Nusantara banyak menghasilkan dan menyimpan manuskrip-manuskrip (naskah tulisan tangan) kuno, di antaranya adalah manuskrip mushaf Al Qur’an yang tersimpan di kerajaan-kerajaan maupun di masyarakat. Salah satu kerajaan atau istana yang menyimpan manuskrip mushaf Al Qur’an adalah Kadipaten Pura Pakualaman Yogyakarta. Untuk mengenal manuskrip-manuskrip mushaf Al Qur’an di tempat tersebut, pada pertengahan Ramadan 1440 Hijriyah atau 18—19 Mei 2019, Puro Pakualaman Yogyakarta menggelar pameran manuskrip mushaf Al-Qur’an bertempat di Gedung Danawara, kompleks Puro Pakualaman Yogyakarta, Jalan Sultan Agung.

Pengunjung menonton dan mengabadikan pameran manuskrip di Puro Pakualaman-foto-suwandi

Ada 6 manuskrip yang dipamerkan. Lima di antaranya adalah manuskrip Al Qur’an koleksi Masjid Pakualaman maupun Perpustakaan Pakualaman. Ada manuskrip mushaf Al Qur’an yang lengkap 30 jus, namun ada yang 10 jus. Koleksi lainnya, hanya memuat 38 surat dalam Al Qur’an. Sementara satu manuskrip lain berisi ajaran moral yang sumbernya dari Serat Tajussalatin dan Hikayat Nawawi. Manuskrip yang terakhir ditulis dalam 2 aksara, yaitu Arab dan Jawa. Manuskrip lainnya beraksara dan berbahasa Arab.

Salah satu manuskrip mushaf Al-Qur’an yang dipamerkan di Puro Pakualaman Yogyakarta-foto-suwandi

Pameran manuskrip mushaf Al Qur’an di Puro Pakualaman ini diharapkan dapat memberi wawasan kepada masyarakat luas, bahwa mushaf Al Qur’an juga mengalami penulisan ulang termasuk di istana Pura Pakualaman ini pada ratusan tahun lalu, dan salah satu fungsinya adalah untuk belajar membaca Al Qur’an. Perbedaan mushaf Al Qur’an yang ditulis di keraton atau kerajaan dengan yang ada di masyarakat, salah satunya adalah jenis kertas. Selain itu, ornamen-ornamen bagus selalu menghiasi mushaf Al Qur’an di keraton, sementara di masyarakat ditulis sederhana. (*)

Para pengunjung usai melihat pameran manuskrip lanjut berdiskusi tentang naskah-foto-suwandi

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here