Umumnya orang enggan mengakui kenyataan usia diri, terlebih jika usia itu sudah di atas 50 tahun. Mungkin ada perasaan tidak mau atau menolak dianggap tua. Pada sisi lain mungkin merasa bahwa dirinya masih kuat, sehat, dan tidak jauh beda dengan anak-anak muda usia 25 tahunan.

Tidak aneh jika orang (tua) ditanya perihal usia umunya enggan menjawab atau menyatakan secara jujur atau berusaha menyembunyikannya. Penolakan atau keengganan menerima kenyataan bahwa diri telah tua bisa dikamuflase dengan berbagai cara. Semir rambut merupakan salah satunya. Pemutihan dan pengencangan kulit juga merupakan cara lain untuk hal itu.

Kelompok seniman Wedangan justru menyatakan diri sebaliknya. Mereka yang terdiri dari Artha Pararta Dharma, Bambang Sukono Wijaya, Dn Koestolo, Mas Tik (Pratiknyo), Naima Farid, Picuk Siwi Asmara, Sudjadidjono (Mas Jakcs), dan Roni Yudho dengan jujur menyatakan diri sebagai Para Pini yang diangkatnya sebagai tema dalam pameran bersamanya di Tembi Rumah Budaya, 29 April-12 Mei 2019.

Para Pini sebagai tema ini sebenarnya merupakan penggalan kalimat ‘para pini sepuh’ (para lanjut usia). Tema tersebut dipilih karena semua seniman tersebut memang berusia di atas 60 tahun yang menegaskan bahwa mereka tidak muda lagi.

Festival Memedi Sawah, 90×70 cm, AOC, 2017, karya Naisma Farid-Foto-A.Sartono

Sekalipun demikian, sepuh atau lanjut usia tidak bisa diartikan sebagai sepuh atau tua dan layu dalam semangat bekerja atau berkarya. Itu mereka tunjukkan dengan kekaryaan mereka sesuai minat, bakat, dan kreativitasnya masing-masing. Apa yang disebut semangat barangkali memang tidak bisa dipenjarakan oleh wujud fisik ketubuhan. Semangat atau niatan itulah yang menjadi daya dorong bagi kreativitas dan produktivitas karya mereka.

Pameran ini selain menunjukkan kekaryaan mereka, sekaligus eksistensi mereka, juga menjadi sarana bagi eratnya tali silaturahmi di antara mereka. Silaturahmi menjadi kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial sebab tidak ada manusia yang mampu hidup sendiri. Silaturahmi menumbuhkan gairah atau semangat yang terus diperlukan untuk melanjutkan hidup dengan gembira dan penuh syukur.

Suasana pameran Para Pini di Tembi-Foto-A.Sartono

Usia tua bukan sesuatu yang harus dicemaskan, bahkan ditakuti dan ditolak dengan berbagai kamuflase. Sebab apa pun kamuflasi yang dilakukan atasnya tidak akan mengubah substansinya. Waktu adalah ‘kala’ yang tidak bisa dilawan. Ia hanya bisa diterima dengan ‘legawa’ dan daripadanya kita hanya dan bahkan harus bisa mengisinya dengan sesuatu yang bernilai. Kerja dan karya adalah salah satunya.

Soekarno dan Rahmawati, 120×140 cm, mixed media, AOC, 2018, karya Dn Koestolo-Foto-A.Sartono

Semua makhluk hidup akan tunduk pada sang waktu. Namun selama makhluk hidup itu hidup kiranya ia bisa memberikan sesuatu bagi hidup dan kehidupan itu sendiri. Tidak ada yang lain. Sebab makhluk itu hidup karena juga memperoleh sesuatu dari Sang Pemberi Hidup, dan dari segala sesuatu yang ada di lingkungan hidupnya. Ia hanya menjadi bermakna jika mampu memberikan sesuatu bagi hidup dan kehidupan sebagai bentuk syukur dari Sang Pemberi Hidup. Karya dan kerja yang prima adalah salah satunya.

(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here