Puisi Hafney Maulana

0
97

Memusikan Cinta Di Hati Yang Sunyi

Memusikan Cinta ]

Jika ulat, mengasingkan diri jadi kepompong
dengan segala hati dan cinta
Jelmakan kupu-kupu di bunga wangi
menebar benih serbuk kasih
Kesetiaan cinta saling mengukur dalam diri
yang merunduk dalam sunyi dan nyanyi
“Dengan cemburu tak bisa patahkan cinta,” katamu
aku terus memandang cahaya matamu
Maka, sampai pada titik takdir, cinta tak pernah pergi
diam di hati
Yang purba, Adam pun Hawa
dalam bait sunyi:

[ Di Hati Yang Sunyi ]

Aku rebah, mencari gerak daun
Pohon meranggas:

Ulat dan kepompong
Beku menyimpan sunyi

Tembilahan, 2018

 

Sepenggal Usia Yang Tertinggal

[Sepenggal Usia]

“simpan mimpimu di sini” katamu
kenapa mesti cinta dan rindu
membuat lupa
seperti purba adam dan hawa
mengunyah sepi mendekap sunyi
jatuh dari pohon qoldi
maka biarkanlah
perjalanan ini membesarkan
ikan-ikan sunyi dalam rabuku
ketika usia tinggal sayap
di ranjang mimpi
sebuah rumah sunyi
“selamat tinggal”
di otakku

[Yang Tertinggal]

hanya napasmu
menggeliat menyentuh jantungku
terkapar di jala waktu

Tembilahan, 2017

 

Puisi Cinta Untuk Kekasih

[Puisi Cinta]

menapak komplikasi klimaks rindu
menyapa pagi, siang atau pun malam
tersentak dalam langgam nan sepi

kata tak terucap
seperti kristal berkilau dari daun ke daun
memandang kerling matamu tenggelam dalan cintaku
seperti pohon rimbun tempat berteduh

“terbanglah wahai kupu-kupuku dalam bantal rinduku,” bisikmu

[Untuk Kekasih]

aku tebar wangi di rambutmu
walau gerimis menyunting pandang
pada kembang mawar
sampai mekar bermekaran di matamu

“jika ini epitaf cinta maka kita dekap bersama, agar hidup penuh rasa,” bisikku

Tembilahan, 2017

 

Desember Ke Januari

[ Desember ]

hujan membasahi lekuk-lekuk daun.
angin menusuk ubun-ubunku
di batas senja menatap bias mentari

langit penuh lukisan aksara bercahaya merobek
almanak desember
meliuk mempesona dalam deru tasbih penyejuk jiwa,

[ Januari ]

sisakan waktu untuk berdoa
seperti ilalang di halaman
melantunkan alif-lam-mim
bertasbihkan angin

desember telah berlalu, dengan harap
kutemukan lagi senyummu
pada hari dan jejak yang lain

jejak yang lain

Tembilahan, 2018

 

Topeng Sunyi

⦁ Potret Diri dan Topeng-Topeng Kehidupan: Afandi

[Topeng]

topeng-topeng wajahku berlumut
tersadai di batu

lebur dalam wajah sendiri
menjadi embun di cermin waktu

“kenali wajahmu,” katamu

aku masih tepakur
mengutip-ngutip waktu

[ Sunyi ]

dalam sunyi
hari-hariku membangun
biografi diri

topeng wajahku
tergolek lemah membias zikir
shiratal mustaqim

Tembilahan, 2018

 

Hafney Maulana lahir tahun 1965, di Sungai Luar, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Karya puisinya telah dimuat di berbagai media massa daerah maupun nasional dan berbagai antologi antara lain: Antologi Puisi Penyair Abad 21 (Balai Pustaka, Jakarta 1996), Antologi Puisi Indonesia 1997 (KSI dan Angkasa Bandung, 1997), Amsal sebuah Patung (Yayasan Gunungan, Yogyakarta, 1997), Antologi Puisi Makam (pusat Pengkajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu,Universitas Riau, Pekanbaru 1999), Antologi Puisi Jazirah Luka (Unri Pres, Pekanbaru 1999), Air Mata 1824 (Yayasan Pusaka Riau, Pekanbaru 2000), Resonansi Indonesia – Puisi dua bahasa Indonesia dan Mandarin (KSI, Jakarta 2000), Asia Throug Asian Eyes (CD-ROOM, Currikulum Corporation, Australia 2001), Dari Raja Ali Haji Ke Indragiri ( Panggung Melayu, Jakarta 2008 ).

Selain itu: Melautkan Aksara Dalam Perahu Kata (Dinas Kebudayaan Kesenian dan Pariwisata Propensi Riau, 2005), Menjaring Cakrawala (Komunikasi Puitik Dunia Maya: Penerbit Wahana Jaya Abadi, Bandung 2010), Akulah Musi (Antologi Puisi Pertemuan Penyair Nusantara. V, Palembang, 2011), Antologi Serumpun ( Dinas Kebudayaan Kesenian dan Pariwisata Propensi Riau, 2012), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI) Jambi 2012, Antologi Puisi Dua Bahasa enam Negara “Secangkir Kopi” (The Gayo Institute Aceh, 2013), Antologi Puisi “Serumpun” bersama penyair Brunai Darussalam, Malaysia, Indonesia, Singapura (Yayasan Panggung Melayu, 2015), Antologi Sonian Tiga Negara “Ombak Biru Semenanjung” (Kosa Kata Kita, Jakarta, 2016) The Universe Haiku Semesta (Pustaka Haikuku, 2016), 1000 Haiku Indonesia (Kosa Kata Kita, 2017), Antologi Puisi “Ayah Bangsa” (Rose Book, 2017), Antologi Puisi “Api” (Majalah Sastra Maya, 2017), Antologi Puisi Keempat “Kultur” (Sahabat Rose Book, 2018), Antologi Puisi Kebangsaan “Celoteh di Bawah Bendera” (Perkumpulan Rumah Seni Asnur, 2018), 1000 Haiku Indonesia Musim ke-4 (Kosa Kata Kita, 2018), Antologi Puisi 101 Penyair Nusantara “Marhaban Ya Ramadhan” (Perkumpulan Rumah Seni Asnur, 2018) dan beberapa antologi lainnya.

Kumpulan Puisi tunggalnya terkumpul dalam: Usia Yang Tertinggal (Batam Grafiti, 1996), Mengutip Makna Tamasya Purba (KBP, 2005), Ijab Kabul Pengantin ( FAM Publishing, 2012), 100 Sonian “Hujan Dini Hari” ( FAM Publishing 2016), Nikah Hari (Probi, 2016), “Memetik Cahaya” (FAM Publishing, 2017). Menerima Anugerah Pemangku Seni Tradisional bidang Sastra dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau, tahun 2014. Pemenang Puisi Terbaik dalam Antologi 1000 Puisi Guru Asean, tahun 2018.

Sekarang menetap di Tembilahan, Riau sebagai Pengawas Madrasah di lingkungan Kementerian Agama Kab Indragiri Hilir, Riau.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here