Sekelompok anak muda Bali bergabung dalam Komunitas I_Pedalangan yang digagas oleh I Putu Gede Indra Parusha, dengan I Putu Ardiyasa. Komunitas tersebut didirikan pada bulan Januari 2016 di Denpasar, Bali. Mereka menggali, memelihara, dan mengembangkan seni pertunjukan wayang bersama seorang seniman dalang boneka gendong, I Gusti Made Aryana (sembroli); yang fokus menggeluti dunia seni pewayangan Bali Utara.

Di antara dalang yang ikut menyelenggarakan Komunitas ini, mereka juga bekerja sama dengan sekelompok dalang, meliputi I Kadek Bhaswara Dwitya, I Made Georgiana Triwinadi, I Putu Agus Widya Purnamia; bersama dua orang perancang boneka dan wayang yaitu I Kadek Jefri Wibowo dan I Putu Rekayasa. I_Pedalangan merupakan salah satu kelompok dari 14 Kelompok Seni Terpilih Program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia persembahan Bakti Budaya Djarum Foundation.

Pertunjukan ‘Klawu’ oleh I_Pedalangan, Foto Image Dinamic

Pada pertunjukan Minggu, 7 April 2019, di Galeri Indonesia Kaya, West Mall Grand Indonesia, Jakarta; I_Pedalangan membawakan Boneka Gendong sebagai bingkai cerita yang dikombinasikan dengan berbagai bentuk wayang yang ada di Bali yaitu Kayonan, Wayang Tapis, dan Wayang Kulit, ke dalam sebuah pertunjukan teater pakeliran (bunyian instrumental) bertajuk “Klawu”.

Klawu adalah abu-abu yang mempertanyakan kapan keabu-abuan itu akan berubah menjadi putih yang terang atau hitam yang pekat; karena warna putih dan hitam mulai pudar, semakin hari semakin tidak jelas dan menjadi klawu. Orang-orang mulai mempertanyakan kepastian langkah pemimpinnya. Klawu semakin jelas tampak menyamarkan suatu kepastian.

I_Pedalangan membawakan pertunjukan Klawu selama kurang lebih 60 menit. Mereka menyuguhkan nilai-nilai kesenian tradisi pewayangan Bali. Pertunjukan tersebut terinspirasi dari kisah hidup salah satu anggota mereka, yang lahir dari keluarga petani. Kehidupannya selalu dalam ruang pengekangan orangtua yang kerap berbeda pendapat. Suasana yang tidak nyaman itu membuatnya sering mencari kenyamanan di luar.

Pertunjukan ‘Klawu’ oleh I_Pedalangan, Foto Image Dinamic

“Berangkat dari hal tersebut akhirnya kami memutuskan untuk mengangkat kisah tersebut ke hadapan para penikmat seni. Dengan bantuan dari berbagai pihak seperti Bakti Budaya Djarum Foundation, Garin Nugroho, dan tentunya mentor kami Eko Supriyatno, akhirnya pertunjukan kami dapat terlaksana dengan baik sore hari ini. Semoga pertunjukan ini dapat menghibur dan diterima oleh para penikmat seni,” ujar I Putu Ardiyasa selaku pimpinan produksi dari Klawu, usai pertunjukan.

Pertunjukan tersebut menceritakan realita yang terjadi tentang perjuangan seseorang dalam mempertahankan prinsip kepedulian terhadap negara yang diawali dengan sumbangsih pemikiran kecil. Diceritakan juga, beberapa saat setelah berdirinya negara bambu runcing, warna putih mulai pudar. Semakin hari semakin tidak jelas, dan menjadi klawu (ketidakjelasan).

Eko Supriyanto selaku mentor dari I_Pedalangan mengatakan, melalui pertunjukan tersebut mengajak penikmat seni untuk memahami bentuk-bentuk wayang yang ada di Bali dan juga mengenalkan satu wayang yang menjadi ciri khas mereka yaitu wayang gendong. “Menarik rasanya bisa menjadi mentor dari kelompok I_Pedalangan, karena saya dapat menyaksikan kreativitas seniman muda di Bali yang berani mencoba mendekonstruksi beragam aspek dari pertunjukan tapi tentunya tanpa menghilangkan aspek tradisi yang sangat kental,” ujar Eko Supriyanto.

Pertunjukan ‘Klawu’ oleh I_Pedalangan, Foto Image Dinamic

Hingga saat ini, I-Pedalangan telah memproduksi 2 karya tunggal dan 1 karya kolaborasi seni pewayangan, yang ditampilkan pada Ubud Writters Festival 2017 (Kolaborasi dengan Papermoon Puppet Theatre), Pesta Boneka 2018 dan Bali shadow Festival Pamungkah 2019. Boneka Gendong yang diproduksi pertamakali pun telah dibawakan mereka ke pentas keliling Bali sepanjang tahun 2016, dengan format (bondres) bersama pemerintah Provinsi Bali.

I_Pedalangan percaya bahwa seken (bersungguh-sungguh), tulus (tulus), dadi (tercapai) akan menuntun mereka pada setiap panggung hidup seni, mendekatkan mereka dengan ruang-ruang masyarakat yang menghidupi seni. Melalui tiga hal tersebut mereka berharap bisa berbagi cerita dengan media seni teater pakeliran (dengan wayang) yang mengundang takjub, gelak tawa serta dapat memelihara keberlangsungan hubungan yang baik dengan alam sekitar, dan di dalam diri sendiri. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here