Al Quran ini terdiri 30 juz, diawali dengan Surat Al Fatihah, diakhiri dengan Surat An Naas. Pada halaman Surat Al Fatihah dan Al Baqarah (h.2-3) dan permulaan Surat Al Kahfi . Pada halaman (h.358-359), terdapat bingkai gambar dengan motif pola flora serta diwarnai. Pada halaman terakhir (Surat Al Falaq dan An Naas, h. 776-777), juga terdapat bingkai bergambar, tetapi belum diwarnai.  Setelah Surat Bani Israil (h.355), teks terputus karena ayat terakhir Surat Bani Israil ini dibingkai tutup, dilanjutkan dengan Surat Al Kahfi pada h.358 dan h. 359, dengan diberi bingkai bergambar dan diwarnai.

Setiap halaman diberi bingkai berupa garis berlapis berwarna kuning pada bagian tengahnya. Pergantian ayat ditandai dengan lingkaran kecil berwarna kuning. Pada setiap halaman (di margin bawah) terdapat kata dengan “harah” yang menginformasikan bahwa kata yang tertulis di margin itulah yang menjadi tulisan awal pada halaman selanjutnya (=catchwords).

Di setiap pergantian surat selalui ditandai dengan rubrikasi tinta merah untuk menyebutkan nama surat berikutnya dan menginformasikan bahwa surat tersebut termasuk Makiyah dan Madaniah. Tidak terdapat informasi tentang penggubahan teks.  

Demikian salah satu keterangan pendek dari manuskrip berupa Al Quran dengan rincian keterangan fisiknya sebagai berikut: No Koleksi 0011/PP/73, ukuran sampul panjang 22 cm x lebar 31,5 cm, ukuran kolom teks panjang 21, 3 cm x lebar 13,1 cm, jumlah baris tiap halaman 13, jumlah halaman 778 halaman, bahasa Arab, huruf Arab, jenis kertas Eropa, kondisi fisik utuh-kertas menguning, warna tinta hitam-merah-biru dan prada emas, watermark bulan sabit bersusun tiga, countermark GMC, tempat penyimpanan Perpustakaan Widyapustaka Pura Pakualaman  yang dipamerkan dalam Pameran Manuskrip Al Quran di Pura Paku Alaman, 18-19 Mei 2019.

Suasana pameran manuskrip Al Qur’an di Pura Pakualaman-Foto-A.Sartono

Pameran manuskrip diselenggarakan di Gedung Danawara Pura Paku Alaman dengan tema Islam di Paku Alaman: Membaca Manuskrip Qur’an Kadipaten Paku Alaman. Koleksi yang dipamerkan merupakan koleksi dari Perpustakaan Widyapustaka dan Masjid Pura Paku Alaman.

Ada tujuh manuskrip Al Quran yang dipamerkan dalam acara ini. Selain itu, ada pula empat buah manuskrip berupa lembaran (satu lembar) yang dipamerkan yang di dalamnya berisi nasihat atau kalimat tertentu, misalnya tentang Tanda Imam Bukhari. Di dalam teks ini disebutkan bahwa Imam Bukhari menyebutkan suatu dalil Fa may ya’mal misqala zarratin khairi yarah, yang artinya Barangsiapa berbuat kebaikan setimbang sayap semut, berhak mendapatkan kebaikan. Dan lagi dalil Wa may ya’mal misqala zarratin syarray yarah yang artinya, Barangsiapa berbuat jahat setimbang sayap semut, akan menemui segala kejahatan setimpal perbuatannya. Demikian perkataan (bagi) raja.

Pameran manuskrip atau katakanlah kitab/teks kuno menjadi menarik lebih-lebih karena teks yang demikian tidak mudah untuk dibaca atau diterjemahkan. Teks atau kitab-kitab demikian relatif banyak dimiliki keraton sebagai pusaka. Koleksi ini tidak mudah untuk merawatnya karena memang rawan rusak oleh berbagai hal (manusia, kimia, biota, jamur, cuaca, dan sebagainya).

Ki Sarahmadu Brajamakutha, ditulis 17 Mei 1832-18 Juni 1833 pada masa Paku Alam II, merupakan salah satu wujud implementasi Al Qur’an yang dituangkan dalam naskah-Foto-A.Sartono

Hal penting yang patut diperhatikan dari koleksi teks/kitab/manuskrip lama adalah pembacaan, penerjemahan, alih aksara, dan publikasi. Jika teks/kitab/manuskrip lama tetap tinggal sebagai koleksi, maka isi, makna, dan visi-misi dari teks-teks tersebut tidak pernah sampai kepada publik. Pameran yang dilakukan di Pura Paku Alaman ini barangkali menjadi satu upaya untuk semakin paham tentang isi teks yang menjadi koleksi istana Pura Paku Alaman.

(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here