Pada awal April 2019 Bantul dikejutkan oleh berita yang menyatakan bahwa telah ditemukan candi di tepi Sungai Winongo. Orang yang pertama kali menemukan dan mengunggahnya di Youtube adalah Ari Munawar (36) yang bertempat tinggal tidak jauh lokasi temuan. Jarak lokasi dengan rumah Ari Munawar kurang lebih hanya 200-an meter. Ari Munawar tinggal di Dusun Sulang Lor, Desa Patalan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul. Sedangkan temuan struktur batu bata itu berada di dinding sungai sisi barat yang secara administratif berada di Dusun Kebondalem, Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul

Temuan tersebut berupa struktur dari batu bata. Struktur tersebut menyembul ke permukaan tanah di dinding/tebing sungai yang mengalami erosi. Ukuran batu bata yang membentuk struktur tersebut cukup besar, yakni 20 cm x 33 cm x 10 cm. Ukuran ini tidak lazim untuk ukuran batu bata sekarang. Sambungan antarbatu bata dalam struktur ini menggunakan tanah liat. Struktur batu bata yang tersingkap tersebut tampaknya merupakan sudut dari sebuah struktur.

Perbandingan pena dengan ketebalan batu bata kuno dari struktur batu bata kuno di Sungai Winongo-Foto-A.Sartono

Selain itu, di sekitar lokasi juga ditemukan sebaran batu bata yang sebagian berada di dasar sungai. Dapat diduga bahwa batu bata yang menjadi komponen dari struktur tersebut dimungkinkan berjumlah relatif banyak. Orang setempat sering mengatakan bahwa batu bata dengan ukuran cukup besar yang kerap ditemukan di aliran Sungai Winongo dinamakan boto kraton (batu bata dari keraton). Sekalipun demikian, tidak ada yang dapat menjelaskan tentang keraton siapa atau keraton manakah yang dimaksudkan.

“Tampaknya penamaan itu hanya untuk menekankan tentang kekunaan batu bata itu, Pak,” kata Ari Munawar kepada Tembi.

Selain struktur batu bata, ditemukan juga sebuah benda yang terbuat dari tanah liat di hilir dari lokasi temuan struktur batu bata tersebut. Lokasi temuan dari struktur batu bata kira-kira berjarak 100-an meter. Benda dari tanah liat (gerabah) tersebut oleh masyarakat setempat disebut sebagai kemaron (jambangan). Akan tetapi jika dilihat wujudnya (sekalipun tidak utuh lagi) tampaknya benda dari gerabah tersebut adalah jobong (penguat dinding sumur) yang sekarang lebih dikenal dengan nama buis. Penampakan jobong tersebut sekitar 36 cm di atas permukaan tanah di pinggir sungai.

Sungai Winongo di Dusun Sulang Lor, Patalan, Jetis, Bantul-Foto-A.Sartono

Temuan-temuan tersebut sekalipun disebut-sebut sebagai Candi Winongo oleh penemunya (masyarakat), sesungguhnya tidak/belum bisa disebut atau dinamakan demikian sebelum ada kajian atau penelitian. Temuan jobong mengindikasikan tentang pernah terdapat pengelolaan (pengamanan) sumber air di lokasi atau di sekitarnya.

Temuan struktur bata di pinggir Sungai Winongo juga menjadi petunjuk bahwa di masa lalu di tempat itu pernah ada aktivitas manusia. Apakah struktur tersebut merupakan bagian dari bangunan tertentu, belum dapat disimpulkan. Barangkali pula letak atau lokasi struktur tersebut pada awalnya tidak berada tepat di pinggir sungai, namun karena perkembangan arah aliran sungai yang dapat saja berubah-ubah selama puluhan atau bahkan ratusan tahun, maka aliran sungai kemudian mendekati tempat berdirinya struktur.

Hal yang urgen untuk dilakukan adalah pengamanan dan penelitian temuan ini sehingga tidak rusak, terbengkalai, dan tidak menimbulkan perasaan penasaran bagi banyak orang. Pun agar tidak disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here