Sejumlah perupa andal di seputaran Gunung Muria, Jawa Tengah, menghimpun diri dalam perkumpulan bernama Dari Titik Muria. Mereka adalah Angga Aditya (Kudus), Apis Btwr (Pati), Briyan Farid Arif (Kudus), Budi Karya (Jepara), Indarto Agung Sukmono (Kudus), Indrayana (Pati), Putut Puspito Edi (Pati), S. Mulyana Gustama (Kudus), Susilo Tomo (Pati), dan Winantyo Agung P (Boyolali). Eksistensi mereka seperti tidak/belum tercuat keluar. Hal ini karena kurangnya ekspos.

Barangkali infrastrukturnya yang kurang, tidak seperti Yogyakarta. Jadi peristiwa keseni-rupaan di Yogyakarta dapat dipastikan selalu ada yang mencatat, mempublikasi, atau mendokumentasikannya. Barangkali itu bedanya Yogyakarta dengan tempat lain yang notabene yang keandalan kesenirupaannya tidak sangat berbeda dengan tempat lain. Demikian bagian isi pengantar Mikke Susanto dalam sambutan pembukaan pameran kelompok Dari Titik Muria di Tembi Rumah Budaya, Jumat, 17 Mei 2019.

Untuk menegaskan dan memeriahkan acara ini perupa Dari Titik Muria juga menghadirkan kopi muria lengkap dengan baristanya. Selain itu, ada pula cokekan yang mengiringi seluruh acara pembukaan pameran. Tampaknya acara ini memang menjadi perhelatan para perupa dan publik Pantura yang bergaul akrab dengan para perupa dan publik Yogyakarta di Tembi sekaligus menanti buka bersama karena waktunya memang bertepatan dengan bulan Ramadan.

Bersyukur, 100×120 cm, OOC, 2017, karya Angga Aditya-Foto-A.Sartono

Dari Titik Muria terbentuk karena jalinan pertemanan sesama pekerja seni, terutama karena pernah berada pada event pameran bersama dalam wadah geografis Pantai Utara. Hal ini memunculkan gagasan untuk menggali lebih dalam lagi ihwal kebudayaan Pantura dalam lingkup lingkar Muria (Pati, Kudus, Jepara).

Gapura Tanjung, 100×120 cm, 2019, acrylic & ink on canvas, karya S. Gustama Mulyana-Foto-A.Sartono

Ada pun dasarnya telah terbangunnya kohesi pertemanan antarperupa lingkar Muria serta kesamaan gagasan tematik kekaryaan. Ini semacam keniscayaan karena perupa tentunya akan melahirkan karya atas dasar responsnya terhadap lingkungan hidup yang paling dikenali. Gagasan dan latar belakang seniman akan dimengerti dalam kerangka lingkungan tempat tinggalnya. Oleh karena itu barangkali para seniman (perupa) tidak perlu menggambarkan dunia lain di luar sana yang justru kurang/tidak dikenali dan kurang dipahaminya.

Mikke Susanto menerima cenderamata dari kelompok Dari Titik Muria-Foto-A.Sartono

Selama ini dunia Muria mungkin hanya dikenali melalui Sunan Muria dan Sunan Kudus yang pada sisi tertentu menghadirkan toleransinya yang besar pada pertemuan budaya dan keyainan yang berbeda. Sesungguhnya pula kawasan Muria juga memiliki sekian kekayaan lain baik SDM, perupa, seniman/budayawan, geografis, flora/fauna, adat istiadat, budaya, industri, dan lain-lain yang perlu terus dikenalkan kepada dunia sehingga peran dan eksistensinya semakin diterima dan diakui.

Sang Ratu#Wayang Kepelan, mix media, 2019, karya Budi Karya-Foto-A.Sartono

Perupa Dari Titik Muria telah melakukan langkah-langkah seni budaya ke arah itu. Yogyakarta melalui Tembi menjadi salah satu titik perjumpaan mereka dalam diplomasi seni budaya dan kekaryaan yang saling mengayakan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here