Puisi Salman Yoga S

0
40

Nusa Berparu Insang

Aku surut ketika kau surut
Kau pasang aku mendekat
Karena inginku tenggelam bersama
Sebab inginku hidup berparu-paru berinsang
Tanpa gedung-gedung
Tanpa jalan raya
Tanpa hiruk kota-kota
Biarlah liur membuih
Rintih mengapung
Dan mata membelalaks esyukur-syukurnya

Sukorejo, 2018

Tampuk Bunga Kopi

Menyeringai aku mencium bau bunga kopi
Waktu seperti menghampiri dengan senyum lama
Kau mekar merindui matahari
Dan aku tergila-gila menelannya

Tumbuhlah seperti dara belia
Yang sahaja merawat pelangi
Anggun memanen bunga
Bercita dengan mimpi-mimpi
Dan biarkan hijaumu mengitari langit
Dan biarkan hijaumu menyelami laut
Hingga berlumut
Hingga tidak ada yang menjemput

VilarWihIlang, 2018

 

Jelang Tutup Tahun Indonesia

telah dialirkan dari hulu mata air
kedamaian di puncak ibadah
ruang-ruang gegap gempita
bersukaria mendekati akhir usia
sebagai perayaan di ujung tahun
menahunkan masa lalu
dalam pijar yang tak berjanji

tetapi mulut-mulut terus riuh
seolah gemuruh bermuara di sana
yang menjadi puncak harap sekaligus doa
bahwa besok ada sesuatu yang baru dari kemarin
meski perulangan tidak memperdulikan apa-apa

tutup tahun Indonesia
buka tahun nusantara

Gayo, 2018

 

Langit Putih

Menunggumu di bawah beringin tua
Alun-alun selatan yang menghempaskan peta
Malam menjadi angin
Dolanan anak menjadi pesta
Dan aku adalah gemawan yang terlambat pulang

Yogyakarta, 2018

 

Air Putih

Gelas bening
Sungai berbatu

Kusembur dari mulut
Kemuka dan kening

Sembuhlah
Pulihlah

Solo, 2018

Salman Yoga S, lahir 5 Juli di dataran tinggi Gayo, Takengon, Aceh Tengah. Menggeluti sastra dan seni lakon dari interaksinya dengan sastra lisan dan seni tradisional Didong sejak usia kanak. Menulis puisi cerpen, novel, naskah teater dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Mengeditori sejumlah buku juga aktif di sejumlah organisasi sosial, profesi, seni dan gerakan kebudayaan. Penerima Anugrah Satya Lencana Budaya “Sarakata” 2007 dengan sebahagian karya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Rusia, Arab, Jerman serta 40 bahasa Nusantara serta terangkum lebih dari 200 antologi bersama/bunga rampai-jurnal.

Ia mengikuti event sastra-budaya, forum ilmiah di berbagai kota dalam dan luar negeri. Novelnya“Tungku“ adalah pemenang pertama penulisan novel perdamaian Aceh. Antologi puisi tunggalnya yang sudah terbit adalah “Sajak-Sajak Rindu“ 1995, “Cicempala Putih“ 2004, dan “White Orchids Gayo Soil” 2016 serta dalam bentuk kaset (audio) “Mencintai Aceh Dengan Asap Ganja” 1999.

Alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan UIN Sumatera Utara ini kesehariannya mengajar di UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan di ISBI Aceh. Bergiat di Lembaga The Gayo Institute (TGI), Teater Reje Linge Takengon, Komunitas Sastra Bukit Barisan (KSBB) juga sebagai petani kopi. Tinggal dan menetap di Kampung Asir-Asir Atas No. 70 Takengon-Aceh Tengah (24513). Hp/WA. 0813 6272 6789. Email: [email protected]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here