Tradisi menanam padi, bagi masyarakat agraris di Jawa biasa dilakukan oleh kaum perempuan. Cara menanam padi, biasa dilakukan dari depan ke belakang. Dalam istilah Jawa disebut “tandur”, yang diartikan pula “nata karo mundur”. Makna dalam bahasa Indonesia menata dengan cara ke belakang.

Sayangnya, saat ini sudah banyak perempuan muda dari kalangan petani yang tidak mau melakukan tradisi tandur. Yang tersisa tinggallah para perempuan setengah baya atau lanjut usia. Sehingga ketika pada musim tanam, terjadi kelangkaan tenaga tanam padi. Terjadinya kelangkaan buruh tanam padi juga menjadi keprihatinan Museum Tani Jawa Indonesia, yang berada di Bantul.

Peserta dari SMA Imogiri Bantul berpakaian kebaya lengkap saat mengikuti lomba tanam padi-foto-suwandi

Untuk menanamkan nilai-nilai kejuangan petani, museum tersebut membuat acara lomba tanam padi, yang pesertanya dikhususkan bagi generasi muda. Lomba yang diselenggarakan oleh Museum Tani Jawa Yogyakarta yang dibantu para mahasiswa Atmajaya Yogyakarta tersebut diberi tema “Millenial Bertani”.

Penonton di tepi sawah memberi semangat kepada peserta dari SMAN 3 Yogyakarta-foto-suwandi

Lomba berlangsung pada Minggu, 5 Mei 2019, di lingkungan Museum Tani Jawa Indonesia, yang beralamat di Desa Candran, Sumberagung, Imogiri, Bantul. Lomba tahun ini merupakan yang kedua dan mendapat dukungan dari Grup Accor Hotel. Lomba yang sama pernah diselenggarakan tahun 2007.

Walaupun dalam lomba jumlah pesertanya belum maksimal, tetapi setidaknya diikuti 12 kelompok pelajar SMA se-DIY, di antaranya dari SMAN 3 Yogyakarta, SMA Stella Duce Yogyakarta, dan SMAN Imogiri. Setiap kelompok terdiri dari 5 pelajar. Dalam lomba dibagi dalam babak penyisihan dan babak final. Penilaian lomba meliputi, kecepatan, kerapian, kekompakan, dan kuantitas. Sementara juri dari komponen Kadin Yogyakarta, Barahmus DIY, dan PHRI.

Para pemenang lomba tanam padi foto bersama dengan para yuri dan peserta lainnya-foto-suwandi

Jalannya lomba sangat seru, karena banyak di antara peserta yang belum pernah sama sekali terjun ke sawah. Saat kakinya terkena lumpur, dan kadang-kadang kakinya menginjak cacing atau precil, terdengar suara histeris. Belum lagi jika saling dorong sehingga harus mandi lumpur. Begitulah suasana Lomba Menanam Padi di Museum Tani Jawa Indonesia Bantul, yang mencoba menanamkan nilai-nilai kesederhanaan dari petani, di antaranya nrima, selalu bersyukur, jujur, dan tidak pernah korupsi. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here