Penyelenggaran Gelar Batik Nusantara (GBN) yang dilaksanakan sejak 1996 oleh Yayasan Batik Indonesia sukses menelurkan karya dan desainer-desainer baru. Gelaran yang ke-11 kalinya diselenggarakan pada 8-12 Mei 2019 di Jakarta Convention Center. GBN memperkenalkan perkembangan batik, corak, motif dan sebagainya sehingga memperkaya khasanah motif batik Nusantara.

Dari sekian banyak peserta yang ikut dalam pameran tersebut, Arane dari Sleman Yogyakarta cukup menarik perhatian. Ia membawa karya-karya indah dengan teknik shibori, dan eco print menggunakan pewarna alam. Selain menjual pakaian, kain dan tas kulit, Arane juga menawarkan aksesoris seperti anting, gelang dan kalung.

Adalah Anton Wahyudi pencetus sekaligus pemilik dari Arane. Saat ditemui Tembi di GBN, Anton bercerita tentang Arane yang fokus dengan karya-karya dengan bahan pewarna alam dengan spirit ‘Slow Fashion’. “Kita mau pelan-pelan mengubah mindset orang-orang kalau segala bentuk karya seni seperti batik dan lainnya sudah sepatutnya kembali ke zaman dulu, menggunakan pewarna alam,” ujar Anton.

Anton Wahyudi Pemilik Arane – Foto – Titien Natalia

Mengenai ‘Slow Fashion’ yang menjadi spirit Arane, Anton mengatakan bahwa Arane tidak ingin menjadi produk industrial. Memang secara kapasitas permintaan akan lebih banyak, namun ia khawatir nilai ‘handmade’ akan turun. “buat kami Arane adalah seni olah kain dan murni dibuat oleh tangan, kalau sudah masuk industrial nilainya pasti akan turun, jadi kami tetap memilih untuk seperti ini saja,” paparnya.

Bicara soal teknik mengolah kain seperti tehnik shibori dan eco print, Anton mengaku belajar dari berbagai workshop, selain di Indonesia Anton belajar dari orang Israel dan Austria. “Kami modalnya video call, atau membeli PDF workshop mereka melalui online. Kami banyak berdiskusi dengan orang luar, karena iklimnya berbeda juga kadar air dan jenis daun yang berbeda kami banyak juga gagalnya, tapi itu semua bagian dari proses,” ujar Anton.

Pakaian Dengan Tehnik Shibori – Foto – Titien Natalia

Sampai sekarang Arane masih terus mencoba berbagai upaya demi mengembangkan bisnis fashion mereka. Metode terbaru yang mereka sedang kembangkan adalah teknik eco print daun, cara mengaplikasikannya ke kain adalah menempelkan daun yang sudah dikumpulkan ke kain, kemudian dikukus selama kurang lebih dua jam.

“Waktu ditempelkan ke kain semua daun sama warnanya hijau, tetapi ketika sudah jadi hasilnya bisa berbeda-beda, ada yang menjadi ungu, coklat atau kemerahan. Selain daun jati, kami juga menggunakan daun endemik Yogya, namanya daun lanang, daun tersebut biasa digunakan untuk jamu stamina pria karena lanang artinya pria. Daun lanang di kain bisa menjadi kuning atau coklat,” papar Anton.

Tas Eco Print Kulit Sapi – Foto – Titien Natalia

Belakangan mereka sedang mengembangkan teknik eco print ke material kulit sapi, hasilnya terlihat natural dan sangat cantik, warna yang timbul beragam, ada hijau, kuning, atau kemerahan. Menurut Anton teknik eco print bisa diaplikasikan di semua serat alam, termasuk batu, triplek kayu dan gerabah tanah liat.

Aksesoris Arane Fashion – Foto – Titien Natalia

Penasaran ingin memiliki hasil karya dari Arane, bisa dicek di www.arane.co.id atau Instagram mereka di arane-id. Jika kebetulan sedang berlibur di Yogyakarta, toko mereka ada di Pogung Baru, D31 A, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Untuk harga, masih ramah di kantong, untuk pakaian dan kain berkisar Rp 300.000 – Rp 1 juta, sedangkan aksesoris Rp150.000 – Rp 200.000 sementara tas dan dompet kulit Rp 500.000 – Rp 1.800.000. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here