Puisi Adilla Widya Kirana

0
53

Sedikitnya Kamu

sudah ku usangkan segala cerita
tentang kata yang semakin menua
aku bukan kamu,
berani menyalakan titik api yang berbahaya
sedari mimpi aku berani,
tapi sebuah nyata kuurungkan sesekali

sebagian kamu tergeletak di bilik-bilik pilar
yang kujaga di penjagaan mimpiku
namun, seutuhnya kamu tak berkenan mangkir
dari tempat yang ingin kuhilangkan
kamu memang pemiliknya, tapi aku penguasanya
yah, semenjak itu penguasa dikalahkan telak
oleh sang pemiliknya

lalaiku dari kiasan yang kuramu sendiri
selagi kemarin kurajut sedikit tatap yang kuhapus
dan kuajak kau mengharap pengharapan
yang sedikit melumat keheningan

dan intinya aku tak ingin kau pergi,
namun kau tak ada tuk tetap disini

Jogja, April 2019

 

Mimpi

Dalam lirih
kupuja dirimu
sedang dalam gelap
kudekap senyummu.
Dan kuusaikan tepat
saat mataku terbuka.

Jogja, Maret 2019

 

Perjamuanmu Malam 33

suatu fajar kau bergegas mencari mimpi
dibalik fajar aku berdiam meminang doa
suatu senja kau berlari memeluk rindu
didepan senja aku bermimpi mencium rengkuh

berbalik bukan kau berbeda denganku
aku meyakinkan pikiranku denganmu
sebuah keputusan yang kugengam sendiri
kau?
ya, dan mungkin kau tak tahu
namun, wujud nyatamu
selalu membuatku nyaman

tatapmu menjagaku dari harap
yang entah bagaimana merayu keadaan
diammu memelukku
dengan jarak yang berani memuji angin
sungguh, itu romantis
mungkinkah kumulai berikan hatiku
di perjamuan kita selanjutnya?

Kebumen, April 2019

 

Kamu Tahu?

kamu tahu?
aku senang kamu
hadir dengan bayang.

kamu tahu?
aku senang kamu
muncul bersama malam.

kamu tahu?
aku senang kamu
tampak dari barisan yang kutunggu.

kamu tahu?
aku senang kamu
memulai lagi dirimu di sini.

kamu tahu?
aku rindu.

Timoho, Februari 2019

 

Dalam Apa Aku Menemuimu

dalam apa aku menatapmu di keheningan riuhmu

dalam apa kau menasbihkan ayat-ayat mulia
yang kau rangkai dari lepasnya setiap garis lafalku

dalam apa aku menari di tiap rintih hujan yang begitu
riangnya menghunjam danau di kelopak mataku

dalam apa kau yang seakan tak berpihak pada siang
dan memeluk erat kesunyian malam

dalam apa aku beranjak melompaat dari jarak
yang teramat dekat dan begitu tak terlihat

dalam apa kamu masih tetap di situ dan menghilang

dalam aku pada kamu yang semua telah terusaikan
dengan bagian yang menyisakan keheningan tarikan

Kebumen, Maret 2019

Adilla Widya Kirana, lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 18 September 1996. Januari 2019 ia menyelesaikan gelar S.Pd di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, konsentrasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Penulis ini sedang berusaha untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan sedang meniti satu demi satu impian kecilnya. Di sela waktu luangnya, penulis ini belajar untuk jadi jurnalis kecil-kecilan di Majalah Dinding Wiyata dan tergabung dalam komunitas Pura-Pura Penyair. Penulis yang sangat menyukai senja ini adalah sosok yang hanya bisa menulis di waktu-waktu tertentu (mut-mutan). Kesepian sering kali melanda penulis ini dikarenakan kesendiriannya. Namun, kesendiriannya tak membuat ia minum racun, tapi lebih memilih minum madu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here