 52276. Mengajar di Sanggar Sastra PTQ Alhikmah 2 Benda Sirampog, Brebes, Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Paguyangan, Brebes. Aktif di Komunitas Bumiayu Creative City Forum (BCCF), Karya-karya: Puisinya terbit di New Sabah Times, Antologi Puisi Empat Negara Komunitas PBKS: Lentera Sastera, Antologi Puisi Buat Gus Dur diterbitkan Dewan Kesenian Kudus, Antologi Puisi Negeri Langit dan Negeri Bahari oleh Komunitas Radja Ketjil Dari Negeri Poci, Puisi Anak Pengayaan Bahasa Indonesia¬† tingkat dasar oleh BBJT, No HP/WA: 082324147526, email: [email protected]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here