Puisi LY Misnoto

0
85

Nang Ning Nung

Nang
yang berbunyi adalah kunci
yang mati adalah napas
yang sunyi, yang ramai, yang bernyanyi
yang segalanya
yang mati suaranya

Ning
di antara yang disembunyikan
kotoran sapi menjadi tumbal
hingga rumah-rumah kecil
dan tanah-tanah subur
: habis

Nung
ketika berhenti dari pesawat
yang katanya adalah keadilan
satu persatu mereka mati
yang tubuhnya mengeluarkan
tanah dan bangunan-bangunan

Nang Ning Nung
biarkan, tubuhnya yang telah menjadi musim nèmor
hingga menangis meminta musim nambhere’
jangan hiraukan, ini hanya dalam sepi
yang menghadirkan kegaduhan
ketika persimpangan telah mati

Malang, 2019

 

Tanah Airku

merah putih terlahir dalam garis khatulistiwa
seperti sunyi yang mengundang ketenangan
ketika rerimbun kehijauan mewarnai negeri

ada sesuatu yang menjelma jarak dan waktu
menggali batin cahaya redup di tepian panjang
lalu pecah menjadi suara-suara persatuan

negeriku, tanah airku, jiwa ragaku, darahku
bersatu menciptakan lipatan-lipatan kejayaan
pada perhitungan di tatapan para penatap
hingga teruai antara tanah dan bebatuan

pepohonan adalah bayangan masa depan
tumbuh dari hujan-hujan dari musim ke musim
yang menciptakan akar-akar erat
hingga ufuk barat menjemput kembali

Malang, 2019

 

Yang terlahir Dari Abjad

dari A sampai Z
telah disetubuhi waktu : satu persatu
melahirkan kalimat masa depan
adalah roh-roh meja kelas

huruf itu
melambangkan abjad
menunaikan segala keterlenaan
masa lalu
dalam ruang, berlalu

Malang, 2019

 

Sabda Alam

1/
pada waktu,
yang bercumbu dengan tanah
melahirkan air mata
dari setiap tetes hujan

sinar yang datang tiba-tiba
saat pagi menutup kesunyian
segala tubuh diringkusnya
hingga datang sinar jingga

hadang, saling hadang
jalanan ricuh
sebab berontak
dengan sinar-sinar kejam

hanya ada rapatan pepohonan
yang tumbang

2/
dari kericuhan
datang tiba-tiba
getaran yang tercipta
dari putung roko dan asapnya

di mana-mana,
teriakan, orang-orang berlari
“gempa, gempa …”

masih adakah gempa
ketika hanya hidup di atur mesin bermoral
segalanya hanya diatas sewaktu?

atau itu hanya ilusi, bualan
bahkan cemooh orang-orang
bukan pepohonan?

“ini saksi bahwa alam telah bersabda”

Malang, 2019

 

Pada Keabadian

bila mutiara berkilau
adalah cahaya prasangka
di tubuh sunyi semesta
terlahir keabadian tubuh

suara gaduh terasingkan
pada setiap cerita kebersamaan
dalam bait-bait puisi
penafsir kehadiran dosa
memberi cukup cinta di hati

dalam setiap ombak
menggempar segala perselisihan
pada setiap nama
yang terabjadkan
dalam suci kesadaran

tubuh saling merangkul
berhujat pada sumpah-serapah
biar abadi tali persaudaraan

Malang, 2019

 

LY Misnoto, lahir di Sumenep, Madura pada tanggal 16 Juli 1998. Aktif di Komunitas Pembatas Buku Jakarta (KPBJ). Puisinya terkumpul dalam buku Memori Juli (Vista, 2018).
FB: LY Misnoto No. HP/WA : 083123209446

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here