Para perupa asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengumandangkan semangat untuk bangkit lewat gelaran pameran seni rupa yang bertajuk ‘Ures’. Dalam bahasa Lombok, ures berarti bangkit. Lombok dilanda gempa dahsyat pada Juli dan Agustus 2018. Kemudian pada Maret tahun ini, gempa kembali mengusik Lombok meski tidak sebesar sebelumnya.

Tajuk ‘Ures’ secara umum berangkat dari kondisi masyarakat Lombok pasca gempa. Sedangkan secara khusus menjadi picuan semangat bagi perupa Lombok untuk terus maju dan berkembang dalam dunia seni rupa.

Pameran yang berlangsung pada 27 Maret – 14 April di Tembi Rumah Budaya ini diselenggarakan oleh Sak-Art, komunitas perupa Lombok di Yogyakarta. Mereka berasal dari jurusan seni rupa di tiga perguruan tinggi, yakni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). Karenanya sebagian besar adalah mahasiswa.

Ade Dinus, ‘Resurrection’, acrilyc on canvas, 100×120 cm, 2019 – Foto Barata

Pameran kali ini menampilkan karya 15 perupa dari tiga perguruan tinggi tersebut. Yang menarik, jenisnya beragam, mulai dari lukisan, grafis sampai patung. Medianya pun beraneka. Di atas kanvas, selain seperti biasanya cat akrilik dan cat minyak, ada pastel. Di atas kertas, ada cat air, MDF (medium density fibreboard) dan mix media. Lantas ada satu patung kecil yang terbuat dari serpihan tanduk rusa. Di bagian atasnya yang berukuran sangat kecil, wajah manusia dipahat oleh mahasiswa ISI Yogyakarta Zul Hadi.

Ahmad Yani, mahasiswa UST angkatan 2013, mengangkat eksistensi petani dengan cukil kayu pada MDF di atas kertas. Dalam komposisi simetris yang mengesankan keharmonian. Tiga karya Yani lebih menonjolkan apresiasi terhadap kerja petani saat menyangkul, menanam padi, dan memanen padi. Petani ditampilkan karena, menurut Yani, sebagian besar penduduk Lombok adalah petani.

Karya-karya lainnya banyak melemparkan kritik sosial, terutama dalam konteks modernisasi. Fauzi Arizona, mahasiswa UST angkatan 2015, memvisualkan gelas yang pecah dengan serpihan kaca lukisan dan kaca betulan. Airnya yang berwarna merah mencuat di sela-sela awan putih, bepercikan keluar dari gelas anggur, yang berdiri di atas tanah retak. Alfian Diakbar, mahasiswa UST angkatan 2016, menyoroti dampak lingkungan di laut dengan memvisualkan kepala bermasker berlatar laut biru.

Ahmad Yani, ‘Menanam Padi’, MDF on paper, 45×55 cm, 2019 – Foto Barata

Ade Dinus, mahasiswa UST angkatan 2015 memajang lukisan yang kental dengan metaforis berlapis dan mendalam. Lukisan surealis berjudul ‘Resurrection’ ini menampilkan seseorang berwajah semesta melepas topengnya yang menyimpan tanaman plastik warna-warni, separuh tubuhnya tenggelam di tanah yang menyisakan kepala patung Liberty yang rubuh dan pecah.

Fauzi Arizona, ‘Untitled’, acrilyc on canvas, 60×80 cm, 2017 – Foto Barata

Berbagai gaya bisa kita nikmati pada pameran ini. Mungkin karena modal akademis para perupanya sehingga bisa lebih leluasa memilih gaya dan media. Gaya satiris deformatif dipakai Saparul Anwar, M. Syarif dan Royan yang menyindir para elite politik. Imam Satriawan menghasilkan pamflet bergaya naif.

Konten Terkait:  Slank Rajut Persatuan dan Kesatuan Lewat Silaturahmi Pesantren

Atak Lalu memakai mix media fotografi yang ekspresif. Tia Sofiana bersetia dengan gaya realis yang mementingkan ekspresi wajah. Nufus juga menghadirkan ayam jago secara realis, namun kuat menyangatkan keperkasaannya berlatar matahari dan awan. Sopianos menggunakan pastel di atas kertas. Media karya Bus sama dengan Ahmad Yani, cukil kayu pada MDF di atas kertas. Huda Tullah bermain dengan imajinasi komposisi bentuk dan warna yang mengesankan..

Menurut Saparul Anwar, yang akrab dipanggil Phalonk, Sak-Art didirikan pada 18 Maret 2014. Jadi usianya sudah lima tahun. Phalonk, alumni ISI Yogyakarta angkatan 2011, masih terus terlibat dalam Sak-Art, bahkan menjadi salah satu motor penggeraknya.

Atak Lalu, ‘Jenuh’, mix media on paper, 30×40 cm (4 panel), 2019 – Foto Barata

Para perupa yang telah lulus kuliah ada yang masih tinggal di Yogya, ada pula yang pulang ke Lombok. Karenanya, jumlah anggota Sak-Art berubah-ubah, tahun ini sekitar 35 orang. Selain Phalonk, ada pula penggerak lain yang masih aktif, yakni Wisnu Aji, alumni UNY angkatan 2009.

Program Sak-Art agaknya dirasakan bermanfaat bagi para anggotanya. Selain pameran di Yogya dan Lombok sebanyak 2-3 kali setiap tahun, mereka juga rajin mengunjungi studio seniman di Yogya. Selain itu, para anggotanya ikut terlibat dalam workshop dan diskusi di Vandhezz Institute, milik Dipo Andy, perupa kondang asal Lombok.

Dipo dikenal sebagai seniman yang peduli terhadap perkembangan perupa asal NTB. Dia rajin mendampingi dan membagi pengetahuannya lewat workshop dan diskusi yang diadakan dua minggu sekali di rumah sekaligus studionya di Dusun Pandes, Pleret.

Tia Sofiana, ‘LOL’, water colour on paper, 60×80 cm, 2019 – Foto Barata

Yang menarik kegiatan pameran tidak sekadar apa adanya, tapi direncanakan dengan serius. Menurut Aji, dalam masa persiapan selama sekitar 3 bulan, dilakukan pencatatan tema yang kemudian dibahas dan dipilih. Setelah tema ditetapkan, para anggota diminta melakukan riset atau pendalaman tentang tema tersebut, baik di Yogya maupun saat pulang kampung di Lombok. Setiap ide dan penciptaan karya dari masing-masing perupa kemudian dipresentasikan oleh perupa yang bersangkutan, dan dibahas bersama.

Pameran ‘Ures’ ini menyumbangkan sebagian penghasilan penjualan karya yang dipamerkan untuk korban gempa. Tahun lalu, pada pasca gempa di Lombok, Sak-Art juga melakukan trauma healing bagi para korban gempa.

Semoga Sak-Art bisa terus bertahan dan berkembang sebagai wadah komunitas perupa Lombok, sebagaimana juga komunitas perupa Sakato dari Sumatera Barat dan Sanggar Dewata Indonesia dari Bali yang masih berkibar kencang. Kehadiran komunitas semacam ini efektif sebagai sarana peningkatan kualitas seniman secara berkesinambungan. Kesamaan etnis menjadi pengikat alami meski tetap mempertahankan keterbukaan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here