Satu lembar karya foto bisa mewakili seribu kata, demikian kata orang. Anton Gautama membuktikan hal itu melalui karya fotografi yang dipamerkannya di Galeri RJ Katamsi, ISI, Yogyakarta, mulai 30 April-10 Mei 2019. Pameran ini dibuka oleh Rektor ISI, Prof Dr M Agus Burhan M Hum.

Karya foto Anton Gautama menyodorkan suasana yang massif tanpa kehadiran orang di dalamnya. Foto realistic dimensional Anton seperti menyedot, mengajak pemirsa (apresian)-nya untuk masuk ke dalam suasana yang dibekukan dalam selembar bidang karya fotografinya. Orang yang menikmati karyanya diajak untuk berimajinasi, membayangkan, menafsirkan, bahkan menduga-duga tentang apa yang ada atau melatarbelakangi semua yang ditampilkan melalui karya foto itu.

Dr Irwandi MSn selaku dosen dan kritikus fotografi ISI yang memberikan pengantar atas pameran ini menyatakan bahwa Anton Gautama sepertinya memberikan paparan titik-titik pengamatan (puncta) untuk membebaskan pemirsa memilih satu titik (punctum) masing-masing. Pilihan fotografis Anton menunjukkan kedekatan diri, bahkan menempatkan dirinya sendiri sebagai subjek yang (mungkin pernah) mengalami; hidup di ruang-ruang dalam rumah seperti yang ia foto.

Burung bangau simbol keberuntungan dan harmoni bagi masyarakat China, karya Anton Gautama-Foto-A.Sartono

Home Sweet Home adalah karya fotografi Anton Gautama yang menunjukkan detail-detail yang sering dilewatkan oleh orang lain. Tata pengambilan foto yang diperagakan oleh Anton Gautama (pengambilan objek foto secara frontal, paralel, jarak dekat) menunjukkan sebuah kedekatan emosional dan sosial; sebuah indikasi adanya keterlibatan; Anton Gautama sebagai produser citra merupakan bagian dari citra itu sendiri. Pada sisi itu tampak pula posisi fotografi bagi Anton, yakni sebagai media bicara, membicarakan sesuatu yang dekat dengan dirinya, disertai dengan upaya presentasi karya yang intensional pula.

Hal tersebut di atas bukan sesuatu yang mustahil mengingat Anton Gautama terlahir sebagai generasi ketiga Tionghoa-Indonesia di Makassar. Anton dibesarkan di bawah pengaruh budaya Tionghoa yang dibawa oleh kakek-neneknya dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di Surabaya. Home Sweet Home yang dipilihnya sebagai tema akan karya fotografinya merupakan perjalanan evolusi budaya Cina-Indonesia.

Konten Terkait:  Tidak Baik Bepergian Jauh pada Senin Pon Pekan Ini
Rumah yang dihuni sampai lima generasi, Karya Anton Gautama-Foto-A.Sartono

Ini adalah kisah pernikahan yang harmonis dari dua budaya yang berbeda namun indah. Ini bukanlah perjalanan tanpa rintangan, namun juga perjalanan dengan imbalan yang tidak ternilai. Tantangan dimulai saat meminta izin pemilik untuk mengabadikan rumah mereka. Izin yang diberikan pada perjalanannya menjadikan tumbuhnya persahabatan baru. Tantangan untuk menemukan rumah yang tepat untuk diabadikan, telah memberikan kesempatan istimewa kepada Anton, yaitu berupa kesempatan untuk mendengarkan cerita yang tidak ternilai, yang menawarkan pelajaran berharga dalam kehidupan.

Salah satu sisi pameran foto darfi Anton Gunawan-Foto-A.Sartono

Kemudian Anton bisa menarik keseimpulan bahwa rumah bukanlah sekadar tempat tinggal atau hunian, namun sebuah monumen tempat cerita diukir dan sejarah dibuat. Pada rumah ada suasana keakraban, koneksi, dan rasa kerinduan yang mendalam. Tidak peduli apakah rumah tua atau rumah baru dan modern. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here