Puisi Sutirman Eka Ardhana

0
49

Tahun Baru

:2019

Hari-hari yang lewat
sudah kita ikhlaskan pergi
meski setumpuk harap masih tersimpan
di dalam tas yang tak sempat terbawa.
Kita sudah sepakat
langkah tak boleh berhenti
meski penunjuk jalan di depan tak terbaca
ke mana arah yang menjauhkan sunyi.
Ini sudah di tahun baru
tapi tujuan kita tetap yang dulu
membaca makna dibalik rahasia
dan misteri yang tak terduga.
Biarkan hari-hari kemarin pergi
membawa ceritanya sendiri.
Kita tetap melangkah sambil menunggu
sesuatu di sini.

1 Januari 2019

 

Wajah Di Cermin

Tahun telah berganti
tak lagi seperti yang lalu
sia-sia kau menahan
jejak kaki terbawa pergi.
Dan, cobalah tengok ke cermin
wajahmu masih juga penuh lebam
seperti kemarin.
“Melangkahlah. Melangkahlah terus.
Aku menunggumu!” ada suara, jauh
memintamu, menghilangkan bimbang.
Tapi jalanmu terantuk ragu.
Dan, wajahmu di cermin
tak mampu menghapus kelu.
Tahun telah berganti
membiarkan wajahmu
tertinggal di cermin.

2 Januari 2019

 

Ketika Tahun Berganti

Ketika tahun berganti
aku tahu kau sedang ingin menulis
di buku usang itu, tentang rencana
dan serangkai keinginan lama
yang tertunda.
Lalu, kau melirik ke sajadah dan kopiah
yang mulai memburam, terhimpit buku-buku.
Ada tas tua di dekatnya menggodamu,
dan kau pun berpikir untuk memasukkannya
di dalam tulisanmu.
Ketika kau akan mulai menulis
foto masa kecilmu, foto ayah ibumu
juga foto kampung halamanmu
mengingatkanmu lagi, agar tak lupa
menuliskan rindu.

3 Januari 2019

 

Memandang Wajah

Aku memang sedang berdiri
di depan cermin, ketika kau bilang:
“Sering-seringlah bercermin
agar tak lupa dengan guratan
wajahmu sendiri.”
Kau benar.
Aku memang sering menemukan
beragam wajah orang lain
di jalan-jalan, di pasar-pasar,
di kampung-kampung, di riuh,
di senyap.
Bahkan, di rumah sendiri
wajahku pun pergi
entah ke mana.
Aku memang sedang berdiri
di depan cermin, memandang wajahku
sendiri. Memandang dalam-dalam,
agar besok, lusa atau kapan pun
aku bisa selalu membawanya
dalam ingatan.
Aku memang sedang berdiri
di depan cermin, meyakinkan diri
itu memang wajahku
sendiri.

5 Januari 2019

 

Tentang Perjalanan

Sebut saja ini terminal
tempat untuk melanjutkan perjalanan
ke tujuan berikutnya. Mungkin kota,
kampung, pantai, atau hamparan
angan tak berbatas.
Seperti katamu, hidup itu
memang perjalanan yang panjang.
Dan, aku sudah berjalan dari waktu
ke waktu, dari tahun ke tahun.
Dari harap ke harap, dari riuh
ke riuh. Dari senyap
ke senyap. Cemas
ke cemas.
Sebut saja ini terminal
tempat untuk wujudkan rencana
yang sudah tercatat, dalam buku
ke buku.
Seperti katamu, perjalanan itu
perlu persiapan bekal.
Tapi bekalku masih tertinggal
di dalam tas.

6 Januari 2019

 

Sutirman Eka Ardhana, lahir di Bengkalis, Riau, 27 September 1952. Sejak 1972 ia menetap di Yogyakarta. Mulai belajar menulis puisi sejak di bangku SMP. Selain puisi juga menulis cerpen, dan novel. Karya-karyanya yang sudah terbit di antaranya novel Surau Tercinta (Navila, 2002), Dendang Penari (Gita Nagari, 2003), Gelisah Cinta (Binar Press, 2005), Sang Pramuria (Hanindita, 2005), Maaf Aku Terpaksa Jadi Pelacur (EDSA Mahkota, 2005), kumpulan cerpen Langit Biru Bengkalis (2010), kumpulan puisi Risau (Pabrik tulisan, 1976), Emas Kawin (Renas, 1979), Malioboro 2057 (Interlude, 2016). Dan, puisi-puisinya juga terhimpun pada sejumlah antologi puisi di antaranya Tugu, Dermaga I,Dermaga II, Merapi Gugat (2011), Kitab Radja-Ratoe Alit (2011), Suluk Mataram (2012), Satu Kata Istimewa (2012), Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia (2012), Suara-suara Yang Terpinggirkan (2012), Dari Negeri Poci 4 – Negeri Abal-Abal (2013), Lintang Panjer Wengi di Langit Yogya, Dari Negeri Poci 5 – Negeri Langit (2014), Dari Negeri Poci 6 – Negeri Laut (2015), Pesta Puisi Rakyat Sleman (2015), Jalan Remang Kesaksian (2015) dan Semesta Wayang (2015). Kini dipercaya menjadi pengajar di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY).

Selain itu, sejak 1974 telah menggeluti dunia jurnalistik di antaranya: Wartawan – redaktur Harian “BeritaNasional” Yogyakarta (1974-1986), Redaktur Harian “Kedaulatan Rakyat” Yogyakarta (1986-1989), Redaktur Harian Pagi “Yogya Post” (1989-1992), Wakil Pemimpin Redaksi majalah anak-anak “Putera Kita” dan redaktur Majalah Komik “Dela” yang terbit di Jakarta (1994-1995), Wakil Pemimpin Redaksi Harian Sore “Yogya Post” (1995-1998), Pemimpin Redaksi Harian “Gelanggang Rakyat” (1998), Pemimpin Redaksi Harian “Malioboro Pos” (1999), Pemimpin Redaksi “Koran Rakyat Malioboro” (2000), Pemimpin Redaksi Tabloid “Tidar” (2001), Pemimpin Redaksi Mingguan “MagelangPos” (2003-2005), Wakil Pemimpin Redaksi Tabloid “JOGLO” Klaten (2004-2005), Pemimpin Redaksi “Malioboro Ekspres” (2008 – ), kini menjadi redaktur “Majalah Sabana”.

Kesibukan lain, Ketua Komisi Lansia Kelurahan Tegalpanggung, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta (2016-2019). Menikah dengan Indria Purnamawati pada 17 September 1979.
Dia punya dua orang putri. Ayu Bunga Indriyana dan Ratna Wulan Andriani. Dan, kini punya satu cucu, Fairuz Elang Permana (5 tahun). Kini tinggal di Tegalpanggung DN 2/895, Yogyakarta. No. Hp: 08174110346. Email: [email protected]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here