Kolaborasi Puisi dan Fotografi di Sastra Bulan Purnama

1
44

Sastra Bulan Purnama edisi 91, yang akan diselenggarakan Selasa 23 April 2019, pukul 19.30 di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta akan diisi peluncuran buku puisi fotografi karya Novi Indrastuti dan Harno Depe, yang berjudul ‘Tapak Jejak Peradaban’.

Kolaborasi puisi dan fotografi sudah beberapa kali dilakukan oleh Novi dan Harno. Keduanya seperti tidak mau memisahkan antara puisi dan fotografi. Bagi keduanya, fotografi mempunyai suasana puitis dan puisi mengandung visual fotografis. Novi Indrastuti sehari-harinya sebagai pengajar di jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM, dan Harno Dwi Pranowo, Guru Besar UGM dan mengajar di Fakultas MIPA UGM.

Peluncuran antologi puisi ini akan menampilkan tiga guru besar, selain Harno Dwi Pranowo, akan tampil Prof Dr Budi Wignyosoekarto, Guru Besar UGM dan Prof Dr RM Teguh Supriyanto, Guru Besar Unesa, Semarang. Tentu, Dr Novi Indrastuti, sebagai penyair akan tampil di awal sebelum para guru besar tampil membacakan puisi karyanya.

Harno Dwi Pranowo, foto dok Tembi
Harno Dwi Pranowo, foto dok Tembi

Selain itu akan tampil membaca puisi, Armansyah Prasakti,S.Not.,M.H. seorang notaris dan dari ISI Yogya, Prima Dona Hapsari, SPd.M.Hum, seorang pegiat museum RM Donny Surya Megananda akan ikut tampil membacakan puisi karya Novi Indrastuti.

Jadi, selain akan dibacakan tiga guru besar, puisi Novi Indrastuti akan dibacakan oleh para pembaca yang memiliki profesi berbeda. Selain itu, beberapa puisi Novi akan digarap menjadi lagu oleh Nyoto Yoyok dan Ana Ratri. Keduanya sudah sering pentas lagu puisi, tidak hanya di Sastra Bulan Purnama, tetapi di tempat-tempat lain, termasuk di luar kota. Bagi Yoyok dan Ana Ratri, puisi tidak hanya dibacakan, tetapi bisa diolah menjadi lagu, tetapi nuansa puisinya tidak hilang.

‘Setiap mengolah puisi menjadi lagu, saya berusaha menjaga agar puisinya tetap kental, dan lagunya tidak jatuh menjadi sejenis lagu pop,” ujar Nyoto Yoyok.

Novi dan Harno, keduanya memiliki kepekaan menangkap momentum puitis, hanya keduanya berbeda dalam merespon. Harno menangkap momentum melalui kamera dan Novi menuliskannya dalam bentuk puisi. Momentum puitis yang ditangkap oleh Novi dan Harno, dirajut menjadi satu buku puisi-fotografi dan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama.

Sebelumnya, Harno dan Novi menerbitkan buku sejenis di tahun 2018 dan diberi judul ‘Kepundan Kasih’. Dalam buku puisi-fotografi ini, Harno menyajikan foto-foto yang objeknya diambil di berbagai kota, tidak hanya di Yogya.

Nyoto Yoyok dan Ana Ratri, foto dok Tembi
Nyoto Yoyok dan Ana Ratri, foto dok Tembi

“Setiap kali saya pergi memang tidak lupa membawa kamera. Setiap momentum selalu akan saya bidik dari lensa kamera,” ujar Harno.

Sastra Bulan Purnama sudah berjalan lebih dari 7 tahun, selama ini memang mengutamakan peluncuran buku puisi. Penyair dari berbagai kota pernah tampil di Sastra Bulan Purnama meluncurkan buku puisi karyanya. Namun ada juga yang meluncurkan novel, seperti dilakukan Yudhistira Massardi dan Noorca Massardi, 20 Februari 2019, kedunya meluncurkan novel dalam judul yang bebeda. (*)

1 KOMENTAR

  1. Semangat terus Ibu Novi dan Bpk .Harno..persembahan indah bg negeri…Rekaman masa melibatkan mata dan hati…

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here