Pementasan teater dengan lakon ‘Ronggolawe Makar: Mantra Penabur Cinta’ menjadi kado istimewa bagi Sanggarbambu yang berulang tahun ke-60. Pemanggungan lakon ini dilakukan di Concert Hall taman Budaya, Yogyakarta, Sabtu malam, 18 Mei 2019.

Lakon ini diangkat dari novel karya Joko Santoso yang berjudul ‘Rongolawe Makar’. Bertindak sebagai sutradara adalah Fajar Suharno, Jujuk Prabowo, Ami Simatupang, Untung Basuki, Luwi Darto, dan Lita Pauh. Penata Musik (old) adalah Guntur Nur Puspito dan Penata Musik (old) adalah Gaung Renantya Sidharta. Penata Tari: Kinanti Sekar Rahina, Penata Artistik Tato Sartono, Penata Lampu Wardono, Handproperty Bambang Purwo Kestalan, Make up dan Kostum (now) Rere Rully, dan Kostum M. Sugiarto. Skenario Aprinus Salam dan Indra Tranggono.

Masuknya Dara Petak ke Majapahit menyulut api perpecahan-Foto-A. Sartono

Peristiwa pemberontakan Ronggolawe sesungguhnya telah dicatat dalam Kitab Pararaton yang mengisahkan tentang tumbuh-kembangnya Singasari- Majapahit- hingga pemberontakan/ perseteruan yang muncul di kalangan internal Majapahit, sampai melumpuhkan Majapahit.

Pemberontakan-pemberontakan itu mengakibatkan orang-orang kuat di Majapahit satu demi satu hilang (gugur). Ronggolawe yang diangkat menjadi Adipati Tuban merupakan tokoh penting/kuat Majapahit yang pertama kali “lenyap” dari panggung politik Majapahit yang kemudian disusul dengan Kebo Anabrang. Bisa dikatakan bahwa Ronggolawe adalah senapati darat yang pilih tanding. Sementara Kebo Anabrang adalah senapati laut yang berjasa besar pada Ekspedisi Pamalayu.

Ronggolawe dijebak untuk bertempur di air oleh Kerbo Anabang-Foto-A. Sartono

Lakon yang dipangungkan ini mengisahkan tentang bagaimana tokoh Ronggolawe yang berjasa besar bagi Majapahit tiba-tiba melawan Majapahit (Raden Wijaya/Kertarejasa Jaya Wardhana). Ada pun sebabnya adalah karena Kertarejasa mengangkat Nambi menjadi Rakryan Mahamantri Katrini (Patih Utama) yang dikenal culas, penjilat, penipu, penghasut, bodoh, dan licik.

Nambi mengatakan bahwa kritikan Ronggolawe atas pengangkatan dirinya didorong oleh rasa iri dan dengki Ronggolawe. Ronggolawe menolak tuduhan Nambi karena ia tidak berambisi menjadi Mahamantri Katrini. Ia hanya mengatakan bahwa masih banyak orang yang lebih pantas dari Nambi untuk menduduki jabatan itu.

Konten Terkait:  Festival Musik Tembi 2016 (1): Dibuka dengan Perarakan Budaya

Pengangkatan ini tidak lepas dari peran Dara Petak, gadis boyongan dari Ekspedisi Pamalayu yang dilakukan Kebo Anabrang. Dara Petak memainkan peranan penting dalam persekongkolan jahat karena secara internal ia bisa menyusup ke Majapahit dan menjadi istri Kertarejasa.

Berawal dari sini intrik dan pertikaian disulut. Ronggolawe yang sakti, ahli strategi perang, tegas, jujur, senapati agung, orang yang berjasa besar namun temperamental begitu mudah dibakar oleh tipu daya, hasutan, ejekan, dan tantangan yang terus dimainkan oleh persekongkolan jahat. Peringatan Ronggolawe kepada junjungannya, Kertarejasa akan adanya serigala bermata biru di lingkungan Majapahit tidak ditanggapi serius oleh Kertarejasa.

Ketika Ronggolawe dan Kebo Anabrang tewas, barulah Kertarejasa mengerti dan memahami apa yang dikatakan Ronggolawe. Namun semuanya sudah terlambat. Sesal kemudian tiada guna. Majapahit terlanjur terhasut, kusut, panas, membara dalam dendam, amarah dan kebencian. Seperti kertas koran yang terbakar dari sisi tengah, api itu terus menjalar untuk menyelesaikan tugasnya, “merampungkan” sisi-sisi pinggir kertas koran yang lebih lemah daripada sisi tengahnya. Majapahit setahap demi setahap menyongsong masa senjakalanya.

Tumenggung Jayanegara sang penghasut dan penjilat yang membenturkan banyak tokoh penting Majapahit-Foto-A. Sartono

Istilah makar/mbalela tidak pernah lepas dari bahasa kekuasaan/bahasa penguasa. Demikian seperti yang diungkap Aprinus Salam dalam pengantarnya atas pementasan ini. Orang dianggap melawan, mengganggu, merongrong kekuasaan oleh sang pemegang kekuasaan selalu dianggap sebagai makar/mbalela.

Sejarah Indonesia mencatat banyak peristiwa jungkir balik berkait hal ini. Ada penguasa yang yang pada masa kekuasaannya dipuja setinggi langit. Akan tetapi ketika tidak berkuasa, ia dinista. Ada yang dulu dianggap makar/mbalela sekarang secara bertahap mulai dipuja. Dalam konteks semacam itu pemantasan lakon Ronggolawe Makar menjadi penting. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here