Wayang menjadi pilihan ekspresi kesenimanan Subandi Giyanto. Wayang adalah jiwa dan hidupnya. Tidak mengherankan jika karya rupa yang dipamerkannya di Bentara Budaya Yogyakarta, 3-10 Mei 2019 menyuguhkan dunia itu dalam berbagai varian dan media.

Hal yang tidak ditinggalkan Subandi adalah detail yang menjadi ciri utama ‘kecanggihan’  tatah sungging dan penggambaran wayang. Penguasaan detail ornamen wayang bukanlah sesuatu yang mudah. Dibutuhkan ketelatenan, ketelitian, kesabaran, serta konsentrasi dan stamina yang kuat-teguh untuk mencapai ‘kesempurnaan’.

Subandi mampu menjalani dan ‘merasuki’ jagad itu karena sejak kelas I SD ia sudah ditempa di dunia itu oleh ayahnya, Gianto Wiguno yang menjadi pengrajin wayang kulit. Dari ayahnya itulah Subandi mendapatkan pelajaran dan pengalaman menggarap wayang tahap demi tahap. Bahkan ia dididik untuk menguasai satu jenis ornamen saja sampai ‘sempurna’ sebelum ia melangkah pada ornamen berikutnya.

‘Nunggak Semi’, itulah tema yang diusung Subandi Giyanto pada pameran tunggalnya. Nunggak semi adalah istilah dalam bahasa Jawa yang kurang lebih artinya adalah tumbuh, berkembang dari pokoknya.

Aja Adigang Adigung Adiguna, 30 x 50 x 80 cm, aluminium, akrilik, 2019, karya Subandi Gianto-Foto-A.Sartono

Boleh dikatakan Subandi bersemi dari pokok seni tatah sungging yang diterima dari ayahnya yang kemudian berkembang di tangannya dalam wujud visualisasi dan material yang bebeda. Subandi sesungguhnya menunggak-semikan kekayaan (pokok) kebudayaan asalnya yakni wayang dalam visualisasi, simbol, visi, dan makna yang berbeda tanpa harus kehilangan akar atau tonggaknya. Di tangan Giyanto apa yang disebut sebagai kesenian atau kebudayaan wayang itu menjadi ‘berbeda’ tanpa harus kehilangan rohnya.

Tampilan sekian ratus atau sekian ribu tokoh wayang, baik lengkap, setengah lengkap, atau hanya berupa potongan-potongan bagiannya tidak menghilangkan detail dan anatomi wayangnya. Sisi ini menampilkan Subandi yang sepertinya tidak mau kehilangan detail itu sendiri. Baik ketika Subandi mencoretkan gambar wayang kulit ataupun wayang beber, bahkan ketika mencoretpadukannya pada tubuh binatang seperti sapi, kuda, atau bahkan mobil yang dilukiskan realistik, detail ornamentasi tatahan wayang yang merenik itu seperti bubukan, semut, emas-emasan, inten-intenan, kawatan, langgatan, kembang ceplik, patran, rumpilan, kembang cengkeh, rambut gimbalan dan juga sunggingan motif-motif seperti kelopan, sawutan, tlacapan, kembangan, bludiran, banyu mangsi, ngulat-ulati, ngedus, cawen drenjeman, dan lain-lain pantang diabaikan bagi Subandi.

Konten Terkait:  Grosteks, Karya Natasa Jones
Hentikan Kerakusanmu, 140×140 cm, kanvas, akrilik, teknik sungging, 2016, karya Subandi Gianto-Foto-A.Sartono

Wayang juga menjadi wahana protes dan kritik sosial bagi Subandi. Kesetiaan Subandi pada tradisi tidak membuat Subandi terikat. Ada saatnya dengan media tradisi itu Subandi ‘memberontak’, protes, menyindir, mengingatkan, dan mengkritisi. Subandi pun bisa menampilkan dunia tradisi itu dalam visualisasi yang nakal, bahkan juga eksplosif. Karya-karyanya yang berjudul Jangan Rakus, Jangan Korupsi Mari Membangun Negeri, Hentikan Kerakusanmu barangkali merupakan bagian dari protes dan kritik sosial yang dilontarkan Subandi melalui karyanya.

Mantapkan Langkah Kudaku, 180 x 80 cm, kanvas, akrilik, prada emas, teknik sungging, 2018, karya Subandi Giyanto-Foto-A.Sartono

Demikian juga karya yang berjudul Petruk Dadi Ratu Semare Ketutupan Mega juga bisa dilihat sebagai kritis sosial. Kenakalan Subandi mungkin bisa dilihat pada sederetan karyanya yang berisi pepatah petitih Jawa, seperti Aja Dhemen Mangan liyan, Tikus Mati Ana Lumbung, Aja Rebutan Kursi, Melik Nggendhong Lali, dan lain-lain.

Seperti diungkapkan Rama Dr GP Sindhunata SJ dalam tulisan kuratorialnya, hidup nyata dan perjalanan seni Subandi bagaikan kisah wayang yang mengambil lakon Nunggak Semi. Hidup dan seninya terus berjalan dalam suka dan duka, terus bersemi dalam berbagai kemungkinannya, namun dalam semuanya itu tetap tinggallah tonggaknya. Dan tonggak itu adalah wayang yang tak kan pernah dikhianati atau ditinggalkannya di sepanjang hidupnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here