Buku tentang Perjuangan Tentara Rakyat Mataram di Masa Revolusi Fisik

0
30

Pada malam menjelang tanggal 15 Desember 1945, Badan Pemberontakan Rakyat Indonesia Matram (BPRI- Mataram) yang bermarkas di Bedono, Semarang, disiagakan. Soetardjo memimpin laskar ini merayapi jalan Bedono-Jambu-Ngampin-Ambarawa.

Ambarawa ternyata sudah ditinggalkan Sekutu yang menuju Semarang melewati Ungaran. Giliran seputar Semaranglah yang kemudian dikepung. Tanggal 15 Desember 1945 bagi Tentara Rakyat Mataram (TRM) adalah tanggal yang berkesan. Bersama laskar yang lain mereka memasuki dan merebut kembali kota Ambarawa dari tangan Sekutu.

Sebenarnya TRM  terbentuk karena ‘pecahnya’ BPRI-Mataram. Bermula saat Soetardjo memberi izin laskar Pemberontakan Rakjat Indonesia Poetri (PRIP) untuk bergabung. PRIP di bawah pimpinan Widayati ini sudah menunjukkan aksinya sejak Magelang dikepung. Keputusan ini  menimbulkan pro dan kontra. Soetardjo akhirnya memutuskan keluar dari BPRI- Mataram, tetapi tetap berjuang di garis depan. Pasukannya kemudian diberi nama TRM,  di mana PRIP ikut bergabung.

Nama TRM ini atas usul Pangeran Nototaruno, kerabat Pura Pakualaman. TRM bermarkas di gedung Triyasa, Bintaran Lor. Sewaktu pengepungan dan penyerbuan ke Semarang untuk dapur umum dan kepalangmerahan bermarkas di Pudakpayung. Laskar bersenjata di garis depan bermarkas di Ungaran. Sedangkan BPRI sendiri bermarkas di Mranggen berdampingan dengan Pasukan Solo.

Kegigihan perjuangan TRM ini tidak lepas dari pengamatan pihak Divisi IX.  Pimpinan Divisi IX,  Soedarsono  kemudian menyarankan agar TRM bergabung dengan kemiliteran resmi. Yang bersedia bergabung kemudian diresmikan dalam sebuah upacara pada tanggal 15 Mei 1946 di lapangan benteng Vredeburg Yogyakarta. Laskar TRM menjadi Batalyon 22 di bawah Resimen II, divisi IX. Soetardjo mendapat pangkat mayor.

Setelah resmi sebagai tentara, tugas pertama adalah menuju garis depan Srondol, Semarang. Bersama pasukan dari kesatuan lain mereka berjuang. Pertempuran yang dimulai sejak dini hari tersebut baru mereda setelah pukul 17.00. Semua pasukan ditarik mundur. Tercatat 15 orang anggota Batalyon 22/TRM hilang. Ketika dilakukan pencarian hanya 6 jasad yang ditemukan.

Setelah beberapa hari bertahan di garis depan Srondol, Batalyon 22/TRM, ditarik ke garis belakang. Bagaimanapun juga keberadaan pasukan yang terus-menerus di garis depan di rasa kurang baik. Selama di garis belakang mereka berada di Kaliurang, Yogyakarta. Di sana mereka mendapat pelatihan dan pendidikan di bawah bimbingan Kapten Arsyad dan Kapten Oetojo.

Batalyon 22/TRM juga pernah bertugas di Ciranji Jawa Barat, Juli 1946. Waktu itu namanya diubah menjadi Mobiele Bataljon I Divisi III/Diponegoro. Setelah kira-kira sebulan kemudian ditarik kembali ke Yogyakarta. Hanya sekitar dua bulan ‘beristirahat’ di markas, mereka kembali diberangkatkan ke medan perang Mangkang, Semarang.

Dalam perjalanan waktu anggota TRM ini ada yang tetap meneruskan dinas kemiliterannya, ada yang keluar baik untuk melanjutkan belajar ataupun bekerja di bidang lain. Tak sedikit pula yang gugur membela Ibu Pertiwi. Untuk menyambung persaudaraan kemudian dibentuk Ikatan ex TRM. Pertemuan disepakati setiap 15 Desember untuk mengenang Peristiwa Ambarawa.

Judul                   : Rawe-rawe Rantas, Malang-malang Putung

Penulis                : J. Roestam Afandi

Penerbit              : Mubes & Reuni Ikatan Keluarga ex Tentara Rakyat Mataram, 1992,

Yogyakarta

Bahasa                : Indonesia

Jumlah halaman : 79

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here