Kisah Dewi Sartika, Perempuan Pejuang Pendidikan yang Meninggal di Pengungsian

0
15

Raden Dewi Sartika lahir 4 Desember 1884 di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat. Ibunya Raden Ayu Rajapermas sedangkan ayahnya Raden Rangga Somanagara ( patih afdeling Bandung). Selain mendapat didikan sesuai adat-istiadat Sunda, Dewi Sartika juga disekolahkan di Sekolah Kelas Satu atau De Scholen der Eerste Klasse.

Ketika ayahnya dibuang ke Ternate, Dewi Sartika dititipkan pada Raden Demang Surianata Adiningrat (kakak Raden Ayu Rajapermas), patih afdeling Cicalengka. Raden Somanagara dibuang ke Ternate atas dakwaan terlibat dalam usaha pembunuhan terhadap Bupati Bandung yang baru Raden Arya Adipati Martanegara. Raden Ayu Rajapermas ikut ke Ternate. Di rumah uwaknya, dalam situasi yang serba terbatas Dewi Sartika dengan semangat tinggi tetap belajar. Budaya dan adat-istiadat Sunda ia pelajari lebih mendalam. Dewi Sartika juga menjadi ‘guru’ bagi teman-teman sepermainannya.

Dewi Sartika keluar dari rumah uwaknya tahun 1902, setelah Raden Ayu Rajapermas kembali dari Ternate karena suaminya meninggal. Mereka tinggal di Simpangsteg dalam sebuah rumah sederhana di belakang rumah dinas Patih Bandung. Sekalipun secara ekonomi merasa kesulitan, semangat mengajar Dewi Sartika tidak pernah surut. Ia mengajari anak-anak gadis (kebanyakan masih kerabat) dengan penuh semangat walaupun tidak memungut biaya.

Pada tahun 1904 barulah ia mendapat izin untuk mendirikan sekolah. Sekolah ini berlangsung di pendopo kabupaten Bandung, diberi nama Sekolah Istri. Tahun 1910 lokasi sekolah dipindah ke Jalan Ciguriang dan diubah namanya menjadi Sekolah Kaoetamaan Istri. Sekolah ini mempunyai konsep cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), pinter (pintar), dan wanter (percaya diri). Harapannya menghasilkan anak didik yang mandiri, pandai dan berwawasan luas.

Berkat kerja keras Dewi Sartika dan dukungan berbagai pihak. pada tahun 1912 telah berkembang menjadi sembilan sekolah tersebar di Jawa Barat. Bahkan menjadi satu sekolah di setiap kabupaten atau kota, pada tahun 1920. Tahun 1929 namanya diubah lagi menjadi sekolah Raden Dewi, sebagai penghargaan kepada Dewi Sartika.

Pemerintah Belanda yang semula curiga terhadap aktivitas Dewi Sartika (karena bagaimana pun ia adalah anak seorang “pemberontak”), setelah melihat tujuan dan juga hasilnya, akhinya berbalik mendukung. Bahkan Dewi Sartika mendapat penghargaan. Salah satunya Ridder in de Orde van Nassau, penghargaan sebagai perempuan yang berjasa dalam pendidikan pertama bagi anak-anak perempuan.

Perang Dunia II dan kedatangan Jepang ke Pulau Jawa, membuat sekolah rintisan Dewi Sartika ini berubah drastis. Dan sekolah ini ‘bubar’ ketika terjadi perang mempertahankan kemerdekaan. Perang membuat penduduk Bandung terpaksa mengungsi. Dewi Sartika bersama Raden Ine Tardine (putri bungsunya), turut mengungsi, bahkan sampai ke Desa Cineam, perbatasan antara Tasikmalaya dan Ciamis. Kehilangan banyak hal, keluarga yang tercerai berai dan sekolah yang dirintisnya dengan susah payah membuat semangat Dewi Sartika menurun jauh. Pada tanggal 11 September 1947 Dewi Sartika meninggal dunia di tempat pengungsian.

Judul : Raden Dewi Sartika. Pendidik Bangsa dari Pasundan
Penulis : E. Rokajat Asura
Penerbit : Imania, 2019, Tangerang
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : xi + 422

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here