Sebuah museum baru hadir di wilayah Bantul, DIY, yaitu Museum History of Java (HOJ). Museum tersebut terletak di Jalan Parangtiritis Km 5,5 wilayah Kecamatan Sewon, Bantul. Museum menempati bangunan lawas yang berbentuk piramid. Hadirnya museum baru ini menambah jumlah museum-museum di Bantul, yang sebelumnya sudah mencapai 17 museum.

Sekarang Museum HOJ telah menjadi anggota Forum Komunikasi Museum Bantul (FKMB) yang setiap bulan menggelar ajang pertemuan dan silaturahmi ke berbagai museum anggotanya. Ajang pertemuan dan silaturahmi museum FKMB Bantul bulan Maret lalu berlangsung di Museum HOJ. Dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh pengurus museum-museum di Bantul, seperti Museum Suharto, Museum Tembi Rumah Budaya, Museum Wayang Beber, Museum Wayang Kekayon, Museum Tani Jawa, dan lainnya serta dari Dinas Kebudayaan Bantul.

Para pengunjung bermain gamelan Jawa dengan backdrop orang menari di Museum HOJ Bantul-foto-Suwandi

Dalam acara pertemuan dan silaturahmi FKMB di Museum HOJ, selain membahas tentang kegiatan-kegiatan museum, anggota museum juga diajak berkeliling melihat-lihat koleksi di Museum HOJ. Sesuai dengan namanya, museum ini banyak mengoleksi benda-benda kuno yang berkaitan dengan sejarah masyarakat Jawa dari setiap periode.

Pengunjung mencoba menjadi dalang wayang kulit di Museum HOJ Bantul-foto-Suwandi

Ada ratusan koleksi, seperti kapak mewakili masyarakat pra aksara, arca logam mewakili zaman Hindu Budha hingga wayang kulit mewakil zaman Islam. Namun sebelum memasuki ruang koleksi, para pengelola museum di Bantul dibawa ke sebuah ruangan untuk menonton film pendek tentang terjadinya Pulau Jawa dan sejarah para penghuni Pulau Jawa. Film itu menggunakan teknologi nformasi modern. Selain itu di ruangan ini, para pengunjung yang membawa hape Android bisa mengakses programnya museum ini lewat fitur piramid.

Para pengunjung menikmati fitur piramid di Museum HOJ Bantul-foto-Suwandi
Para pengunjung melihat koleksi di Museum HOJ Bantul-foto-Suwandi

Para pengunjung selain bisa melihat ratusan koleksi museum HOJ, juga bisa berswafoto di ruangan yang khusus menyajikan backdrop-backdrop besar yang menggambarkan budaya Jawa, seperti foto grebeg, foto menari, prosesi keliling dengan kereta keraton, dan lainnya. Di tempat ini juga disajikan gamelan Jawa, sehingga pengunjung bisa ber-acting menabuh gamelan sambil menggunakan kostum Jawa dan berlatar gambar para penari.

Pengunjung juga bisa mencoba mendalang di ruangan pagelaran wayang, seolah-olah menjadi dalang. Sebelum keluar ruangan museum, disuguhkan pertunjukan wayang China yang menampilkan lakon Sampek Ingtay. Lalu pengunjung dibawa ke halaman belakang melihat bangunan-bangunan baru tetapi dibuat model lama yang menggambarkan nuansa Malioboro. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here