Selama ini acara jagong manten atau resepsi pengantin mungkin memang banyak yang dimeriahkan dengan pentas seni pertunjukan (musik, tari, dagelan, dan lain-lain). Akan tetapi resepsi pengantin yang dimeriahkan dengan pembukaan pameran seni rupa boleh dikatakan belum pernah ada. Namun itulah yang dilakukan keluarga Godod Suteja, seorang seniman kawakan Yogyakarta kelahiran Wonogiri.

Pameran seni rupa itu pun ia beri bingkai tema Njagong Manten Godod’s-Atik Mantu. Bingkai tema yang ia sesuaikan dengan perhelatan besarnya, menikahkan anak sulung yang bernama As Truti Ahingani S Ant (Uni) yang dipersunting oleh Nussetyo Priambodo Wartono (Tyo). Akad nikah pengantin dilaksanakan hari Minggu Pon, 24 Maret 2019 pukul 08.00 WIB di Pendapa Art Space, Yogyakarta. Sedangkan resepsi syukuran yang dimeriahkan dengan pembukaan pameran seni rupa dilaksanakan hari Minggu Pon, 24 Maret 2019 pukul 19.00 WIB di tempat yang sama.

Suasana pembukaan pameran seni rupa Njagong Manten Godod-Atik Mantu-Foto-A.Sartono

Apa yang dilakukan oleh Godod ini tidak urung membuat banyak orang terperangah, takjub, sekaligus senang. Bagi para seniman hal itu kemudian menimbulkan inspirasi bahwa ternyata perhelatan pengantinan bisa juga dipadukan dengan perhelatan pameran seni rupa. Prof Dr Wiendu Nuryanti yang didaulat untuk membuka acara pameran seni rupa ini menyatakan bahwa jika orang mulai berpikir untuk memeriahkan perhelatan pengantin dengan acara seperti yang Godod lakukan, bisa diharapkan bahwa iklim berkesenian kita akan semakin meriah dan maju.

Selain pameran ini membawa suasana meriah, sekaligus juga memberi ruang pada para pengunjung untuk bersantai sejenak daripada berjubelan di ruang makan. Pada sisi ini pula tamu yang selama ini tidak pernah bersinggungan dengan dunia seni rupa mau tidak mau harus melihat, minimal meliriknya karena jalan utama menuju pelaminan pengantin dan ruang makan tamu harus melewati ruang pamer. Dengan demikian, aspek edukasi dan apresiasi akan seni rupa menjadi terbangun, baik secara langsung maupun tidak.

Godod mengantarkan Wiendu Nuryanti menikmati pameran-Foto-A.Sartono

Edukasi akan apresiasi seni kadang memang tidak bisa ditawarkan seperti iklan atau pelajaran di sekolah. Dengan perhelatan semacam ini aspek edukasi dan apresiasi itu dengan sendirinya hadir dan mungkin juga memberi efek kejut bagi mereka yang tidak pernah bersinggungan dengan dunia seni rupa. Pada sisi ini Godod menunjukkan letupan gagasannya yang menarik.

Bagian dari seni tosan aji yang dipamerkan dalam acara Pameran Seni Rupa Njagong Manten Godod-Atik Mantu-Foto-A.Sartono

Dampak lain dari acara ini adalah bahwa semua seniman yang terlibat dalam pameran akan merasa lebih senang, bukan saja karena menyambut perhelatan pernikahan yang dilakukan Godod pada putrinya, namun juga karena karya-karya seniman tersebut ikut terlibat dan dilibatkan dalam perhelatan. Persoalan karya-karya itu kemudian dikoleksi orang atau tidak, itu hal lain. Namun hadirnya karya-karya itu dalam perhelatan pernikahan, mempunyai makna lain. Edukasi, apresiasi, dan eksistensi dari karya tersebut menyasar tidak saja pada para pemerhati seni, namun bahkan juga awam yang selama ini tidak pernah bersinggungan dengan dunia seni (rupa). (*)

2 KOMENTAR

  1. Matur nuwun atas ulasan mantunya mas Godod Sutedjo.. keren sanget. Ini akan membuka wawasan banyak orang ttg bentuk lain dr permantuan . Terima kasih

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here