Perbantahan Puntadewa (1): Buyut Wisana

1
52

Puntadewa heran tiba-tiba didatangi oleh seseorang yang mengaku bernama Buyut Wisana, tetua di Medanglengking. Belum sempat Punta bertanya lebih jauh, Buyut Wisana sudah nerocos terlebih dahulu.

“Duh Kisanak, kalau tidak salah lihat Kisanak ini adalah Raden Punta sulung dari kelima anak laki-laki yang disebut Pandawa. Di belakang Raden Punta ada Raden Wrekudara, Raden Arjuna, Raden Pinten dan Tangsen beserta Ratu Durpadi.”

“Benar Ki Buyut Wisana, penglihatanmu masih jelas.”

“Perlu diketahui duh Raden, bahwa saya mengalami kesedihan sejak Raden Punta, beserta istri dan keempat adiknya terusir dari Keraton Hastinapura karena kalah main dadu. Seribu brahmana-mahamuni pandita pilihan mengikuti jalan sengsara yang diderita Pandawa.  Walaupun saya tidak ikut rombongan brahmana, saya mengamati dari Medanglengking. Siang malam berdoa untuk keselamatan Randen Punta dan rombongan. Hingga pada suatu hari, kasang (kantong kain bercangklong) kepunyaanku yang berisi kitab Wedha dan sesaji mentega tersangkut di tanduk rusa dan dibawa pergi. Saya sudah memburu rusa tersebut ke sana ke mari, sampai badanku loyo, namun rusa tersebut tidak berhasil aku temukan. Peristiwa hilangnya kitab Wedha dan sesaji tersebut sampai saat ini masih terbayang dimataku. Apakah itu pertanda bahwa aku masih kurang dalam menjalani laku prihatin. Ampuni aku Raden Punta, aku khilaf. Sudilah kiranya Raden Punta menolong aku untuk mencarikan serta menemukan kasang beserta isinya.”

“Baiklah Ki Buyut Wisana, sekarang pulanglah ke Medanglengking, kami akan mencari rusa yang tanduknya membawa kasang milik Ki Buyut.”

“Jangan khawatirkan aku Raden Punta, rumahku tidak jauh dari tempat ini. Medanglengking itu berdekatan dengan tempat yang sering didatangi rusa tersebut. Saya berharap agar Raden Punta dan adik-adiknya dapat segera menemukan rusa yang dicari.”

Puntadewa segera memerintahkan adik-adiknya untuk mencari rusa pembawa kasang.  “Adhimas Wrekudara, Arjuna, dan Kembar ayo kita bersama-sama mencari rusa bertanduk. Jika sudah tertangkap, kasang yang berisi Wedha segera kita haturkan kepada Buyut Wisana.”

Pencarian dilakukan, mulai dari tempat di mana rusa sering datang sampai dengan seluruh kawasan Medanglengking dan sekitarnya.

“Duh Batara kami mohon semoga kami segera menemukan kitab Wedha di dalam kasang yang dibawa pergi si rusa untuk kemudian diserahkan kepada Ki Buyut Wisana,” demikian keprihatinan Raden Punta.

Untuk beberapa lama, mereka tidak menemukannya. Rusa yang dicari seakan-akan lenyap ditelan bumi. Benarkah rusa itu jelmaan manusia atau manusia itu jelmaan rusa? Pikiran mereka mulai dikacaukan dan menjadi bingung.

Puntadewa menyadari bahwa  ada kemayan atau daya kesaktian yang sengaja dihembuskan oleh orang linuwih atau orang yang sederajat dengan dewa, untuk menghalangi Pandawa dalam mencari rusa. Menyikapi hal tersebut, Puntadewa mengajak adik-adiknya agar jangan terpengaruh oleh kemayan tersebut. Mengetahui bahwa kemayan yang dihembuskan untuk mengacaukan pikiran tidak berhasil mempengaruhi akal budi Pandawa,  maka dihembuskanlah kemayan selanjutnya.

Kali ini  Pandawa dengan tiba-tiba merasakan bahwa siang itu keadaan di sekelilingnya menjadi kering kerontang, panas menyengat. Mereka merasakan haus luar biasa. Lehernya seperti tercekik dan sulit bernapas. Menyikapi keadaan seperti itu, kelima Pandawa sepakat untuk menghentikan pencarian rusa dan merubah arah untuk menemukan sumber mata air.

Tidak lama kemudian, si kembar Pinten dan Tangsen menemukan sebuah sendang yang jernih berkilau. Rasa haus yang luar biasa membuat mereka tak mempunyai waktu untuk berpikir panjang. Nalurinya mendorong kuat-kuat untuk segera meminum air tersebut. Dan setelah meminum air telaga, mereka mati seketika.

Tidak beberapa lama Wrekudara dan Arjuna datang ke sendang yang sama. Seperti yang dialami Pingten dan Tangsen, mereka berdua pun mati setelah meminum air telaga.

Tinggal Puntadewa seorang yang berdiri di pinggir telaga, memandang keempat adiknya yang sudah mati. Ia sangat sedih, mengapa adiknya yang menjadi korban bukan dirinya. Raden Punta tahu bahwa telaga yang sangat jernih airnya itulah penyebab kematian adik-adiknya. Oleh karenya ia memutuskan, lebih baik mati kehausan dari pada mati minum air telaga.

Tidak lama kemudian bertiuplah dari langit seekor burung garuda besar turun  dan hinggap persis di depan Puntadewa, sembari berkata:

“Hei Putadewa, mengapa engkau di sini?”

“Kamu tahu namaku Puntadewa?”

“Ha ha ha siapa yang tidak kenal dengan anak sulung Prabu Pandu, putra mahkota Hastinapura.”

Puntadewa semakin heran, selain burung garuda itu bisa bicara, ia juga mengetahui siapa dirinya.

“Kamu siapa?

“Namaku Garuda Pancawalidarma, aku yang berkuasa atas Telagamaya ini”

“Oo layak, untuk itu engkau telah menghembuskan kemayan hawa panas sehingga adik-adikku pada kehausan. Dan dengan air telaga engkau telah memperdaya mereka berempat?”

“Raden Punta jangan menyalahkan aku. Jika pun benar apa yang engkau tuduhkan bahwa aku telah meniupkan kamayan hawa panas, tetapi jika mereka tidak meminum air telaga seperti kamu, tentunya mereka tidak akan mati. Namun jika engkau besikeras menyalahkan aku, baiklah aku akan menghidupkan adikmu. Pilihlah di antara Wrekudara atau Arjuna, tetapi kembar saya minta”

“Jangan kembar. Jika dibandingkan Wrekudara atau Arjuna, bagi saya kembar lebih berbobot. Karena mereka yatim-piatu. Sejak lahir tidak ditunggui ayah dan ibunya. Sebagai saudara sulung saya bertanggungjawab menjadi pengganti orangtua.”

“Kalau kembar tidak boleh aku minta tak apalah, asalkan engkau bersedia menjadi gantinya. Ketahuilah hai Puntadewa bahwa rusa yang tanduknya membawa kasang berisi kitab Wedha dan sesaji itu adalah aku. Juga yang menyamar sebagai  Ki Buyut Wisana. Aku juga yang membuat suasana di dalam hutan panas sehingga membuat para Pandawa kehausan dan meminum air telaga. Tetapi jangan salah sangka. Semuanya itu aku lakukan sebagai sarana agar aku dapat bertemu denganmu Puntadewa. Coba tataplah bola mataku dengan kejernihan hati, ada siapakah di sana?” (Bersambung) 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here