Ada sebuah koleksi di Museum Tembi Bantul Yogyakarta (juga di museum-museum lain di Nusantara) yang namanya melegenda hingga saat ini, yaitu celengan. Dianggap melegenda karena istilah celengan itu sebenarnya berasal dari kata celeng.

Kata celeng berasal dari bahasa Jawa yang artinya adalah babi hutan. Setelah mendapat akhiran /-an/, maka jadilah kata benda /celengan/ yang berarti patung berongga terbuat dari tanah liat yang dibakar berujud celeng atau babi hutan yang berfungsi sebagai penyimpan uang.

Istilah celengan diperkirakan sudah digunakan oleh masyarakat Jawa pada zaman Kerajaan Majapahit. Karena di zaman itu, di kemudian hari, banyak ditemukan artefak berupa celengan yang berbentuk babi hutan. Salah satunya bisa dilacak di Museum Trowulan, Jawa Timur. Bisa jadi celengan yang dibuat berbentuk babi hutan, karena babi hutan sebagai simbol kemakmuran dan kekayaan.

Koleksi celengan berupa monyet dan kucing di museum Tembi-foto-suwandi

Bahkan kata celeng, sudah digunakan oleh masyarakat Jawa Kuno di sekitar abad VIII—IX Masehi. Hal itu bisa dilacak di Kamus Jawa Kuna—Indonesia karangan PJ Zoetmulder kerjasama dengan Robson serta penerjemahnya adalah Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna. Kata celeng di kamus itu tertera di halaman 172, yang artinya adalah babi. Kata celeng juga termuat di dalam sebuah teks Jawa kuno berjudul Adiparwa, tertulis di pupuh 74 bait 14 dan Tantu Panggelaran di pupuh 109 bait 28.

Dalam perkembangan zaman, hingga saat ini, istilah celengan masih digunakan oleh masyarakat Jawa dan juga oleh masyarakat lainnya dengan konsep yang masih sama. Namun uniknya, celengan sekarang yang diproduksi oleh masyarakat Jawa bentuknya sudah tidak lagi babi hutan, melainkan beraneka ragam satwa, seperti kethek/kera, gajah, jaran/kuda, pitik/ayam, kucing, buah semangka, ikan, dan lainnya.

Walaupun bentuknya sudah bukan babi,  tetapi istilahnya masih dipertahankan yaitu celengan, bukan menunjuk yang senyatanya, seperti gajahan, pitikan, jaranan, dan lainnya. Bahkan orang Jawa ketika akan menabung di bank, dengan istilah nyelengi ing bank (menabung di bank), bukan ngebanki. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here