Referensi untuk Memahami Tarian Bali, dari yang Sakral sampai Sekuler

0
31

Kaja dalam bahasa Bali berarti menuju gunung, sedangkan kelod berarti menuju ke laut. Dalam tradisi Bali dewa-dewa bertempat tinggal di gunung-gunung, khususnya di ketinggian gunung berapi Agung. Tempat paling suci di Bali adalah Pura Besakih yang terletak di puncak. Daerah di bawah gunung, yaitu dunia tengah dipercaya sebagai tempat yang tepat untuk manusia. Dunia paling bawah, lautan merupakan tempat tinggal setan dan roh-roh jahat.

Dalam sistem Bali kuno, menuju kaja menuntun ke tempat keramat, tempat ketuhanan dan kebaikan. Menuju kelod berarti sebaliknya. Sedangkan dunia tengah adalah tempat sekuler, tak terisi kekuatan-kekuatan spiritual tertentu.

Di Bali seluruh ruangan dan bangunan penting dibentangkan dalam poros kaja-sekuler-kelod. Bergerak dari kaja ke kelod dalam level desa berarti pergi dari tempat paling suci yang terdapat di halaman pura paling dalam ke persimpangan jalan, tempat hantu dan kuburan. Dalam lingkup rumah tangga berarti pergi dari tempat persembahyangan keluarga yang paling suci menuju pembuangan kotoran di halaman belakang rumah.

Membicarakan berbagai jenis tari di Bali, tidak lepas pula dari unsur kaja dan kelod. Tarian jenis sakral (wali) ini muncul sebagai bentuk asli dari Bali, meskipun terdapat pengaruh elemen Hindu Jawa. Tarian ini bersifat komunal dan semua yang hadir ikut berpartisipasi, dan digelar berkaitan dengan ritual keagamaan. Penari yang trance atau kerasukan merupakan tanda bahwa dewa atau roh sudah hadir.

Beberapa tari secara khusus dikaitkan dengan desa-desa tua Bali Aga, di mana tradisi dan praktek hidup yang sudah ada sejak lama masih dipertahankan. Tari wali biasanya dipertunjukkan di dalam atau berasal dari dalam pura yang paling sakral (jeroan). Tari-tarian tersebut misalnya Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede.

Kategori selanjutnya adalah pertunjukan yang berhubungan dengan upacara keagamaan yang disebut bebali. Kesucian bebali sedikit lebih rendah dari wali. Seluruh tari bebali merupakan tari-tarian dramatik dengan elemen naratif, yang dapat dipahami sebagai hiburan tambahan kepada para dewa yang diyakini menghadiri sebuah upacara.

Berbeda dengan tarian wali, tarian bebali tidak ‘memaksa’ adanya perhatian dari dewa dan tidak ada aspek-aspek ritual penting yang dilekatkan dalam rangkaian pertunjukan. Meskipun demikian secara tegas menceminkan maksud religius, sebagai persembahan hiburan bagi dewa dan masyarakat yang hadir. Sebagai contoh Gambuh, Topeng Pajegan dan Wayang Wong.

Kelompok tari lain adalah jenis balih-balihan, yang secara esensial merupakan tarian sekuler, dipertunjukkan murni untuk tontonan dan hiburan. Tarian ini baru memperoleh sentuhan religius ketika tampil di festival pura. Tarian ini lebih memusatkan pada nilai-nilai estetika dan hiburan daripada seremonial apalagi ritual. Partisipasi penonton tidak diperlukan, karena memang hanya sebagai penonton dan penikmat. Ketika dipertunjukan, misalnya dalam festival Odalan di sebuah pura, panggungnya dibuat di halaman pura yang ketiga yang disebut jaba. Jaba merupakan tempat yang paling tidak sakral dan secara fisik terletak di tempat paling rendah dari pura. Meskipun ada sedikit ritual, tetapi secara primer fungsinya adalah tempat hiburan dan santai. Sebagai contoh tari Legong, Kebyar dan Arja.

Ada pula tarian sekuler yang dipertunjukkan di tempat sekuler. Pada umumnya dipentaskan untuk kepentingan rekreasi dan hiburan semata, serta tidak selalu harus dirangkaikan dengan kegiatan-kegiatan yang berhubungan langsung dengan ritual keagamaan. Ruang sekuler ini terletak pada titik tengah dari poros kaja-kelod.

Pertunjukan sekuler dapat dipentaskan di lapangan umum atau jalan, bale banjar atau balai kemasyarakatan, wantilan atau arena sabung ayam, bahkan di gedung pertunjukan permanen. Sebagai contoh tari Leko, Joged Bumbung dan Janger. Tarian ini bisa juga mengambil dari tarian sakral dengan syarat atribut kesakralannya tidak dipergunakan.

Di Bali dikenal pula tari-tarian yang bersifat magis di jalanan dan makam. Misalnya pertunjukan Barong. Barong diyakini memiliki kualitas-kualitas yang bersifat gaib sebagai pengusir bala atau kejahatan serta diyakini sebagai pelindung desa. Wilayah kekuasaan Barong adalah tempat yang berbahaya dan angker semisal kuburan, persimpangan jalan dan lorong-lorong sunyi yang digemari roh-roh jahat.

Pertunjukan ini sering kali bersifat bahaya, bahkan bagi pelakunya. Tak heran apabila sebelum pertunjukan dilaksanakan mereka akan membekali diri dengan berbagai hal semisal melakukan ritual tertentu, memakai mantra atau ajimat. Contoh lain dari pertunjukan ini semisal Rangda dan Calonarang.

Buku ini adalah salah satu buku yang membahas berbagai tarian yang ada di Bali. Dari tari yang bersifat sakral sampai yang bersifat sekuler. Pembahasannya cukup detail, termasuk perubahan dan perkembangan yang terjadi.

Judul : Kaja dan Kelod. Tarian Bali dalam Transisi
Penulis : I Made Bandem, Fredrik Eugene deBoer
Penerbit : ISI, 2004, Yogyakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : xvii + 253

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here