Kisah Suparto Brata Jatuh Bangun Bersama Sastrawan Jawa

0
55

Suparto Brata yang lahir pada bulan Februari 1932 adalah salah seorang sastrawan Jawa senior. Berbagai karyanya termuat dalam berbagai media baik berupa cerita pendek, cerita bersambung, esai maupun tulisan-tulisan lain.

Lingkungan tempat tinggal dan keluarga sangat mempengaruhi kecintaan Suparto Brata terhadap budaya Jawa. Ibunya yang suka mendongeng, pertunjukan-pertunjukan kesenian seperti wayang, ketoprak semua membekas dalam memorinya. Lingkungan sekolah yang juga dominan tentang pelajaran membaca dan menulis tak kalah ikut andil.

Suparto Brata juga sangat gemar membaca, segala bacaan dia lahap. Baik berbahasa Jawa, Indonesia bahkan Belanda. Dari yang berbentuk tembang sampai gancaran (‘tulisan bebas”). Dari situlah kemudian Suparto Brata tertarik untuk menulis. Kegemarannya membaca menjadi bekal atau inspirasi dari tulisan-tulisannya.

Ketika Majalah Panjebar Semangat tahun 1959 mengadakan lomba menulis cerita bersambung, Suparto Brata menjadi juara pertama, dengan judul cerita  Kaum Republik. Ia mengalahkan Any Asmara penulis yang lebih senior. Peristiwa ini memantapkan niatnya untuk berkecimpung dalam dunia sastra dan pers Jawa. Tulisan-tulisannya sangat digemari, terbukti dari banyaknya surat pembaca yang ditujukan kepadanya. Suparto Brata mempunyai andil yang besar terhadap Djaya Baya, majalah berbahasa Jawa terbitan Surabaya.

Dari mengirim tulisan ke media, Suparto Brata kemudian berniat menerbitkan buku. Setelah melalui berbagai rintangan, jatuh bangun berbagai bukunya terbit. Salah satu yang ikut berjasa dalam penebitan bukunya adalah CV Gema Solo.

Suparto Brata memang konsisten dalam menggeluti sastra dan pers Jawa. Prinsipnya ‘Jatuh Bangun Bersama Sastra Jawa’. Pahit manis, saat-saat sulit mau pun saat-saat menggembirakan silih berganti dilaluinya. Atas dedikasinya terhadap bahasa dan sastra Jawa tersebut,  pada tahun 2000 Suparto Brata mendapatkan hadiah Rancage. Tahun 2001 mendapat hadiah Rancage yang kedua berkat karya bukunya berjudul Trem dan Rancage yang ketiga tahun 2005 atas bukunya berjudul Donyane Wong Culika.

Tujuan Suparto Brata menulis dan menerbitkan buku berbahasa Jawa sebenarnya adalah untuk menghadirkan bacaan berbahasa Jawa di masyarakat umum. Bacaan seperti ini ikut andil dalam  membangun karakter seseorang.  Oleh karena itu dalam membuat dan menerbitkan buku selalu mengupayakan mutu, memenuhi kebutuhan pembaca dan mempunyai nilai jual. Salah satu caranya adalah memperhatikan karakter atau kalangan yang akan menjadi sasarannya.

Judul                   : Jatuh Bangun Bersama Sastra Jawa

Penulis                : Suparto Brata

Penerbit              : CV Litera Media Center, 2011, Surabaya

Bahasa                : Indonesia

Jumlah halaman : vi + 125

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here