Arabische Nachtvertellingen yang ditulis Laurence Houseman dan diilustrasi oleh Edmund Dulac (keduanya orang Belanda) serta diterbitkan oleh Van Holkema & Warendorf di Amsterdam pada tahun 1907 dan merupakan cetakan ke-464 dari 500 buku, memang menunjukkan daya pikatnya yang luar biasa sebagai buku cerita dari Arab.

Ilustrasinya tidak saja mengena dengan jitu, namun juga indah dan mampu menyuguhkan cerita yang sungguh hidup seperti gambaran dunia ala Timur Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa begitu populernya cerita dari Timur Tengah yang di antaranya adalah Ali Baba, Aladdin, dan Abunawas sehingga orang Belanda pun menuliskan dan mengilustrasinya dengan sangat baik.

Apa yang dilakukan oleh penulis dan ilustrator dari Belanda itu menunjukkan bahwa cerita dari Timur Tengah itu mempengaruhi pula dunia Barat. Bahkan Barat ikut masuk di dalamnya untuk kemudian menuliskannya, mengilustrasikannya.

Beberapa buku yang menjadi sumber pameran-Foto-A.Sartono

Edmund Dulac yang 22 karya ilustrasinya dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta, akhir Mei 2019, yang dibuka oleh perupa kawakan Nasirun, tidak mungkin bisa menggambarkan tampilan sosok-sosok orang Arab (Timur Tengah) lengkap dengan pakaian, ekspresi, asesori, kebiasaan, latar belakang istana, rumah, alam dan lain-lain tentang ketimurtengahan tanpa pernah mempelajarinya atau mengamatinya. Pada sisi itu sebenarnya Edmund Dulac telah lebih dulu belajar tentang ketimurtengahan sebelum buku itu lahir dan sampai kepada publik.

Ditengarai bahwa Jalur Sutera di masa lalu menjadi salah satu jalur perdagangan ramai yang mempertemukan banyak bangsa, seperti Cina, Turki, India, Nepal, Afghanistan, Mesir, Basrah, dan Damaskus. Dalam pergaulan untuk mengisi waktu senggang mereka saling bercerita tentang hikayat atau cerita-cerita dari berbagai negara tersebut.

Begitu dia berada di rumah dia mulai mencibir-karya Edmund Dulac-Foto-A.Sartono

Cerita-cerita semacam itu kemudian dihimpun oleh seorang sastrawan Muslim, Abu Abd-Allah Muhammed el Gashigar yang merangkumnya dalam hikayat Seribu Satu Malam. Sebagai landasan cerita tersebut ia mengarang bahwa Sultan Shahryar dari Sasanid menjatuhkan hukuman mati bagi permaisurinya yang bernama Scherezade yang dianggap telah melanggar hukum kerajaan.

Pada malam hari sebelum hukuman mati dilaksanakan maka permaisuri menceritakan kisah yang sangat hebat kepada Sultan dan dengan cerdiknya permasisuri memotong ending cerita yang belum selesai itu pada waktu fajar. Dengan demikian Sultan menunda hukuman mati. Demikian hal it terus berlanjut-berulang, hingga 1001 malam. Demikian seperti disampaikan kurator Bentara Budaya Yogyakarta, Hermanu dalam tulisannya.

Nasirun, perupa kawakan membuka Pameran Ilustrasi 1001 Malam Ali Baba di Bentara Budaya Yogyakarta-Foto-A.Sartono

Cerita-cerita yang termasuk dalam hikayat atau dongeng 1001 malam tersebut antara lain Aladdin, Alibaba, Sinbad, Abunawas, Istana Marmer, Putri Persade, Kafilah di Padang Pasir, dan lain-lain. Cerita atau dongeng ini tersebar ke seluruh dunia dan terus-menerus diceritakan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Dalam banyak hal sering ada pencampuradaukan pengertian Arab dan Timur Tengah.

Alibaba (Ali Babah) sebenarnya merupakan cerita rakyat Iran. Walaupun berada di kawasan Timur Tengah, namun Iran bukanlah bangsa Arab melainkan bangsa Persia. Dua bangsa ini berbeda leluhurnya.

Dia menyamarkan dirinya sebaik mungkin-karya Edmund Dulac-Foto-A.Sartono

Cerita Alibaba dipercaya dipengaruhi cerita 1001 malam dan cerita ini dipercayai pula berasal dari Baghdad (Irak). Cerita Aladdin diyakini berasal dari Timur Tengah juga, namun berdasarkan penelitian ternyata cerita Aladdin berasal dari Tiongkok.

Penerjemah bangsa Perancis yang bernama Antoine Galland memasukkan cerita Aladdin sebagai folkor dari Timur Tengah, namun sebenarnya kisah ini berasal dari Tiongkok dan tidak pernah ditemukan dalam kisah asli 1001 Malam. Demikian Yunanto Sutyastomo menyampaikan pandangannya dalam tulisan kuratorialnya atas pameran ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here