Nama Indra Suroinggeno mungkin asing di telinga kita. Namun beberapa tahun belakangan ini, namanya di dunia perwayangan dan permuseuman di Yogyakarta, mulai dikenal. Di usianya yang ke-31 ia berani mendirikan museum Wayang Beber pertama yang menyajikan koleksi lukisan Wayang Beber. Ia beri nama Museum Wayang Beber Sekartaji, yang terletak di Dusun Kanutan, RT 08, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta, pada 1 Oktober tahun 2017. Keberanian pemuda kelahiran tahun 1986 ini sangat perlu diapresiasi.

Sebelum menggeluti dan melukis Wayang Beber, Indra yang memiliki latar belakang keluarga penganut Kristiani dan Kejawen ini aktif dalam pementasan dan pembuatan Wayang Wahyu (wayang kreasi baru yang menggunakan cerita/lakon berdasarkan kitab suci kristiani, biasanya digunakan untuk mewartakan Injil).

Keinginan agar seni wayang khususnya Wayang Wahyu agar tidak terkikis, Indra mendirikan Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit untuk mengajarkan kepada generasi muda. Namun seiring perjalanannya, keinginan membangun generasi muda untuk mengembangkan kebudayaan dengan jangkauan yang lebih luas, ia pun beralih dan tertarik pada Wayang Beber.

Indra Suroinggeno (Kanan) bersama Karya Lukisan Wayang Bebernya berjudul Surya ‘Weda Wangi Ing Tyas’, Foto Dokumentasi Pribadi

Menurut Indra, dari sekian banyak wayang di Nusantara; cerita Wayang Beber adalah hasil karya asli dari kearifan lokal. Wayang Beber merupakan seni wayang yang penokohan dan ceritanya dilukiskan dalam sebuah lembaran.

Secara terminologi, wayang berarti penggambaran karakter sifat-sifat manusia, sedangkan beber berarti dibeberkan, dan dalang sebagai represntasi Tuhan yang menggerakkan setiap kejadian di alam semesta. Dari berbagai sumber mengatakan, Wayang Beber muncul dan berkembang di Jawa pada masa pra Islam. Indra mengatakan sebenarnya induk dari Wayang Beber adalah bentuk relief dari candi-candi di Nusantara, yang berkembang melalui media daun lontar kemudian ke lulang kulit dan kertas dlancang /daluang.

Meski sudah akrab dengan dunia perwayangan dan seni lukis sejak kecil,  namun ketertarikan Indra di dunia seni dan perwayangan, diawali ketika ia mendapat kesempatan bekerja di kapal pesiar yang membawanya menjelajah dunia hingga menetap di Italia saat berusia 24 tahun.

Pengalaman bertemu dengan berbagai orang di berbagai negara, memberinya banyak wawasan, baik budaya, agama, maupun pemikiran-pemikiran masyarakatnya yang berbeda-beda, bahkan lebih kompleks dibandingkan Indonesia. Sehingga membuatnya lebih mencintai Indonesia dan menyakini bahwa “sumber dari segala yang membedakan kita dari makhluk lain adalah kebudayaan.”

Konten Terkait:  Drama Melayu Tionghoa di Indonesia untuk Gelar Doktor

Indra mengatakan kepada Tembi, perjumpaannya dengan berbagai masyarakat yang ia temui di Eropa, beranggapan bahwa “Indonesia adalah surga yang nyata”, baik orang-orangnya, kekayaan alamnya, dan kekayaan budayanya. Hal tersebutlah yang akhirnya mendorong Indra melihat Indonesia dengan kacamata yang baru.

Indra Suroinggeno ketika menunjukan karyanya kepada pengunjung museum, foto Dokumentasi PribadiKeinginan mengembangkan budaya yang mulai terkikis ia lakukan setelah kembali ke Yogyakarta tahun 2013. Ia bekerja di Museum Sonobudoyo (museum sejarah dan kebudayaan Jawa di Yogyakarta).  Di museum ini ia mulai mempelajari wayang serta filosofinya dan mempertemukannya dengan Wayang Wahyu. Tidak hanya turut mementaskan, tetapi Indra juga terlibat dalam pembuatan dan memproduksi Wayang Wahyu.

Hingga pada akhirnya, membawa Indra mendalami Wayang Beber.  Ia pun berguru langsung pada maestro Wayang Beber, Hermin Istiariningsih atau lebih dikenal dengan Mbah Ning.

Di tengah waktu bekerja di museum Sonobudaya, pemuda jebolan Duta Persada bidang Kapal Pesiar dan Perhotelan angkatan 2007 ini, menyempatkan dirinya berkuliah di  Universitas Widya Mataram dengan mengambil jurusan Ekonomi tahun 2013. Kekonsistenannya dan aktif dalam mengembangkan dan membuat wayang, mengantarkannya juga kepada Beasiswa Akademi Komunitas Seni Budaya dari Sri Sultan Hamengku Buwono X, untuk berkuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan minat utama Kriya Kulit selama satu tahun pada tahun 2015.

Pementasan Wayang Beber oleh Sanggar Bhuana Alit binaan Indra Suroinggeno di Museum Wayang beber Sekartaji, Foto Dokumentasi Pribadi

Melestarikan Wayang Beber sebagai hasil karya adiluhung asli Nusantara, agar bisa menjadi sebuah jendela untuk melihat budaya masa lalu, merupakan pijakan pemuda yang memiliki nama asli Trias Indra Setiawan ini untuk mendirikan Museum Beber Sekartaji. Selain karya-karya dari Indra sendiri, terdapat koleksi lukisan seniman Wayang Beber, antara lain Hemin Istiariningsih, Dani Iswardana. Saat ini, ia habiskan sebagian besar waktunya untuk melukis Wayang Beber dan mengajarkan ke generasi muda. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here