Pada bagian Rupadhatu terdapat sebuah relief yang menceritakan tentang kehidupan Budha Gautama. Relief tersebut dinamakan Lalitavistara. Relief tersebut menceritakan tentang biografi Budha Gautama dari awal kelahirannya di Lumbini Garden (Nepal). Ibu Sidharta bernama Maya Devi akhirnya meninggal tepat satu minggu setelah melahirkan Sidharta Gautama. Setelah beranjak dewasa Sidharta Gautama menikah dengan seorang putrid bernama Putri Gopa.

Pada suatu hari Sidharta keluar dari istana dan mendapati beberapa fenomena yang belum pernah dilihat sebelumnya, di antaranya adalah orang buta, orang sakit, orang yang meninggal, dan seorang pendeta. Setelah melihat fenomena-fenomena tersebut akhirnya Sidharta memutuskan untuk meninggalkan istana dan menjadi seorang pertapa (Wanaprasta).

Ketika menjadi seorang pertapa Sidharta menjadi pengikut beberapa guru terkenal, seperti Brahmapani, Rydraka, Arada Kapala serta lima pertapa terkenal lainnya. Sekalipun demikian, Sidharta tidak puas dengan apa yang telah diajarkan oleh para gurunya. Sidharta akhirnya memutuskan untuk bertapa di bawah Pohon Bodhi di Kota Bodh Gaya, India. Di tempat itulah ia mendapatkan pencerahan dan menjadi Bodhi. Sidharta kemudian merubah namanya menjadi Budha Gautama.

Salah satu relief di Candi Borobudur-Foto-A.Sartono

Bagian Rupadhatu di Candi Borobudur ini memiliki 432 area yang disebut Dyani Budha. Pada semua bagian candi, dari galeri paling bawah hingga paling atas terdapat Dyani Budha dengan sikap tangan yang berbeda-beda yang disebut dengan istilah Mudra. Mudra-mudra tersebut ialah Bhumi Sparsa Mudra dengan lokasi di relung Rupadhatu pada empat langkan pertama sisi timur. Makna dari Bhumi Sparsa Mudra adalah memanggil bumi untuk bersaksi/menyaksikan. Dyani Budha dengan sikap mudra demikian dinamakan Dyani Budha Aksobhya dan menempati arah mata angin di timur.

Sikap mudra berikutnya disebut Vara Mudra dengan lokasi di relung Rupadhatu pada empat langkan pertama sisi selatan. Makna dari Vara Mudra adalah kebajikan dan zakat. Dyani Budha dengan sikap tangan Vara Mudra dinamakan Dyani Budha Ratnasambawa dan menempati arah mata angin di selatan.

Sikap mudra berikutnya adalah Dyana Mudra dengan lokasi di relung Rupadhatu pada empat langkan pertama sisi barat.Makna dari Dyana Mudra adalah konsentrasi dan meditasi. Dyani Budha dengan sikap tangan Dyana Mudra dinamakan Dyani Budha Amithaba dan menempati arah mata angin di barat.

Arca singa di salah satu pintu masuk Candi Borobudur-Foto-A.Sartono

Sikap mudra berikutnya adalah Abhaya Mudra dengan lokasi di relung Rupadhatu pada empat langkap pertama sisi utara. Makna dari Abhaya Mudra adalah semangat dan keberanian, Dyani Budha dengan sikap tangan Abhaya Mudra dinamakan Dyani Budha Amogasiddhi dan menempati arah mata angin di utara.

Sikap mudra berikutnya adalah Vitarka Mudra dengan lokasi di relung Rupadhatu pada langkan kelima paling atas. Makna dari Vitarka Mudra adalah alasan dan kebajikan. Dyani Budha dengan sikap tangan Vitarka Mudra dinamakan Dyani Budha Vairochana dengan menempati arah mata angin di tengah.

Sikap mudra berikutnya adalah Dharma Chakra Mudra dengan lokasi di bagian Arupadhatu pada 72 stupa berlubang pada tiga platform bulat. Makna dari Dharma Chakra Mudra adalah memutar roda dharma (hukum). Dyani Budha dengan sikap tangan Dharma Chakra Mudra dinamakan Vairochana dengan menempati arah mata angin di tengah. (Selesai)

Sumber:
Borobudur, Inspirasi Warisan Bersejarah, Leaflet Oleh PT Taman Wisata Candi.
Pameran Terawang Borobudur di Jogja Gallery, Maret 2017.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here