Sebanyak 25 penyair dari 50 penyair yang puisinya diterbitkan dalam antologi puisi ‘Membaca Hujan di Bulan Purnama’ hadir dalam acara Sastra Bulan Purnama edisi 92, yang diisi peluncuran antologi puisi tersebut, Sabtu 4 Mei 2019 di Tembi Rumah Budaya,  Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Para penyair yang hadir tersebut berasal dari berbagai kota yang berbeda: Jakarta, Semarang, Yogya, Solo, karanganyar, Sragen, Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto. Bisa dikatakan para penyair tersebut membaca hujan di Tembi, karena buku puisi yang diluncurkan berjudul “Membaca Hujan di Bulan Purnama’, meskipun saat acara berlangsung cuaca cerah. Masing-masing penyair membacakan dua puisi, namun ada juga yang membacakan satu puisi.

Para penyair dari berbagai usia ini sebagian sering tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama, dan beberapa di antaranya baru sekali datang untuk membacakan puisi karyanya, setidaknya seperti Yuditeha dari Karanganyar, atau juga Mutia Senja dari Sragen, atau Polanco, Dalle Dalminto, Wahyu We, Yoseph Yapi Taum, Farikhatul ‘Ubudiyah tinggal di Yogyakarta.

Mutia Senja

Sulis Bambang, Yanti S Sastro dan Heru Mugiarso, yang tinggal di Semarang sudah beberapa kali tampil di Sastra Bulan Purnama, bahkan Sulis Bambang, yang biasa dipanggil Bunda Sulis tampil bersama komunitasnya yang diberi nama Bengkel Sastra Taman Maluku, dan biasa disebut BSTM.

Suyitono Ethex dan Marlin Dinamikanto, keduanya datang dari kota yang berbeda, Ethex dari Mojokerto dan Marlin dari Jakarta. Setiap keduanya tiba di Tembi selalu tidak lupa nongkrong di angkringan tembi, dan bisa dipastikan menikmati kopi.

“Ngopi dulu Om, biar mripat segar,” begitulah Ethex selalu memberi penjelasan.

Yoseph Yapi Taum, asli dari NTT dan sudah lama tinggal di Yogakarta, dan sehari-harinya mengajar di Sanata Dharma, memang belum pernah hadir di Sastra Bulan Purnama, tetapi nama Tembi akrab di telinganya, apalagi dia sering melewati jalan di depan Tembi setiap kali dia hendak ke Imogiri atau Plered. Namun, rupanya apes bagi Yapi, demikian panggilannya, saat hendak ke Tembi untuk membaca puisi di Sastra Bulan Purnama, dia kebablasan ke arah selatan sehingga melewati pertigaan Tembi.

Konten Terkait:  Puisi Sus S Harjono

“Waduh, saya sampai jalan terus setelah melewati pertigaan Tembi, baru sadar setelah  melewati lampu merah Manding,” kata Yosep Yapi Taum.

Yanti S. Sastro Prayitno

Para perempuan penyair seperti Ely Widayati, Yanti Sastro, Sulis Bambang, Sus Harjono, Ristia Herdiana, Yuliani Kumudaswari, yang sudah terbiasa membaca puisi, tidak hanya di Sastra Bulan Purnama, terlihat ekspresif dalam membaca puisi, bahkan mimik muka dan gerak tangan menunjukkan bahwa mereka menghayati dalam membaca puisi.

Tentu, tidak hanya pembacaan puisi, ada lagu puisi yang ditampilkan oleh kelompok musik Akar Renjana, yang menggarap dua puisi karya Yuliani Kumudaswari.

Sastra Bulan Purnama edisi 92, yang diisi peluncuran antologi puisi karya penyair dari berbagai kota, tampaknya sekaligus merupakan pertemuan penyair, dan masing-masing saling berkenalan. Bahkan ada penyair senior seperti Marjudin Suaeb dari Yogyakarta, kalau tidak dikenalkan dengan penyair yang lebih muda, dia tidak akan bisa saling mengenali.

Penyair senior lainnya yang tinggal di Yogya, dan sudah sejak tahun 1970-an menjadi redaktur rubrik sastra, terlihat tua sendiri, namun dia masih terus menulis puisi, bahkan bisa dikatakan masih produktif menulis puisi. “Saya kira, saya paling tua di antara para penyair yang hadir dalam acara Sastra Bulan Purnama ini,” kata Eka, panggilan dari Sutirman Eka Ardhana.

Sebelumnya Eka mengucapkan terimakasih kepada seorang mahasiswi dari Mesir, Noha Mohamed Fathy namanya, yang sedang belajar di Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, membuka acara dengan membacakan puisi Eka yang berjudul ‘Tentang Perjalanan’.

“Terimakasih Noha telah memilih puisi saya untuk dibacakan” ujar Eka Ardhana. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here