Kawasan Kotagede Yogyakarta berada pada dua wilayah kecamatan, yakni Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul; dan Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta. Kawasan ini dulu merupakan ibu kota Kerajaan Mataram Islam sehingga ketika terjadi Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram Islam menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, Kotagede pun diwarisi secara bersama-sama oleh Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Oleh karena itu pada masa lalu Kawasan Kotagede ada yang berada di bawah pengelolaan Kasunanan Surakarta, dan ada pula yang berada di bawah pengelolaan Kasultanan Yogyakarta.

Sebagai bekas ibu kota Kerajaan Mataram Islam, kawasan ini meninggalkan banyak peninggalan kuno baik berupa benda, bangunan, maupun struktur yang secara hukum dan perundang-undangan telah masuk sebagai cagar budaya/warisan budaya. Masjid-Makam Kotagede, Sendang Selirang, Benteng Rangga, Benteng Bokong Semar, Watu Gatheng, Sela Gilang, dan Watu Genthong adalah beberapa di antaranya.

Pendapa dan sisi depan rumah induk milik Disbud DIY di Citran, Jagalan, Banguntapan, Bantul-Foto-A.Sartono

Selain itu, ada pula bangunan yang merupakan hunian rumah warga yang masuk dalam kategori tersebut. Salah satunya adalah Rumah Tradisional (Joglo) Ibu Nur Johan yang telah menjadi milik Dinas Kebudayaan DIY. Rumah tradisional itu berada di Kampung Citran, Desa Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul.

Rumah tradisional milik Disbud DIY ini memiliki arah hadap ke selatan. Bangunan terdiri dari pendapa, rumah induk (dalem), gandhok kiwa, pawon, dan satu bangunan lain di sisi timur pendapa yang tampaknya seperti perpanjangan dari gandhok kiwa atau bangunan lain yang sengaja dibangun di sisi timur pendapa.

Senthong di dalam Rumah Tradisional di Citran, Jagalan,Jetis, Bantul-Foto-A.Sartono

Rumah induk (dalem) terdiri dari beberapa ruangan, yakni ruang utama/keluarga, senthong tengen, senthong tengah, dan senthong kiwa. Rumah induk dan pendapa berbentuk joglo. Saka guru dari bangunan rumah induk maupun pendapa didirikan di atas umpak batu (alas tiang berbentuk prisma terpancung) berukir dengan motif padma. Motif ini oleh para ahli dikatakan sebagai stilasi dari huruf Arab: mim, ha, mim, dal, yang dimaknai sebagai simbol atau kependekan nama Nabi Muhammad.

Konten Terkait:  Lomba Bahasa dan Sastra Jawa di Yogyakarta Semakin Diminati Generasi Muda

Pada ambang atas masing-masing pintu senthong terdapat hiasan berukir krawangan dengan motif sulur-suluran dan bunga matahari. Dhadha peksi pada tengah uleng diukir dengan motif sulur-suluran dan bunga matahari serta dicat dengan dominasi warna hijau dan emas (prada). Langit-langit rumah induk, senthong, dan gandhok terbuat dari papan kayu dan dicat serta diberi list sehingga membentuk bidang-bidang seperti bingkai. Emperan atau tritisan rumah induk disangga dengan tiang berukir motif kuncup bunga di bagian pangkal dan uliran di bagian atasnya.

Sisi depan rumah induk dan sebagian emperan pendapa di Rumah Tradisional Jawa di Citran, Jagalan, Banguntapan, Bantul-Foto-A.Sartono

Rumah induk memiliki desain/pembagian ruang yang simetris. Pintu depan rumah induk berjumlah tiga buah dengan pintu utama di bagian tengah. Di samping itu, di kanan dan kiri dari tiga pintu tersebut terdapat jendela, masing-masing satu buah. Pada ambang atas ketiga pintu yang terbuat dari kayu ini terdapat pola hias ukiran krawangan berupa panahan. Pola hias ini sering dijumpai di rumah-rumah (bangunan) di Jawa. Pola hias semacam ini merupakan simbol penolak bala atau simbol dari pemusatan perhatian (konsentrasi).

Rumah bekas milik Ibu Nur Johan ini dibangun sekitar tahun 1850 dan pertama kali dimiliki oleh Mr Kasmat (orangtua ibu Nur Johan). Mr Kasmat adalah pengusaha hotel yang cukup berhasil di masa itu.  (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here