Membaca Hujan di Bulan Purnama

1
32

‘Membaca Hujan di Bulan Purnama’ adalah buku antologi puisi yang menyajikan puisi karya 50 penyair dari berbagai kota di Indonesia, yang akan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama edisi 92, Sabtu, 4 Mei 2019, pukul 19.30 di  Tembi Rumah budaya, Sewon, Bantul,  Yogyakarta.

Para penyair ada yang berasal  dari Mamuju (Sulawesi Barat),  Riau,  Padang, Jakarta, Bekasi, Semarang, Bandung, Surabaya, Ngawi, Sidoarjo, Mojokerto, Madura, Bogor, Yogyakarta, Purbalinga, Salatiga, Kediri, Sragen dan kota-kota lain. Tidak semua bisa hadir saat peluncuran buku, terutama yang dari luar Jawa, tetapi sejumlah penyair lainnya, yang dari beberapa kota di Jawa akan hadir membacakan puisi karyanya.

Beberapa penyair yang akan hadir dalam peluncuran buku puisi ‘Membaca Hujan di Bulan Purnama’ di antaranya: Bambang Nugroho, Ben Sadhana, Eko Winardi, Ely Widayati Farikhatul ‘Ubudiyah, Heru Mugiarso, Indri Yuswandari, Julia Utami, Mahfud RD, Marjudin Suaeb, Marlin Dinamikanto, Mutia Senja, Polanco S.Achri, Risen Dhawuh Abdullah, Ristia Herdiana, Siwi Dwi Saputro, Sri Wijayanti, Sulis Bambang, Sus.S.Harjono, Sutirman Eka Ardhana, Wahyu We, Yanti S Sastro, Yoseph Yapi Taum, Yuditeha dan Yuliani Kumudaswari.

Sus S. Harjono, Sragen

Eko Winardi, seorang aktor teater dari Yogyakarta, dan seringkali pentas teater bersama Teater Perdikan, yang menggarap naskah karya Emha Ainun Najib, akan ikut tampil membacakan puisi karyanya yang ada dalam buku itu.

Sulis Bambang, seorang perempuan penyair dari Semarang dan memimpin satu komunitas yang diberi nama Bengkel Sastra Taman Maluku (BSTM) akan membacakan puisi-puisi karyanya. Perempuan penyair lainnya, sekaligus seorang guru, Sus.S Harjono, tidak ketinggalan akan ikut tampil membaca puisi. Kedua perempuan penyair ini sudah beberapa kali tampil di Sastra Bulan Purnama.

Puisi-puisi yang diterbitkan ini, sebelumnya, setiap Jumat, pernah ditayang di rubrik sastra tembi.net dan di bulan Mei 2019 diterbitkan menjadi buku antologi puisi. Ini merupakan seri kedua dari buku puisi seri sastra tembi.net. Seri pertama sudah diterbitkan di bulan Mei 2018 diberi judul ‘Kepada Hujan di Bulan Purnama’ menampilkan 31 penyair dari berbagai kota.

Nuranto, ketua Yayasan Rumah Budaya Tembi yang mengelola tembi.net dan Tembi Rumah Buaya menyebutkan, melalui ruang digital di rubrik sastra tembi.net kita memberi ruang sastra, dalam hal ini puisi, agar bisa dibaca secara lebih luas dan bisa diakses dari mana saja.

Sulis Bambang, Semarang

“Namun kita juga tidak hanya memberi ruang digital, tetapi memadukan dengan ruang konvensional, maka puisi yang sudah ditayang di ruang digital kita terbitkan, yang kemudian diluncurkan di ruang konvensional dan diteruskan di ruang digital melalui streaming Youtube Sastra Bula Purnama,” ujar Nuranto.

Selain dibacakan, ada puisi yang akan dilagukan oleh kelompok musik ‘Akar Renjana’ dari Yogyakarta. Kelompok musik anak muda ini akan melagukan puisi karya Yuliani Kumudaswari, seorang perempuan penyair dari Sidoarjo.

Sastra Bulan Purnama edisi 92, yang mestinya jatuh di pertengahan Mei 2019  diajukan penyelenggaraannya di awal Mei 2019, karena bulan Mei sudah memasuki bulan puasa, dan Sabtu, 4 Mei 2019, satu hari sebelum memasuki bulan puasa, makanya dipilih untuk mengawali Sastra Bulan Purnama di bulan Mei 2019.

Eko Winardi, Yogyakarta

Seorang penyair dari Yogya, yang sudah lama bergulat dengan sastra, dan pada tahun 1970-an telah menjadi redaktur sastra, dan mengasuh rubrik sastra di salah satu surat kabar di Yogyakarta, Sutirman Eka Ardhana, akan ikut tampil membaca puisi karyanya yang masuk dalam antologi puisi ‘Membaca Hujan di Bulan Pernama’. Penyair Yogya lainnya, Marjudin Suaeb, dari Kulonprogo, yang sudah lama menekuni kepenyairan sejak tahun 1970-an juga akan ikut tampil membaca puisi.

Jadi, ‘Membaca Hujan di Bulan Purnama’ merupakan pertemuan penyair dari berbagai generasi yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. (*)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here