Sepasang tebu yang didandani atau dihias bak pengantin dikirab mengelilingi kompleks Pabrik Gula Madukismo di Dusun Padokan, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, pada Kamis 4 April 2019. Kirab dilaksanakan mulai jam 13.00 WIB.

Sepasang tebu pengantin tersebut dinamakan Kyai Sukro dan Nyai Kasih. Kyai Sukro merupakan tebu yang dipilih di lahan pertanian di Magelang sedangkan Nyai Kasih merupakan tebu yang dipilih di lahan pertanian Sedayu, Bantul. Ketika kirab sampai di Masjid An Nur, maka sepasang pengantin tersebut diijab atau dinikahkan layaknya pengantin manusia.

Kirab kemudian dilanjutkan hingga sampai di halaman Unit Giling. Di tempat inilah sepasang pengantin tebu tersebut diserahterimakan oleh Yuda Eko Yuwono selaku wakil dari petani dan pengelola pertanian tebu dengan mahar 5 juta rupiah. Pengantin tebu diterima Eko Sudrajat mewakili pabrik dan unit giling. Usai itu, pengantin ditempatkan di mulut mesin giling sebagai “cucuk lampah” atau sebagai yang pertama untuk digiling. Itulah prosesi Tebu Pengantin yang selalu dilaksanakan oleh PG Madukismo, Bantul untuk mengawali kegiatan giling-sulingnya.

Sepasang Tebu Manten siap dikirab mengawali masa giling-suling PG Madukismo-Foto-A.Sartono

Beberapa hari sebelum acara kirab itu pihak PG Madukismo telah melakukan kegiatan lain untuk mengawali saat giling-sulingnya dengan berbagai acara, di antaranya “ancak-ancak tumpeng sewu” yang disebarkan di sekitar kompleks pabrik. Selain itu, pemberian sembako kepada kaum duafa dan tenaga kerja. Acara dilanjutkan dengan pementasan wayang kulit di Pantai Parangkusumo, Kamis malam, 28 Februari 2019.

Kemeriahan kirab Tebu Manten di kompleks PG Madukismo Bantul-Foto-A.Sartono

Pada tanggal 4 dan 6 Maret juga dilaksanakan acara ziarah ke Makam Ki Ageng Giring di Gunung Kidul, Makam Raja-raja di Imogiri, dan Makam Kota Gede. Ziarah dan selamatan juga dilaksanakan di makam paa pendahulu PG Madukismo. Ada pula acara pasar malam yang dilaksanakan mulai 23 Maret – 5 April 2019. Semua acara yang mengawali masa giling-suling ini dikenal dengan tradisi Cembengan.

Konten Terkait:  Mata Waktu, Tangkapan Oscar Motuloh atas Kematian dan Tragedi Melalui Karya Foto

Kirab Tebu Manten bisa dikatakan sebagai puncak dari seluruh acara cembengan yang sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat. Kemeriahan kirab dan tampilan Tebu Manten yang unik menarik minat masyarakat dan wisatawan untuk menyaksikannya. Tidak pelak saat acara ini dilaksanakan, maka hampir seluruh ruas jalan di sekitar PG Madukismo macet total.

Dra H Sunarto SH MM, Staf Ahli Bupati Bantul melaksanakan penanaman kepala kerbau di PG Madukismo-Foto-A.Sartono

Keseluruhan acara ini di samping memberikan hiburan dan kegembiraan pada warga masyarakat, juga menjadi salah satu cara untuk bersyukur dan mohon berkat serta rahmat dari Tuhan agar seluruh proses giling-suling PG Madukismo berjalan lancar, aman, sukses, dan mendapatkan keuntungan besar untuk kesejahteraan bersama.

Upacara serah terima Tebu Manten di depan unit giling PG Madukismo-Foto-A.Sartono

Kelengkapan acara serah terima Tebu Manten itu terdiri dari Pembukaan, Serah Terima Tebu Manten, Doa Bersama, Menanam Kepala Kerbau di depan unit giling, dan penutup. Acara ini dihadiri oleh segenap pimpinan dan karyawan PG Madukismo, komisaris, pemegang saham, perwakilan petani dan pengelola pertanian tebu, Muspika Kecamatan Kasihan, segenap tamu undangan, dan para wartawan dari media cetak maupun elektronik. Waktu atau pelaksanaan giling-suling direncanakan pada tanggal 26 April 2019. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here